Home / Berita Terkini / Tim PCU 2 PEDS Unpar Raih Prestasi dalam GO 2019

Tim PCU 2 PEDS Unpar Raih Prestasi dalam GO 2019

Parahyangan English Debate Society (PEDS) berhasil meraih prestasi dalam turnamen debat Bahasa Inggris Ganesha Open (GO) 2019. PEDS mengirim 8 orang delegasi yang terbagi dalam 4 tim untuk mewakili Unpar dalam turnamen yang diselenggarakan oleh SEF ITB pada 16-17 November 2019 lalu. GO merupakan turnamen debat terbuka yang diikuti oleh 48 tim dari seluruh Indonesia. 

Dalam kompetisi ini, tim Baru Bangun-ish (PCU 2) yang terdiri dari Wilson Nathanael (Teknik Informatika 2019) dan Cherrie Angel Wijaya (Hubungan Internasional 2019) berhasil meraih juara 2nd Runner Up atau Juara 3 dalam kategori Novice. Cherrie dan Wilson juga meraih penghargaan 2nd Best Speaker dan 3rd Best Speaker dalam kategori yang sama.

Meskipun delegasi Unpar hanya memiliki waktu latihan selama satu minggu, hal ini tidak menghalangi mereka untuk menorehkan prestasi. Latihan yang mereka lakukan termasuk melakukan penelitian, mengkaji studi kasus, dan juga simulasi debat. Cherrie, Valencia (Hubungan Internasional 2018), dan Cindy Christina (Hubungan Internasional 2019) masing-masing memiliki kesan yang berbeda-beda terkait persiapan lomba ini.

“Sebenarnya aku turun tanpa ekspektasi, jadi latihannya terasa lebih asik daripada latihan debat biasanya,” tutur Cherrie. “Aku ikut untuk belajar dari yang lain, belum ada ekspektasi untuk menang di turnamen sebesar ini,” timpal Cindy. Bagi Valencia, “Karena yang turun di GO banyak dan dari berbagai jurusan dan angkatan, jadi kesempatan buat bonding sama semuanya.” 

Ketiganya setuju bahwa debat Bahasa Inggris sangat bermanfaat bagi perkuliahan. Sebagai mahasiswi Hubungan Internasional, Valencia, Cherrie, dan Cindy merasa bahwa topik-topik yang dijadikan materi debat membantu di kelas karena akan selalu merupakan topik atau kasus yang sedang terjadi dan dipelajari di perkuliahan. Mereka juga merasa bahwa melalui PEDS, mereka menjadi lebih terlatih dalam berpikir kritis dan berargumentasi, yang tentu membantu dalam kegiatan perkuliahan seperti membuat makalah dan presentasi. 

“Ketika mengerjakan sesuatu, train of thought jadi lebih berarah, menjawab pertanyaan dan diskusi jadi lebih logis dan jelas baik struktur dan argumennya,” tutur Valencia. Karena harus berbicara di depan umum, kepercayaan diri dan kemampuan public speaking juga terlatih. Mereka sepakat bahwa keputusan bergabung dalam PEDS dan melanjutkan pengalaman mereka sebagai debater ketika SMA merupakan keputusan yang benar. 

Selain berkompetisi dengan orang-orang yang dahulu dianggap idola dalam komunitas debat, anggota-anggota PEDS juga terbuka dan saling membantu baik dalam persiapan lomba dan diluar urusan kompetisi. “Kakak-kakaknya baik, jadi enak latihannya,” ujar Cherrie. “Belajar di PEDS itu diskusinya gampang, materi yang berat dibawa dengan ringan. Bisa mendengar kedua sisi dari suatu peristiwa, jadi bisa melihat semua sisi dari suatu masalah juga,” pesan Cindy. 

Prestasi yang diraih oleh anggota-anggota baru PEDS diharapkan dapat menjadi awal mula prestasi-prestasi lainnya dalam tahun-tahun mendatang. (/DAN)