Home / Berita Terkini / Seri Ketiga Kelas Pengembangan Diri LPH UNPAR Membicarakan “Toxic Relationship”

Seri Ketiga Kelas Pengembangan Diri LPH UNPAR Membicarakan “Toxic Relationship”

Pada Sabtu (25/7/2020), Lembaga Pengembangan Humaniora Universitas Katolik Parahyangan (LPH Unpar) mengadakan Kelas Pengembangan Diri ketiga bertajuk “Toxic Relationship”. Kelas difasilitasi oleh konselor LPH Unpar yaitu Ignatia Ria Natalia, Maria T. Puspaningsih, dan Yohanes Don Bosco Anggono. Tema ini diangkat karena kita semua memiliki potensi untuk terjebak dalam hubungan yang beracun dan kita berhak untuk keluar dari hubungan tersebut.

Makna Toxic Relationship

Toxic relationship adalah hubungan yang tidak menyenangkan bagi diri sendiri atau orang lain. Jenis hubungan ini menyebabkan mereka yang terlibat di dalamnya kesulitan untuk hidup produktif dan sehat. Beberapa kemungkinan alasan seseorang tetap tinggal dalam toxic relationship karena ketidakamanan (insecurities), ketertarikan ekstrim, dan ketakutan. Ketidakamanan dialami karena kita merasa masa depan tanpa orang yang buruk tersebut akan tidak pasti. Ketertarikan ekstrim juga bisa membuat kita buta terhadap seseorang yang memiliki temperamen kasar, tidak empati bahkan mengeksploitasi diri kita. Perasaan takut yang kita pancarkan malah dapat berakibat buruk bagi diri sendiri karena inilah yang akan dijadikan senjata orang yang “toxic” untuk bisa memanipulasi diri kita.

Setidaknya ada 6 tanda-tanda seseorang berada dalam toxic relationship. Pertama, merasa rendah dan tidak berharga karena penilaian atau intimidasi orang lain. Kedua, menjauh dari keluarga dan teman karena pengaruh orang atau pihak lain. Ketiga, tidak memiliki kemerdekaan dalam hidupnya karena diawasi atau dikontrol oleh orang lain yang merasa memiliki kedekatan khusus dengan dirinya. Keempat, tidak memiliki kebebasan dalam menggunakan aset atau uang pribadi karena juga dikontrol oleh orang lain. Kelima, hampir selalu merasa ketakutan, cemas atau khawatir yang signifikan. Keenam, cukup menyadari bahwa orang lain/ lingkungan tidak memperlakukan dirinya dengan benar tetapi tetap berusaha untuk bertahan.

Toxic Relationship bisa terjadi dalam beberapa relasi baik itu dalam pekerjaan, keluarga, pasangan (kekasih), teman, atau berkaitan dengan spiritualitas. Toxic relationship di tempat kerja biasanya terjadi akibat atasan mengintimidasi atau menekan sehingga membuat cemas bawahan, atasan melakukan perundungan kepada bawahan dan atasan bersikap hipokrit kepada bawahan. Tidak hanya atasan, dengan kolega pun bisa terjadi hal yang sama. Kolega yang menekan, kolega yang suka membully atau kolega yang bersikap hipokrit dengan sesama rekan kerja.

Keluarga yang seharusnya menjadi tempat yang aman untuk seseorang malah menjadi tempat yang menyakitkan. Beberapa hal yang menyebabkan hubungan yang beracun dalam keluarga adalah orang tua membandingkan, meremehkan, mengolok-olok, mengkritisi, tidak membiarkan membuat pilihan, ataupun tidak tahu bagaimana mencintai dan memperlakukan anaknya. Hal ini dapat menimbulkan anak memiliki perasaan tidak diinginkan dalam keluarga.

Relasi dengan pasangan kekasih bisa membuat seseorang dalam pilihan yang sulit dan terjebak dalam toxic relationship. Berdasarkan data dari Catatan Tahunan Komnas Perempuan, kasus kekerasan dalam pacaran dari tahun ke tahun berada di kisaran angka ribuan. Kekerasan dalam pacaran adalah pola perilaku yang tidak menyenangkan, kasar, dan digunakan untuk mengerahkan kekuasaan serta kontrol atas pasangan. Selain kekerasan fisik maupun verbal, bentuk lain hubungan ‘beracun’ dalam pacaran seperti mengabaikan pasangan, memperlakukan pasangan seolah-olah dirinya tidak ada, berselingkuh, mencampakkan tiba-tiba atau istilahnya adalah ‘ghosting’, pelecehan seksual, dan membuat kecewa berkali-kali.

Bentuk toxic relationship dalam pertemanan bisa dari teman yang menjebak, menusuk dari belakang, diskriminatif, dan membuat lelah. Teman sebenarnya adalah mereka yang senang akan pencapaian kita sedangkan teman yang ‘toxic’ adalah mereka yang iri dengan pencapaian yang kita raih. Seseorang juga bisa memiliki hubungan yang beracun dalam hal spiritualitas atau relasinya dengan Tuhan. Hal ini bisa dipicu karena suatu pengalaman hidup yang sangat menyakitkan dan membuat dirinya merasa bahwa Tuhan telah membenci atau meninggalkannya.

Stress emosional dan mental yang kronis karena dikelilingi oleh orang yang “toxic” dapat merusak kesehatan mental. Kita akan menjadi merasa terisolasi, sedih, stress dan merasa tidak cukup berharga. Kekacauan pikiran dan emosi ini juga dapat menyebabkan gangguan pola makan dan kesehatan mental pada umumnya.

Solusi Toxic Relationship

Cara mengatasi diri kita sendiri dari hubungan yang ‘beracun’ adalah dengan tetap mengelilingi diri dengan orang-orang positif. Dengan cara ini kita akan mempertahankan kelompok pendukung yang baik dan konstan. Selain dari circle, melakukan perawatan diri juga tidak kalah penting. Hal yang dapat dilakukan misalnya olahraga, membaca buku, dan memberi hadiah untuk diri sendiri karena telah berhasil melakukan sesuatu. Jangan biarkan perasaan penyesalan atau keraguan diri muncul terus menerus. Luangkan waktu untuk diri sendiri sebelum terjun kembali ke hubungan yang lain.

Kita sebagai individu harus menentukan dan membangun batasan, tetap berfokus pada tujuan diri, dan tanamkanlah dalam diri bahwa kita berhak untuk bahagia. (JNS)