UNPAR Dorong Akselerasi Pentahelix Wujudkan UNESCO Global Geopark Kawasan Danau Toba sebagai Destinasi Wisata Dunia

Pengembangan Kawasan Danau Toba (KDT) yang telah mendapat sertifikat sebagai UNESCO Global Geopark (UGG) menjadi destinasi wisata dunia membutuhkan strategi dan kebijakan yang tepat dan komprehensif. Di sisi lain, pemberdayaan masyarakat di KDT menjadi tujuan utama dari seluruh proses tersebut agar mereka menjadi pelaku dan penerima manfaat dari pembangunan tersebut.

Demikian hal yang mengemuka dalam webinar bertajuk “Mewujudkan UNESCO Global Geopark Kawasan Danau Toba (UGG-KDT) Sebagai Destinasi Wisata Dunia”, kerja sama Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) dan Pemerintah Kabupaten Samosir, yang digelar secara daring, Selasa (31/8/2021).

Hadir sebagai Keynote Speaker adalah Bupati Samosir Vandika T. Gultom, ST., dan Rektor UNPAR Mangadar Situmorang, Ph.D. Sementara pemateri dalam webinar kali ini yaitu Dr. Wilmar Eliaser Simanjorang (Penggiat Pelestarian Kawasan Danau Toba), Jimmy B. Panjaitan (Dirut Badan Pelaksana Otorita Danau Toba), Nagoes Puratus Sinaga (Pendiri Rumah Belajar Sianjur Mula-Mula), Guntur Sianipar (Ketua Desa Adat Ragi Hotang Meat), Dr. Rumiati Rosaline Tobing, Dr. Orpha Jane, dan Ir. Andi Kumala Sakti, MT., IAI. (Peneliti & Tim Pengabdian Masyarakat UNPAR),

Sekadar informasi, UNPAR telah menjalin kerja sama dengan Pemkab Samosir sejak 2013, terutama dalam pengembangan Kawasan Danau Toba yang pada tahun 2019 mendapat sertifikat sebagai UNESCO Global Geopark. 

Rektor UNPAR Mangadar Situmorang, Ph.D menuturkan bahwa masyarakat khususnya di wilayah Samosir menjadi pelaku utama sekaligus penerima manfaat dari seluruh program pengembangan wisata ini. KDT, lanjut Rektor, memiliki potensi yang luar biasa sebagai destinasi wisata dunia. Modalitas tersebut yaitu kekayaan alam dan budaya, keindahan alam, kebudayaan yang khas, masyarakat yang terbuka, dan religiusitas. 

“Pada level yang lebih luas, kita bisa melihat bagaimana turisme kepariwisataan pada global ekonomi itu memberikan kontribusi yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi dunia dan menggerakan transaksi interaksi ekonomi dan sekaligus juga meningkatkan kesejahteraan banyak orang,” tutur Rektor.

Indonesia sendiri, kita bisa mengatakan bahwa Indonesia menjadi salah satu dari 20 negara yang paling punya daya tarik untuk dikunjungi. Indonesia juga menduduki peringkat 9 sebagai negara yang menunjukkan pertumbuhan industri pariwisata yang sangat besar. Kedatangan wisatawan mancanegara ke Indonesia peningkatannya hampir 2 persen di tahun 2019.

“Mereka membelanjakan per harinya itu 153 dolar dan sebagian besar sejauh ini berasal dari negara-negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, China, Australia, dan Jepang,” ujarnya.

Kendati demikian, Travel and Tourism Competitiveness Index menyebutkan bahwa Indonesia masih berada di peringkat 40 dengan skor 4.3 dari maksimum 5.

“Ini yang perlu terus kita kembangkan. KDT sekali lagi memiliki semua potensi itu,” katanya.

Satu hal yang sangat penting untuk mendorong mewujudkan itu adalah legalitas hukum yang sangat kuat. Mulai dari Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2014 – Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional Kawasan Danau Toba, PP 50/2011 menetapkan Kawasan Danau Toba sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), dan Perpres 49/2016 tentang Pembentukan Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba (BOPDT) dan menetapkan KDT. 

Lebih lanjut, akselerasi menuju World Class Tourism Destination, diperlukan kepemimpinan dan koordinasi antar-unit pemerintahan. Mulai dari meningkatkan koordinasi pembangunan antar sektor: infrastruktur, destinasi dan atraksi wisata. Lalu meningkatkan komunikasi dan pembagian peran/prioritas/benefit/profit/pendapatan, dan hindari tumpang tindih, rebutan, atau pembiaran/lepas tangan/kambing hitam.

“Inisiatif kepala daerah dan jajarannya itu akan sangat menentukan laju dan kecakupan seluruh proses kita untuk membangun kesejahteraan dan peningkatan ekonomi sosial masyarakat. Peran kepemimpinan ini sangat penting, koordinasi antar-unit pemerintah juga demikian. Tantangan terkait dengan tata kelola, tugas dan tanggung jawab itu tidak mudah untuk dipahami dan dilaksanakan oleh semua stakeholder,” ucap Rektor.

Hal penting lainnya adalah dengan memberikan edukasi terhadap masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat tetap menjadi subjek, partisipasi aktif. Kemudian meningkatkan keterampilan dan pengetahuan masyarakat di semua sektor (pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, komunikasi, restoran/hotel/homestay/entertainment alam dan budaya/pemandu). Kemudian meningkatkan kesantunan masyarakat (hospitalities), masyarakat jangan hanya menjadi penonton atau rent-seekers, dan hindari penjualan/pengalihan hak milik atas lahan dan objek-objek kebudayaan.

“Pemberdayaan masyarakat itu sendiri menjadi tujuan utama dari seluruh proses pembangunan Kawasan Danau Toba dalam konteks Global World Class Tourism Destination. Hendaknya masyarakat betul-betul diedukasi sekaligus menjadi pelaku dan penerima manfaat,” tuturnya.

Sementara dari sisi Perguruan Tinggi, lanjut Rektor, UNPAR menyatakan diri terbuka dalam melakukan akselerasi yang esensial dalam konteks membangun masyarakat Samosir yang sejahtera dan bermartabat dengan mengoptimalkan sinergi pentahelix. Pentahelix dalam hal ini adalah sinergitas antara perguruan tinggi, pemerintah, media, industri, dan masyarakat.

Rektor menuturkan, masyarakat menjadi pusat dari seluruh proses yang sinergi pentahelix. Perguruan Tinggi, berkontribusi melakukan riset dan rekomendasi kebijakan, serta turut mengedukasi sebagai bagian dari pengabdian masyarakat.

Bupati Samosir Vandika T. Gultom, ST., pun mengungkapkan pemerintah memerlukan dukungan dan sinergitas dari semua pihak untuk percepatan perwujudan Danau Toba menjadi pariwisata kelas dunia.

“Untuk mempertahankan Kawasan Danau Toba agar tetap menjadi kawasan warisan dunia, kami sangat mengharapkan dukungan dari semua stakeholder untuk memberikan peran serta dan membangun pariwisata Samosir yang berkelanjutan,” ucapnya.

Dia mengatakan, Pemkab Samosir memiliki arah kebijakan yang mendukung pariwisata berbasis geopark. Antara  lain meningkatkan kualitas sarana dan prasarana kepariwisataan, peningkatan kapasitas dan pemberdayaan peran masyarakat dalam pengembangan pariwisata; peningkatan sinergitas kepariwisataan berbasis agrowisata, ekowisata, juga geopark; pengutamaan produk UMKM yaitu ekonomi kreatif; konservasi lahan berkelanjutan; pemberdayaan masyarakat lokal; peningkatan infrastruktur dan sarana prasarana lainnya untuk peningkatan ekonomi lokal masyarakat.

“Serta kami sangat berharap dapat dibuat kurikulum tentang Geopark Kaldera Toba dalam muatan lokal pelajaran siswa-siswa di daerah Samosir. Kami ucapkan terima kasih kepada UNPAR dan para pemateri yang memberikan sumbangan pemikiran, masukan, dan saran terhadap pengembangan pariwisata berbasis geopark di kawasan Danau Toba, khususnya di Kabupaten Samosir,” tutur dia. (Ira Veratika SN-Humkoler UNPAR)