UNPAR Gelontorkan Ratusan Juta dalam Program Mahasiswa Wirausaha

UNPAR.AC.ID, Bandung – Permasalahan pengangguran intelektual dari kalangan sarjana nyatanya jadi satu dari sekian pekerjaan rumah Perguruan Tinggi, termasuk Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR). Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) pun dinilai jadi solusi mencegah hal tersebut.

Melalui program Kewirausahaan yang merupakan satu dari 8 program Kampus Merdeka, Lembaga Pengembangan Institusi dan Inovasi (LPII) UNPAR mewadahi mahasiswa UNPAR untuk dapat mengembangkan ide dan rencana bisnisnya agar dapat menjadi bisnis yang dapat berjalan dan menciptakan lapangan kerja baru.

Tak sekadar memberikan wadah bagi mahasiswa yang memiliki minat berwirausaha untuk mengembangkan usahanya lebih dini dan terbimbing, LPII UNPAR juga menggelontorkan sejumlah anggaran bagi mahasiswa yang lolos mengikuti MBKM Wirausaha tersebut.

Dana sebesar Rp 100 juta sebagai modal awal (seed funding) disiapkan LPII UNPAR untuk keseluruhan para tenant. Tak hanya itu,  LPII UNPAR juga menyediakan anggaran untuk pinjaman (tanpa bunga) -yang dijadikan dana bergulir- dan diberikan sesuai dengan pengajuan. Pendanaan/modal dengan mekanisme dana bergulir hanya diberikan bagi tenant yang memiliki kontrak tenant di Inkubator Bisnis dan Teknologi UNPAR dengan dana maksimal Rp 50 juta.

Tantangan untuk mampu menjadi wirausaha yang tumbuh, berdaya saing dan mampu menciptakan dampak ekonomi merupakan tantangan utama wirausaha Indonesia. Meskipun perilaku kewirausahaan Indonesia dinilai cukup baik, namun kemampuan tumbuh dan, baik dari skala usaha maupun penciptaan lapangan pekerjaan masih merupakan PR. Berdasarkan Global Entrepreneurship Index (GEI), yang menilai kualitas dan dukungan kewirausahaan sebuah negara, pada tahun 2019, Indonesia hanya memiliki skor  (atau nilai indeks) sebesar 26 (dari skala 100), dengan nilai aspirasi wirausaha yang sangat rendah (17). Skor GEI menempatkan Indonesia pada peringkat 75 dari 137 negara yang disurvei. Sementara menurut riset darn IDN Research Institute tahun 2019, 69,1% millennial di Indonesia memiliki minat untuk berwirausaha. Sayangnya, potensi wirausaha bagi generasi milenial tersebut belum dapat dikelola dengan baik selama ini. Kebijakan Kampus Merdeka mendorong pengembangan minat wirausaha mahasiswa dengan program kegiatan belajar yang sesuai.

Kepala LPII UNPAR Catharina Badra Nawangpalupi, Ph.D., mengatakan, tujuan program kegiatan wirausaha ini memberikan mahasiswa UNPAR yang memiliki minat berwirausaha untuk mengembangkan usahanya lebih dini dan terbimbing. Program ini pula diharapkan membawa mahasiswa untuk mengembangkan ide dan rencana bisnisnya agar dapat berjalan lancar dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Adapun 3 tahapan yang akan dilakukan, yaitu:

  1. Ide Bisnis (3 minggu)
  2. Rencana Bisnis (5 minggu)
  3. Kinerja dan Pertumbuhan Bisnis (8 minggu)

Persyaratan MBKM Wirausaha UNPAR, di antaranya:

  1. Tim mahasiswa aktif UNPAR
  2. Terdiri dari 3-5 mahasiswa lintas prodi
  3. Minimal sudah kuliah 5 semester
  4. Memiliki jiwa kewirausahaan
  5. Memiliki komitmen mengikuti MBKM Wirausaha secara penuh
  6. Mendapat rekomendasi dari Program Studi
  7. Memiliki ide bisnis atau bisnis yang sudah berjalan, seperti usaha kreatif dan inovatif; atau startup. Atau usaha yang menyasar salah satu atau beberapa dari 17 Sustainable Development Goals (SDGs)

Fasilitas & Benefit Kewirausahaan UNPAR

  • Penggunaan UNPAR Coffee & Coworking Space UNPAR untuk peserta
  • Mentorng/pendampingan dari mentor internal maupun eksternal
  • Workshop/pelatihan
  • Kesempatan untuk memperoleh seed funding dan pinjaman modal bergulir (tanpa bunga)
  • Ekuivalensi 20 SKS

Catharina mengungkapkan, setelah melakukan seleksi, hanya 1 tim yang lolos dalam MBKM Wirausaha tersebut. Terdiri dari 4 anggota (3 mahasiswa Teknik Industri dan 1 mahasiswa Manajemen).

“Nantinya proses pendampingan dilakukan selama 1 semester. Para tenant MBKM Wirausaha harus mengalokasikan waktu mereka untuk mengembangkan bisnis sekurangnya 4 jam per hari dan 5 hari per minggu. Terkait seed funding, dana akan dialokasikan sesuai pitch deck dan kelayakan usaha yang akan dievaluasi oleh tim pendamping inkubator. Dana seed funding bersifat hibah untuk persiapan usaha. Sementara anggaran untuk pinjaman modal bergulir diberikan sesuai dengan pengajuan,” tuturnya, Senin (21/3/2022). (Ira Veratika SN-Humkoler UNPAR)

Berita Terkini

Mengendalikan A.I. di Era A.I.

Mengendalikan A.I. di Era A.I.

UNPAR.AC.ID, Bandung - Hampir semua orang di dunia sudah familiar dengan teknologi Artificial Intelligence (A.I.) pun menggunakannya. Artificial Intelligence atau Kecerdasan Artifisial adalah mesin (komputer) yang memiliki kemampuan untuk berpikir dan bertindak...

Prodi Studi Humanitas UNPAR Terakreditasi Baik BAN PT

Prodi Studi Humanitas UNPAR Terakreditasi Baik BAN PT

https://www.youtube.com/watch?v=tPoNEuVdlLc UNPAR.AC.ID, Bandung – Program Studi Studi Humanitas Universitas Katolik Parahyangan telah memenuhi peringkat akreditasi “Baik” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) tertanggal 23 Januari 2024. Peringkat...

Kontak Media

Divisi Humas & Protokoler

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung 40141 Jawa Barat

Mar 21, 2022

X