Home / Berita Terkini / Webinar Administrasi Bisnis Bahas Pemberdayaan UMKM melalui Komunitas dan Teknologi

Webinar Administrasi Bisnis Bahas Pemberdayaan UMKM melalui Komunitas dan Teknologi

Jurusan Administrasi Bisnis Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menggelar webinar bertajuk “Empowering Small Medium Enterprise Business through Community and Technology” pada Jumat, (8/5/2020). Acara mengundang lulusan Administrasi Publik Unpar 2016, Vander Lesnussa (Operation Manager Merchant, Warung Pintar) sebagai pembicara. 

Webinar ini merupakan salah satu rangkaian acara “Webinar Series Unlocking Skill” yang digarap oleh Administrasi Bisnis Unpar. Rangkaian webinar bertujuan untuk mengembangkan keahlian peserta yang berfokus ke bisnis dengan mengangkat topik-topik menarik, seperti teknologi, e-commerce, kesehatan dan hobi menguntungkan sambil menyikapi keadaan saat ini. Webinar ini dibagi menjadi tiga sesi, yakni sharing pengalaman alumni oleh Vander selama menggeluti karir di Warung Pintar, latar belakang permasalahan perkembangan Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM) di Indonesia, dan studi kasus Warung Pintar dalam mengatasi permasalahan tersebut.

Dalam presentasinya, Vander menjelaskan mengenai latar belakang dari keadaan UMKM di Indonesia. Indonesia merupakan negara dengan hampir 70%-nya masuk ke dalam  kategori grassroot dan 30% lainnya merupakan kelas menengah. Seiring perkembangan zaman yang menunjukkan adanya peningkatan dalam penggunaan smartphone dan internet, konsumerisme Indonesia dalam transaksi online turut meningkat secara signifikan di setiap tahunnya. 

Keadaan tersebut memberikan potensi lebih bagi UMKM di Indonesia, khususnya warung-warung yang kebanyakan lahir di dalam komunitas grassroot untuk mengembangkan bisnisnya. Namun potensi tersebut tidak diiringi dengan pertumbuhan bisnis yang memadai. Terdapat gap yang membuat UMKM di Indonesia sulit untuk tumbuh dikarenakan ketidakmampuan pemilik warung untuk melihat masalah dan mencari solusinya. “Padahal potensinya besar sekali, bahkan lagi kondisi COVID-19 pun warung-warung, yang menjadi salah satu sektor yang masuk ke dalam pengecualian PSBB pemerintah, masih menjadi tombak utama bagi kebutuhan masyarakat,” tutur Vander.  

Kemudian Vander menjelaskan bahwa akar permasalahan bagi UMKM di Indonesia adalah tidak meratanya infrastruktur untuk mengakses teknologi dan edukasi yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi di era serba digital ini. Hal tersebut menciptakan tiga hambatan bagi perkembangan UMKM di Indonesia. Pertama, operasi bisnis yang tidak transparan menyulitkan pemilik usaha untuk mengevaluasi performa dagang seperti pemasukan atau utang piutang secara efektif. Kedua, rantai distribusi yang panjang dan berlapis membuat UMKM sulit untuk menetapkan harga yang kompetitif. Terakhir, pemilik usaha sulit untuk melakukan prediksi perdagangan karena ketidakpastian stok barang. 

Vander melihat pemberdayaan masyarakat harus dimulai dari usaha kecil seperti warung. Sebagai sebuah bisnis mikro, warung tidak hanya tempat untuk bertransaksi jual beli barang, tetapi juga menjadi tempat berkumpul sederhana, atau disebut juga tempat nongkrong bagi anggota komunitas untuk berinteraksi, bertukar pemikiran, bahkan memulai gerakan. “Kita percaya kalau warung itu tepat untuk dimodernisasi, karena hingga saat ini masih hangat dan erat kaitannya dengan masyarakat Indonesia,” ungkap Vander.

Peserta diajak untuk memahami konsep pendekatan sosiokultural untuk memberdayakan bisnis mikro dengan menggunakan Warung Pintar sebagai studi kasus. Warung Pintar merupakan perusahaan teknologi yang berfokus untuk mentransformasi dan mendigitalisasi bisnis mikro di Indonesia. Sejak berdiri di tahun 2017, kini Warung Pintar telah memiliki lebih dari 7.000 mitra yang tersebar di Jabodetabek, Banyuwangi, dan Surabaya. Warung Pintar menyediakan program yang memungkinkan mitra untuk terus bertumbuh sesuai dengan jenis usahanya. Program yang ditawarkan berupa kemudahan pemesanan barang, monitor kemajuan usaha, pendampingan dengan berbagai teknologi pendukung usaha, kegiatan komunitas dan edukasi, hingga kesempatan untuk renovasi warung mitra. Warung Pintar memiliki visi untuk menjadi golden standard bagi bisnis mikro di seluruh Indonesia. 

Pendekatan sosiokultural dianggap penting dan efektif untuk mengerti uniknya nilai yang ada di dalam masing-masing komunitas. “Kita harus berangkat dari mencoba mengerti komunitasnya dengan menggunakan kacamata mereka untuk dapat melihat dan merasakan apa yang dialami mereka sehari-hari,” jelas Vander. Pendekatan ini diterapkan oleh Warung Pintar dalam menjalankan program technological inclusion untuk membantu mitra mencatat transaksi secara akurat agar dapat menakar perkembangan usahanya, kemudian didukung dengan integrated supply chain system untuk melacak data distribusi warung-warung lainnya. “Dari data tersebut kita bisa bantu mitra untuk memberikan insight yang dianggap awam bagi mitra,” tutur Vander. 

Vander menyadari bahwa pendekatan ini harus dilakukan dengan perlahan dan bertahap serta asistensi yang ketat agar mitra dapat terbiasa dengan teknologi yang ada. Dibutuhkan kolaborasi yang antara Warung Pintar dengan mitra warung untuk saling memantau dan membimbing untuk dapat mempelajari permasalahan yang dihadapi mitra dan merumuskan resolusi yang tepat. “Kolaborasi tersebut dapat tercipta apabila perusahaan seperti Warung Pintar berhasil melakukan pendekatan sosiokultural itu tadi,” pungkas Vander. 

Melihat antusiasme dan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan peserta menghasilkan webinar yang kaya akan diskusi. Melalui webinar ini, Vander berharap agar dapat menginspirasi peserta untuk dapat memberdayakan sesama, khususnya di kalangan grassroot dengan inovasi dan teknologi yang relevan dengan keadaan yang dihadapi kedepannya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. (MGI/DAN – Divisi Publikasi)