Wajah Nusantara 2021, Ajang Lestarikan Budaya lewat Sendratari Wiranggana: The Story of Srikandi

Peran seorang wanita terkadang seperti angin. Dihirup untuk hidup, kemudian dihembuskan tanpa balasan. Bahkan kelembutannya sering kali dianggap sebagai kelemahannya. Ketidakrelaan karena dipandang sebelah mata, menyulut api perlawanan sebagai bukti kelayakan dan ketangguhan seorang wanita. Api itu tergambar jelas pada sosok bernama Srikandi, Sang Wiranggana dalam perang Bharatayudha.

Demikian cerita yang disajikan dalam pagelaran sendratari bertajuk “Wiranggana: The Story of Srikandi”, yang dipersembahkan Lingkung Seni Tradisional Universitas Katolik Parahyangan (LISTRA UNPAR) melalui event Wajah Nusantara (WANUS) 2021, di Auditorium Pusat Pembelajaran Arntz-Geise (PPAG) UNPAR, Sabtu (18/12/2021) lalu. 

Terbagi dalam 2 (dua) babak, cerita Sang Wiranggana dimulai dengan kisah Srikandi di Pancala dan ingatan tentang Amba. Babak ini dimainkan dalam 7 (tujuh) adegan mulai dari Srikandi berlatih perang hingga munculnya ingatan akan kejadian Dewi Amba dan resi Bisma.

Kisah pertemuan Srikandi dan Arjuna pun dituangkan di babak kedua. Dalam babak ini, transisi peperangan Bharatayudha-awal perang saudara Pandawa Kurawa- hingga pengangkatan Srikandi menjadi Senopati ditampilkan. Terdiri dari 9 (sembilan) adegan, babak kedua tak hanya mementaskan kisah Srikandi-Arjuna, wayang peperangan hingga Srikandi membunuh Bisma menjadi alur utama.

Sejak pertama kali diperkenalkan pada 2010, WANUS menjadi pagelaran LISTRA yang menarik animo banyak orang. WANUS merupakan salah satu program unggulan Unit Kegiatan mahasiswa (UKM) LISTRA yang dilaksanakan setiap tahunnya dalam sebuah pagelaran seni berbentuk drama dan tari. Ketua Pelaksana WANUS 2021 Indriani Kusuma mengatakan, WANUS diciptakan LISTRA guna mendukung adanya kegiatan pelestarian budaya tradisional Indonesia di kancah nasional maupun internasional. 

“WANUS 2021 ini dijalankan di tengah pandemi dan menjadi wadah bagi para mahasiswa UNPAR untuk berkreasi menciptakan suatu karya seni tradisional yang dapat memberikan kebebasan dari kejenuhan selama ini,” tutur Indriani.

Sementara itu, Ketua UKM LISTRA UNPAR Lestari menuturkan, berdiri sejak 1970 silam, LISTRA menjadi wadah dan fasilitas bagi mahasiswa untuk menyalurkan minat serta bakatnya di bidang seni dan budaya tradisional Indonesia. 

“Walaupun dengan situasi pandemi seperti saat ini, UKM LISTRA tetap dapat menorehkan dan mengukir prestasi dengan tetap dapat mempersembahkan Wajah Nusantara,” ucap Lestari.

Rektor UNPAR Mangadar Situmorang, Ph.D. pun menyampaikan rasa bangganya untuk LISTRA atas konsistensinya menyelenggarakan WANUS. 

“Menyampaikan rasa bangga untuk LISTRA di tengah situasi pandemi kami menyaksikan teman-teman mahasiswa ini tetap bergiat, berlatih, saling belajar satu sama lain dan merencanakan pagelaran,” ujarnya.

Rektor mengungkapkan, pendidikan di UNPAR harus diselenggarakan secara berimbang antara hard skills dan soft skills. Pengetahuan ilmiah dan seni, lanjut Rektor, tentunya terkait dengan Spiritualitas dan Nilai-nilai Dasar UNPAR (SINDU) yang menjadi landasan komunitas akademik UNPAR. Dengan harapan, UNPAR dapat terus mewadahi talenta-talenta para mahasiswa, baik di bidang seni maupun lainnya.

“UNPAR menyadari betul bahwa masa depan generasi muda harus dijaga secara berimbang segala kekuatan dan potensinya. Baik intelektual (akademik) maupun kultural dan spiritual. Kita dukung, kita dampingi teman-teman mahasiswa dengan segala karya, kreativitas dan talenta-talenta mereka,” kata Rektor. (Ira Veratika SN-Humkoler UNPAR)