Temu Tokoh ‘BASA-BASI’ Bangkit Bersama Berantas Korupsi

Berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi di dalam laporan Transparency International Tahun 2014, Indonesia berada di posisi ke-117 dari 175 negara dengan level korupsi yang tinggi. Kasus korupsi kerapkali mewarnai ekonomi-politik di Indonesia, baik dari kalangan pejabat maupun para pengusaha. Tidak jarang, kelakuan para koruptor membuat masyarakat Indonesia geram sekaligus pesimis untuk mewujudkan Indonesia yang bebas dari perilaku korup.

Semangat dan harapan kembali datang dari mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan. Mereka adalah muda-mudi yang ingin menyuarakan dukungan #AkuVSKorupsi untuk melawan korupsi di Indonesia.

Pada hari Jumat (4/12), untuk kali pertama, Direktorat Jenderal Kajian dan Aksi Strategis, Lembaga Kepresidenan Mahasiswa Unpar Periode 2015/2016 menginisiasi acara Temu Tokoh bertajuk ‘BASA-BASI’ Bangkit Bersama Berantas Korupsi. Adapun isu tersebut diangkat untuk mengedukasi mahasiswa Unpar sekaligus peringatan Hari Antikorupsi yang diperingati setiap tanggal 9 Desember.

Di awali dengan kata sambutan dari Rektor Unpar, Mangadar Situmorang, Ph.D, yang mengatakan bahwa bebas dari perilaku korupsi diperlukan konsistensi dan daya tahan untuk tetap ‘bersih’.

Temu Tokoh yang diselenggarakan di Aula 2305 Gedung 2 (Fakultas Hukum Unpar), menghadirkan narasumber utama yakni Bambang Widjojanto selaku komisioner non-aktif KPK. Beliau mengawali sesi pertama dengan pemaparan filosofi dan perkembangan isu korupsi, dalam hal ini berkenaan dengan fungsi KPK.

Di dalam pemaparannya, Bambang Widjojanto sesekali menyelipkan data, studi kasus, dan video untuk membuka cakrawala pengetahuan mahasiswa mengenai kasus korupsi di Indonesia yang sarat dengan oligarki dan kartel politik.

Tidak kalah menarik dengan tema yang dipaparkan pada sesi pertama, isu korupsi kembali digali oleh Giri Suprapdino, selaku staff ahli KPK dan Leo Agustino, selaku akademisi pemerhati korupsi. Kedua narasumber menjelaskan isu korupsi pada sektor kebijakan publik.

Di dalam pemaparannya, Leo Agustino mengungkapkan beberapa perubahan politik di Indonesia yang disinyalir mengundang perilaku korupsi di antaranya, kombinasi antara sistem presidensiil dengan sistem multipartai; pemilihan presiden dan kepala daerah secara langsung, memberi ruang demokratisasi sekaligus membangun budaya korupsi; otonomi daerah melahirkan dinasti-dinasti politik yang berimbas pada tindak pidana korupsi; serta pergeseran dari proffesional-based government ke arah party-based government menyebabkan posisi lembaga-lembaga pemerintahan diduduki oleh logika kepentingan partai.

Melalui Temu Tokoh ini, pengetahuan mengenai peran lembaga pendidikan dan mahasiswa untuk turut melawan korupsi digali oleh Lalola Easter, aktivis Indonesia Corruption Watch dan Bramantya Basuki, aktivis Anti-korupsi.

Pemaparan dari para narasumber telah memperkaya pengetahuan mahasiswa. Temu tokoh ‘BASA-BASI’ diakhiri dengan Deklarasi Mahasiswa Unpar untuk turut serta mendukung pemberantasan korupsi.

Mengutip pernyataan Stephen Angkiriwang, selaku Presiden Mahasiswa Unpar Periode 2015/2016, “..selama korupsi masih merajalela, selama generasi muda masih menganggapnya biasa, selama itu pula Indonesia tidak akan menemui kemegahannya.”

Semua kembali pada diri sendiri. Seperti pernyataan Bambang Widjojanto, kita sepatutnya merenungkan

“…Indonesia bersih dan dahsyat, itu ada di tangan Anda. Maukah kita peduli akan sejarah peradaban Indonesia?”

Aku Peduli. Aku Melawan Korupsi.

Berita Terkini

Selami Seni dan Komunitas dalam Kuliah Umum Estetika UNPAR

Selami Seni dan Komunitas dalam Kuliah Umum Estetika UNPAR

UNPAR.AC.ID, Bandung – Di tengah perkembangan abad ke-21 yang membawa perubahan cepat dan mendasar, Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) menggelar Kuliah Umum Estetika bertajuk “Seni, Komunitas, dan Penghayatan Pengetahuan” pada Kamis (13/06/2024). Acara ini...

Kontak Media

Humas UNPAR

Kantor Sekretariat Rektorat (KSR), Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung 40141 Jawa Barat

Dec 7, 2015

X