Studio Gundu UNPAR: Lahir dari Sayembara, Kini Langganan Juara

UNPAR.AC.ID, Bandung – Sebuah tim kecil yang kerap kali disebut Studio Gundu telah banyak menebarkan sumbangsih ide desain arsitektur dalam harumkan nama Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) baik di skala nasional maupun internasional. Tercatat semenjak tahun 2021 silam, tim dari jurusan Arsitektur UNPAR angkatan 2018 tersebut telah merengkuh lima posisi juara sayembara desain arsitektur bergengsi.

Siapa sangka, tim yang awalnya terbentuk oleh sejumlah mahasiswa yaitu Karol Bimoseno, Nyra Malika, dan Evelyn Rusli lewat keakraban dalam kegiatan perkuliahan dan organisasi, kini dapat menjadi suatu tim yang dapat diperhitungkan eksistensinya dalam berbagai kompetisi oleh tim dari perguruan tinggi maupun dalam profesional.

Evelyn mengatakan jika pertemanan tersebut timbul karena perkuliahan yang sebagian besar dilakukan dalam Studio dengan saling menilik karya satu sama lain.

“Kami saling melihat karya masing-masing melalui tugas studio. Karena memiliki visi desain yang kurang lebih serupa dan tertarik berkompetisi, kami memutuskan untuk mengikuti sayembara bersama sebagai satu tim. Kami sama-sama ingin mengeksplorasi ide dan kreativitas desain di luar tugas perkuliahan,” tutur Evelyn.

Studio Gundu lahir pada tahun 2021 lalu melalui sayembara pertamanya pada Architectural Festival yang diselenggarakan Universitas Kristen (UK) Petra. Pada kesempatan tersebut, Studio Gundu belum memiliki nama secara spesifik untuk dikenal menjadi sebuah tim.

Namun, nama Studio Gundu mulai diperkenalkan pertama kali pada sayembara Archevent oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) pada tahun 2021 yang pada saat itu masih bernama ‘Tim Gundu RT 07’. Nama tersebut muncul dari keinginan akan nama sebuah tim yang menyenangkan dan lucu. Karena tujuan awal dari mereka untuk mengikuti sayembara adalah sebagai pelepas penat dari Studio yang teknis dan banyak aturan.

“Bagi kami (nama Tim Gundu RT 07) dapat menggambarkan tujuan kami yang dibawa seru dan santai. Seiring berjalannya waktu, kami mengikuti sayembara yang lebih serius seperti sayembara profesional sehingga kami membutuhkan nama tim yang lebih formal dan mudah diingat. Dari situ, kami memutuskan untuk mengubah nama tim kami menjadi Studio Gundu pada awal tahun 2022,” tutur Evelyn.

Dalam setiap sayembara yang diikuti dengan timnya, Evelyn mengatakan jika ciri khas dari Studio Gundu yang selalu diterapkan dalam setiap karyanya adalah kesederhanaan.

“Kalau dari segi konsep dan bentuk, mungkin kembali lagi kepada tema dan tujuan sayembaranya masing-masing. Kami biasanya menggunakan ide yang sederhana, tetapi diterapkan ke semua aspek desain secara holistik dan konsisten. 

Selain itu, hal spesial lain yang coba mereka terapkan secara konsisten pada setiap kompetisi adalah menawarkan solusi yang melebihi permintaan dari apa yang menjadi peraturan kompetisi.

“Seperti solusi jangka panjang (long-term solution) dan/atau solusi skala besar (big scale solution). Menurut kami, kedua poin itu yang membedakan kami dari yang lain. Hal tersebut sangat penting untuk menunjukkan pemikiran yang makro dan visioner,” ucap Evelyn.

Apresiasi Karya

Dalam kurun waktu kurang lebih satu tahun, Studio Gundu telah torehkan beberapa prestasi gemilang, yaitu Top 25 pada Sayembara Desain Internasional Archfest “The Tides of Change” UK Petra, Surabaya; Juara Harapan 1 Sayembara Desain Internasional Archevent “Sanctuary: A Place for New Hope” UNS; serta masing-masing renggut Juara 1 dalam Sayembara Desain Internasional Archfest “Breathing Buildings” UK Petra, Surabaya; Sayembara Desain Nasional Satu Ruang “Unbothered in Borderless” Universitas Pelita Harapan (UPH); Sayembara Desain Internasional WEX “If Architecture is The Nature” Universitas Gajah Mada (UGM); dan Sayembara Profesional Pradesain Renovasi IGD RS Panti Rapih, Yogyakarta.

Beberapa karya Studio Gundu bisa dilihat melalui: https://www.behance.net/gallery/142987809/Silver-Forest-An-Industrial-Neighborhood-Archetype dan https://www.behance.net/gallery/142995965/The-Essence-of-Absence-Orangutan-Sanctuary

Dari capaian yang telah diraih tersebut, Nyra Malika mengatakan jika Sayembara Desain Internasional Archfest “Breathing Buildings” menjadi sayembara paling sulit dan Sayembara Pradesain IGD RS Panti Rapih menjadi yang paling membanggakan karena juarai sayembara profesional dan akan direalisasikan.

“Sayembara tersebut menjadi sulit karena kami belum pernah mendalami pendekatan desain biomimikri sebelumnya. Site dan fungsi juga dibebaskan, sehingga kami perlu melakukan banyak riset untuk menciptakan desain yang paling tepat sesuai dengan fenomena yang ada,” kata Nyra.

Nyra mengatakan, pencapaian yang telah diraih oleh dia dan timnya telah banyak mendapat banyak apresiasi dari pihak kampus. Dia mengatakan beberapa apresiasi tersebut yaitu karyanya dipamerkan kepada Presiden Jokowi, Menteri Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem A. Makarim, dan jajarannya dalam kunjungan dan peresmian gedung Pusat Pembelajaran Arntz-Geise (PPAG) januari silam. Karya dia dan timnya juga  diliput oleh media resmi UNPAR dan mendapat bantuan konversi SKS melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang baru, kata Nyra.

Kendati demikian, Nyra mengatakan timnya belum mendapat beasiswa yang dijanjikan kampus atas prestasinya. Dia juga merasa sosialisasi beasiswa dan ajakan mengenai sayembara cukup kurang dalam pemberian informasi.

“Kami merasa belakangan ini sudah banyak apresiasi yang kami dapatkan dari kampus. Akan tetapi, kami rasa ajakan dan dukungan untuk ikut sayembara arsitektur cukup kurang karena kebanyakan sayembara diikuti mahasiswa arsitektur karena inisiatifnya sendiri,” tuturnya.

Sementara itu, Bimo-begitu Karol Bimoseno kerap disapa-mengatakan bahwa Dalam waktu dekat ini, timnya ingin lebih fokus mengembangkan diri masing-masing dalam dunia profesional terlebih dahulu.

“Kami menyadari bahwa pembelajaran tidak berhenti di kuliah dan sayembara saja. Mungkin setelah cukup matang dan berpengalaman dalam dunia arsitektur profesional, kami dapat bekerja bersama lagi bila ada kesempatan,” katanya.

Setelah banyak menjuarai sayembara , menurut timnya, hal terpenting untuk mendapatkan hal tersebut adalah jam terbang. Semakin sering menghadapi beberapa permasalahan desain, sering mencari preseden, dan mencoba mengevaluasi desain, maka akan meningkatkan kemampuan mendesain dengan tepat.

“Satu lagi, cobalah mendesain dengan ide yang sederhana, tidak berbelit-belit dan mudah dimengerti. Namun, ide yang sederhana tersebut harus diterapkan ke semua aspek desain secara holistik dan konsisten,” tutur Bimo.

Bimo berpesan untuk terus berkarya sebagai suatu pembelajaran akan karya-karya kedepannya.

“Yang mahal dari sebuah desain arsitektur, terutama dalam sayembara, adalah ide dan konsep, bukan semata-mata keindahan bentuk atau visualisasi. Jangan takut untuk mencoba, karena selalu ada pembelajaran yang bisa diambil dari tiap karya,” katanya. (RAM-Humkoler UNPAR)

Berita Terkini

Hidup Rukun di Tengah Kompleksitas Seni, Agama, dan Bangsa

Hidup Rukun di Tengah Kompleksitas Seni, Agama, dan Bangsa

UNPAR.AC.ID, Bandung – Seni, agama, dan bangsa/negara memiliki hubungan antara satu sama lain. Namun, hubungan antara ketiga hal tersebut bukanlah sebuah persoalan yang mudah. Hubungannya sangat dinamik, problematik, dan kompleks.  Banyak seni yang terlahir dari agama...

Kontak Media

Divisi Humas & Protokoler

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Aug 1, 2022

X