Terinsipirasi Erupsi Merapi 2010, Mahasiswa UNPAR Sabet Juara Pertama di Ajang Arsitektur Internasional

Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) kembali menorehkan prestasi di tingkat Internasional. Enam mahasiswa Program Studi Arsitektur UNPAR angkatan 2018 berhasil meraih juara pertama dan harapan 1 dalam ajang The International Architecture and Landscape Architecture Design Competition 2021 yang diadakan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS).

Mengusung konsep “Healing without Interfering” yang dilatar belakangi oleh kejadian Gunung Merapi tahun 2010, gagasan desain yang berjudul Mantun Jiwa Community Center mengantarkan Michael Steven Nugroho, Eistein Benedito, dan Joe Nadia sebagai juara pertama dalam acara yang bertajuk Sanctuary: A Place for a New Hope tersebut.

Sejumlah Juri yang berasal dari Arsitek Indonesia dan Internasional mengapresiasi konsep dan  program yang dibuat dengan ide-ide desain yang praktis dan realistis. Selain itu, Interpretasi yang tepat dari bahasa lokal, teknologi yang adaptif, dan memusatkan perhatian pada pembangunan kembali serta pemberdayaan masyarakat menjadikan poin unggul yang mengemuka di penjurian final pada Minggu, (7/11/2021) lalu.

Selain itu, Nyra Malika, Evelyn Rusli, dan Karol Bimoseno Kridolaksono Indrarto pada tim yang berbeda dengan berkonsep “3 sides of a disaster: Those Who Suffer, Those Who Lost, and Those Who Emphatize” yang membawa isu perekonomian, pariwisata, dan taman monumental bagi korban bencana tsunami Palu 2018 tersebut berhasil meraih juara harapan 1 dengan nama desain Nantarima.

Melalui sayembara ini, Michael selaku perwakilan juara pertama mengaku senang karena pembelajaran di studio arsitektur dapat diterapkan mulai dari analisa tapak, konteks pengguna, teori psikologi sekaligus healing dalam arsitektur yang menjadi tema pada ajang tersebut.

Lewat karya yang dibuat oleh timnya tersebut, Michael berharap untuk para pegiat arsitektur kedepannya supaya lebih bisa fokus terhadap kebutuhan pengguna dari pada keinginan pribadi.

“Soalnya makin banyak yang nge-treat arsitektur hanya sebagai komposisi geometri estetik saja bukan sebagai lingkungan binaan,” tuturnya saat dikonfirmasi, Rabu (17/11/2021).

Kedepannya, dia berkata ingin lebih mengembangkan karya-karyanya ke taraf yang lebih jauh secara internasional dan berharap kedepannya lebih banyak kembali mahasiswa UNPAR yang bisa berkontribusi di sayembara.

“Soalnya kita seneng banget waktu tahu kemarin ada enam sampai tujuh tim yang masuk top 15 dan 2 tim masuk top 5 yang dari UNPAR. (Suatu) kebanggaan tersendiri,” katanya. (RAM-Humkoler UNPAR)