Home / Berita Terkini / Sharing Alumni Administrasi Publik: Design Thinking for Public Sector Innovation

Sharing Alumni Administrasi Publik: Design Thinking for Public Sector Innovation

Program Studi Sarjana Administrasi Publik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) mengadakan Sharing Alumni bertajuk “Design Thinking for Public Sector Innovation” pada Senin (4/5/2020). Webinar ini diadakan sebagai bagian dari mata kuliah Inovasi Organisasi dan Wirausaha Publik namun juga terbuka untuk umum. Vander Lesnussa, S. AP., Operation Manager di Merchant Warung Pintar membagikan ilmu dan pengalamannya selaku narasumber. Sharing Alumni dimoderatori oleh Tutik Rachmawati, SIP. MA., Ph.D. selaku dosen dari mata kuliah Inovasi Organisasi dan Wirausaha Publik.

Pada kesempatan kali ini dibahas mengenai konstruksi berpikir untuk inovasi di sektor publik khususnya pemerintah. Menurut Vander, design thinking adalah proses metodologi yang disusun secara sistematis dan human-centric untuk problem solving melalui product, service, atau tools. Terdapat 5 tahap dalam design thinking yaitu: empathize, define, ideate, prototype, dan test.

Emphasize dalam kasus ini adalah merasakan dan mengerti apa yang orang lain rasakan ibarat menggunakan kacamata yang berbeda. Pemecahan masalah yang kompleks harus berfokus kepada manusia dan memunculkan kepercayaan pada orang yang akan diselesaikan masalahnya (user). Define yaitu mendeskripsikan masalah yang akan diselesaikan. Ketika kurang mampu memahami kebutuhan user, maka user akan merasa kewalahan. Maka dari itu sebagai pemecah masalah tidak boleh terlalu banyak berasumsi dan terlalu idealis.

Tahap berikutnya yaitu Ideate berkaitan dengan ide yang sifatnya abstrak. Ide adalah sesuatu yang ‘murah’ namun ‘mahal’ untuk dieksekusi. Banyak cara untuk membongkar ide, seperti brainstorm dan brainwrite. Prototype merupakan sampel awal produk yang dibuat untuk menguji konsep dan proses dari penyelesaian masalah. Di akhir tahap ini akan mendapat ide yang lebih baik untuk memproduksi ‘produk’ penyelesaian masalah dan dapat mengetahui ulasan dari pengguna produk. Tahap terakhir yaitu Test. ‘Produk’ sudah di-launch ke publik. Disini dapat diketahui bagaimana user bisa bereaksi terhadap produk disertai feedback atau harapan dari user. S

Sebagai pembuat produk, harus mempunyai jiwa yang humble untuk menerima semuanya. Fase belajar tidak pernah berhenti dan pasti ada jatuh bangun. Design Thinking bukanlah proses yang linear. Prosesnya iteratif yakni berlanjut terus menerus sampai produk kita bisa sempurna. Metode ini adalah metode yang tepat untuk diterapkan di berbagai sektor dan sudah digunakan oleh para tokoh publik. (JNS/DAN – Divisi Publikasi)