Home / Berita Terkini / Seri Kedua Webinar HI Unpar Bahas Dampak Ekonomi Covid-19

Seri Kedua Webinar HI Unpar Bahas Dampak Ekonomi Covid-19

Seri kedua Webinar The “New Normal” Talk Series yang diselenggarakan oleh Jurusan Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (HI Unpar) pada Senin (11/5/2020) mengangkat tema “Covid-19 & Ekonomi Politik Internasional: Dampak & Strategi Menghadapi The “New Normal””. Webinar ini mengundang pakar dan praktisi HI khususnya yang berkecimpung dalam dunia ekonomi politik internasional, dipandu moderator Giandi Kartasasmita, M.A.

Sesi pertama diisi dengan paparan dari tiga pembicara yaitu Dr. Adelbertus Irawan J. Hartono dari HI Unpar, Hari Prabowo selaku Direktur Perdagangan, Komoditas, dan Kekayaan Intelektual Kemlu RI, serta Konsultan Mastercard WorldWide Tommy Singgih yang juga merupakan alumnus HI Unpar. Ketiganya memberikan pandangan mengenai dampak Covid-19 terhadap ekonomi global dari kacamata akademis, pemerintah, dan praktisi bisnis.

Membuka paparannya, Dr. Irawan menyoroti kondisi ekonomi global sebelum krisis Covid-19, yaitu dengan adanya kebangkitan Tiongkok, serta munculnya revolusi industri 4.0 yang menghasilkan disrupsi juga inovasi bidang usaha. Krisis Covid-19 sebagai krisis kesehatan telah menyebabkan krisis sosial dan ekonomi, dengan adanya pembatasan mobilitas global menimbulkan terdampaknya berbagai sektor industri. 

Adapun New Normal nantinya akan terlihat dari pelonggaran terhadap pembatasan mobilitas manusia tersebut. Paparan Dr. Irawan ditutup dengan pelajaran bahwa dunia gagal mendalami globalisasi, di mana persoalan lokal dapat menjadi persoalan global. Untuk mengatasi hal tersebut dibutuhkan perbaikan mekanisme multilateralisme.

Dari perspektif pemerintah, Hari Prabowo menegaskan bahwa krisis Covid-19 merupakan suatu krisis yang ‘unprecedented’, tidak terduga bagi semua pihak. Tidak hanya membawa dampak bagi menurunnya perekonomian global namun sangat berpengaruh bagi masyarakat khususnya di tingkat bawah, terlihat dari peningkatan angka pengangguran dan potensi bertambahnya jumlah penduduk miskin.

Untuk itu, upaya diplomasi Indonesia kini dipusatkan pada kerjasama dalam peningkatan ekonomi digital serta pemberian stimulus bagi yang berkapasitas terbatas. Upaya ini tidak dapat dilakukan tanpa komitmen dan kerjasama global untuk keluar bersama dari krisis dan merencanakan bersama rencana pembangunan pasca-pandemik. Singkatnya, Covid-19 ini menjadi momen revitalisasi multilateralisme dan komitmen global partnership.

Sejalan dengan paparan Dr. Irawan dan Hari Prabowo, Tommy Singgih juga membahas bagaimana krisis Covid-19 dapat bertransformasi dari krisis kesehatan menjadi krisis ekonomi dan sosial serta mengubah perekonomian global. Fase survival ini ditandai dengan adanya industri yang jatuh, maupun yang bertahan seperti ICT, e-commerce, dan industri berkaitan kesehatan karena Covid-19.

Dampak sosial dan ekonomi perlu diatasi dengan stimulus dan kerjasama multilateral dalam meningkatkan ketahanan perekonomian. Selain itu, beberapa hal yang penting terjadi ialah mengurangi ketergantungan ekonomi dengan Tiongkok, perubahan pola belanja daring dari keinginan menjadi kebutuhan, serta penemuan segera vaksin Covid-19. 

Sesi kedua dilanjutkan dengan paparan dari Dandy Satria Iswara, Direktur Perundingan Multilateral Kementerian Perdagangan RI, serta dua orang dosen HI yang memiliki keahlian dalam bidang kajian ekonomi politik internasional. Dr. Aknolt Kristian Pakpahan (COVID-19 dan Implikasi Bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) serta Stanislaus Risadi Apresian, M.A. (Responding to the COVID-19 Outbreak in Indonesia: Lessons from European Countries and South Korea) dari HI Unpar menutup rangkaian webinar melalui paparan karya tulis yang telah dipublikasikan melalui Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional Unpar. (DAN – Divisi Publikasi)