Webinar UNPAR: Pasar B2B Optimalkan Sektor Retail dan UMKM Indonesia

UNPAR.AC.ID, Bandung – Isu pascapandemi Covid-19 tidak dimungkiri berpengaruh terhadap berbagai macam aspek, kondisi ekonomi yang memerlukan perbaikan menjadi isu yang mencuat pada masa global sekarang. Sebesar 12.9% ekonomi terbesar di dunia ditopang dari sektor retail. Dimana retail sendiri adalah garda terdepan dari konsumsi yang sangat berkaitan dengan sandang dan pangan.

Pada masa yang akan datang, retail akan sejalan dengan pertumbuhan digital, teknologi, dan internet di suatu negara. Akan tetapi masyarakat Indonesia kebanyakan belum bisa merasakan manfaat dari teknologi untuk kemajuan dari pendapatan dan hidup mereka (bisnis).

Hal tersebut mengemuka pada webinar Financial Planning For Millennials atas kerja sama Ikatan Alumni Teknik Industri (IATI) Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknik Industri (HMPSTI) UNPAR, serta Ikatan Alumni UNPAR yang bertajuk “Economic improvement for the better future” pada Sabtu (23/10/2021) lalu. Acara tersebut mengundang Derry Holyus Andreas Sakti selaku Co-Founder Ula, Michael Tjoajadi selaku CEO PT. Schroder Management Investment Indonesia, Renny Raharja selaku Executive Vice President, Intermediary Business Schroders Indonesia, serta Zabrina Raissa selaku Head of Online Trading Ciptadana Sekuritas Asia.

Derry mengatakan, kehadiran Business to Business (B2B) mendukung pelaku retail offline yang masih bergantung dengan toko fisik, dan masih bergantung dengan proses manual. Melalui B2B, pelaku retail offline tersebut dapat didukung melalui digitalisasi.

Ula adalah platform e-commerce B2B yang menyediakan dukungan pasokan barang dagangan, modal, dan pendapatan untuk retail tradisional di Indonesia dan Asia Tenggara.

“Harapan kami, UMKM atau retail ini bisa juga lebih besar dan baik lagi dalam memenuhi kebutuhan hari-hari konsumen,” ucapnya.

Pasar retail Asia Tenggara berkontribusi USD 800 miliar, dengan UDD 300 miliar atau hampir 40 persen berasal dari Indonesia. Retail, lanjut dia,  akan sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan digital teknologi serta internet di negara setempat.

“Di Indonesia sudah lebih 80 persen penetrasi dari internet, smartphone, dimana sektor lainnya seperti entertainment komunikasi sudah merasakan dampaknya. Tapi kebanyakan belum bisa merasakan manfaat teknologi untuk kemajuan dan pendapatan hidup mereka. Itu yang menjadi gap, menjadi masalah besar,” tutur Derry.

Pasar retail Indonesia sebesar USD 300 miliar itu berkontribusi 13 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) 2020 , dan 70-80 persen di antaranya adalah retail tradisional (UMKM).

“Di Indonesia sendiri sebenarnya retail itu urutan ketiga penopang dari ekonomi terbesar. sekitar 13 persen berkontribusi terhadap PDB 2020,” ujar Derry.

Dia mengungkapkan, ritek tradisional memiliki bisnis efisien, namun mengalami banyak hambatan terutama sejak adanya pandemi Covid-19.

Dia merinci ada 3 hal yang menjadi masalah bisnis retail tradisional (UMKM).

Pertama persoalan pasokan. Dalam hal ini supply barang yang tidak efisien-banyak supplier, terfragmentasi, dan pilihan item terbatas; selanjutnya masalah logistik (pengiriman yang tidak dapat diandalkan); dan  visibilitas harga yang rendah.

Kedua, arus kas. Mulai dari modal kerja terbatas dan kondisi kredit yang rumit hingga penurunan pendapat. Persoalan ketiga yaitu ketidakpastian terhadap permintaan barang. Dalam hal ini, pelanggan yang lebih berhati-hati dalam berbelanja dan peningkatan tabungan untuk dana darurat.

Menurut dia, Covid-19 telah mempercepat digitalisasi pada UMKM, juga mendukung pertumbuhan Ula. Sebelum Covid-19, lanjut dia, 80 persen pelanggan merasa tidak nyaman untuk memesan melalui aplikasi. Namun selama Covid-19, berbelanja barang dagangan menjadi semakin sulit selama Covid-19. Tantangannya dalam memasok barang, mulai dari risiko terpapar Covid-19 saat berbelanja, jam buka yang terbatas, dan pembatasan mobilisasi yang membuat jalanan ditutup.

Ula, lanjut dia, berusaha membantu UMKM untuk mengatasi hal itu. Tujuannya adalah Ula bisa memastikan bahwa keakurasian dari service berupa ketersediaan barang itu bisa dirasakan manfaatnya oleh semua UMKM.

“Kami sebagai pelaku digital bisa lebih banyak berkontribusi ke lebih banyak toko dan mereka bisa lebih langsung merasakan manfaatnya lebih nyata,” ucapnnya.

Digitalisasi pun dinilai bukan lagi hal yang mewah melainkan kebutuhan untuk berkembang. Digitalisasi memiliki dampak positif yang signifikan dan bertahan lama pada ekonomi UMKM.

Digitalisasi sangat berperan seperti di era pandemi Covid=19. Dimana ketika Covid, banyak jalan ditutup, banyak peraturan termasuk PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat),, pada akhirnya masyarakat sulit untuk belanja dan dipaksa untuk mencari alternatif lain.

“Dan akhirnya digital ini bisa menjadi solusi dan alternatif bagi mereka,” tutur Derry.

Dia menyimpulkan, digitalisasi sangat berperan terhadap sektor retail yang notabene kebanyakan tradisional.

“Yang pertama, pastinya mereka enggak perlu repot, mereka enggak perlu takut untuk punya risiko, apalagi khususnya di masa pandemi seperti sekarang ini. Karena mereka punya akses terhadap visibilitas barang, mereka bisa punya perhitungan yang lebih baik. Mereka mungkin bisa mendapat keuntungan yang lebih besar. Karena kami juga bisa menghubungkan dengan pemilik brand dan mereka juga bisa punya perputaran keuangan yang lebih efisien lagi,” ucapnya.

Menutup pemaparannya, Derry mengajak untuk dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan retail tradisional dan ekonomi di Indonesia.

“Sesimpel kita beli barang kebutuhan sehari-hari di warung. Enggak harus di online atau supermarket, tapi kalau ada warung terdekat, itu bisa beli kesana,” katanya.

Selain webinar, acara dilanjutkan dan ditutup dengan talkshow  bersama Ellen May selaku Founder dan CEO Emtrade yang dipandu oleh Catharina Badra Nawangpalupi, PhD., selaku ketua Pusat Studi Sistem Enterprise Teknik Industri UNPAR. (RAM-Humkoler UNPAR)

Berita Terkini

Menilik Ihwal Ekonomi Kesejahteraan dari Perspektif Amartya Sen

Menilik Ihwal Ekonomi Kesejahteraan dari Perspektif Amartya Sen

UNPAR.AC.ID, Bandung – Dewasa ini, kesejahteraan ekonomi merupakan hal yang masih sulit untuk dicapai. Faktor utama dari kesejahteraan bukan lagi berbicara mengenai ekonomi semata, lebih jauh lagi berbicara mengenai kemanusiaan dan hal tersebut harus dapat diukur. ...

Panitia Seleksi Umumkan 6 Bakal Calon Rektor UNPAR Masa Bakti 2023-2027

Panitia Seleksi Umumkan 6 Bakal Calon Rektor UNPAR Masa Bakti 2023-2027

UNPAR.AC.ID, Bandung – Panitia Proses Seleksi Rektor Universitas Katolik Parahyangan mengumumkan 6 nama Bakal Calon Rektor UNPAR masa bakti 2023-2027 di Selasar Multifungsi Pusat Pembelajaran Arntz-Geise UNPAR, Kamis (26/1/2023). Dari 10 Pelamar Bakal Calon Rektor, 6...

Kontak Media

Divisi Humas & Protokoler

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Oct 26, 2021

X