Home / Berita Terkini / Seminar Nasional: Tantangan dan Peluang Shelter Evakuasi Bencana

Seminar Nasional: Tantangan dan Peluang Shelter Evakuasi Bencana

Indonesia adalah negara yang terletak secara geografis di kawasan yang rawan dengan bencana karena terletak di beberapa lapisan lempeng tektonik. Melihat kebutuhan masyarakat terkait kesiapan menghadapi bencana alam, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) mengadakan seminar nasional yang membahas tentang penanganan bencana, pada Jumat (16/11/2018) di Mgr. Geise Lecture Theatre FISIP Unpar.

Seminar tersebut diselenggarakan oleh Centre for Adaptation & Resilience Environmental Design Studies (CAREDs) yang berada di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unpar. Acara ini diadakan atas kerja sama dengan komunitas akademik seperti Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Barat, Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) serta disponsori oleh Daikin. Adapun penyelenggaraan acara bertepatan dengan ulang tahun kedua CAREDs Unpar.

Menyikapi bencana secara kontekstual

Bencana alam yang terjadi di Indonesia tidak dapat disama-ratakan baik dari segi kejadian maupun penanganan. Hal ini dikarenakan pada saat kita berupaya menangani suatu bencana alam, yang kita tolong adalah masyarakatnya. Masyarakat itulah yang membedakan dampak suatu bencana dan akan memengaruhi bagaimana kita menangani sebuah bencana.

Wisnu Widjaja selaku Wakil Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membuka sesi pertama diskusi melalui penjelasan tentang bagaimana sebaiknya kita melihat bencana sebagai sesuatu yang kontekstual. “Dampak dari bencana itu besar sekali! Lihat saja kemarin di Nusa Tenggara Barat. Karena gempa, (sektor) ekonomi yang dulunya tumbuh 2% akhirnya turun jadi minus,” ungkap Wisnu. Ia menambahkan, hal tersebut berbeda dengan daerah seperti Yogyakarta yang memiliki kemampuan lebih untuk memulihkan diri sehingga ekonomi mereka tidak lantas hancur meskipun butuh waktu untuk membangun ulang.

Wisnu mengungkapkan sesuatu yang menarik, “Sebenarnya masyarakat kita adalah aset terbesar. Dengan semangat gotong royong dan aktivisme maka kita sebenarnya sangat mudah untuk membantu. Pemerintah mengurus hal-hal yang besar, badan usaha swasta memberi bantuan semampu mereka seperti logistik. Lalu masyarakat dengan kerelaan mereka maju dan saling membantu,” terangnya. Ia kemudian memberikan contoh bencana gempa yang melanda Yogyakarta pada 2010 lalu. Bantuan makanan untuk 6000 orang pengungsi dengan mudah didapatkan melalui penyebaran informasi lewat media sosial Twitter. “Dari itu (Twitter) saja lalu ada pergerakan masyarakat saling bantu sana sini. Bisa lewat Lembaga Swadaya Masyarakat atau bahkan secara pribadi tergerak.” Ia menyimpulkan bahwa dengan mengarahkan semangat gotong-royong masyarakat juga melalui pendidikan teknis tentang penanganan bencana, kita dapat mengurangi korban bencana secara signifikan.

Andreas Hapsoro melanjutkan sesi seminar dengan memaparkan permasalahan konstruksi. Beliau sebagai Disaster Response Operations Specialist mengkaji tentang bagaimana masyarakat sulit pulih dari bencana. Pemulihan daerah berlangsung dalam proses dan tidak bisa instan. Sama seperti masyarakat dapat menjadi pendorong utama penanggulangan bencana, masyarakat pula dapat menghalangi proses pemulihan paska bencana. “Saya kasih contoh di Padang Pariangan. Mereka membangun rumah lagi itu maunya besar-besar tapi nggak mikir banyak tentang struktur yang kuat dan tahan gempa. Nah, kita ini berupaya membantu mereka untuk memperkuat bangunannya. Meskipun mereka memang lebih suka (segi) estetiknya daripada fungsionalnya tapi ini loh yang memang penting,” ungkapnya.

Beliau juga mengingatkan para mahasiswa arsitektur yang ingin membangun struktur atau konstruksi untuk memperhatikan konteks daerah seperti letak geografis dan budaya. “Seringkali dari rumah adat dan budaya, mereka juga udah ada awareness ke penanganan bencana, tapi karena sering dilupakan dan dianggap pusing maka kita lupakan. Padahal pengetahuan itu bisa sangat membantu,” terangnya. Andreas menutup sesi diskusi dengan memberi penjelasan tentang bagaimana konstruksi harus memperhatikan dampak lingkungan. Sederhananya, dalam membangun, harus ada pemanfaatan tanaman untuk memperkuat tanah.

Bukan gempa tapi bangunannya

Prof. Arief Sabarudin kemudian melanjutkan sesi seminar dengan membahas tentang pemanfaatan rancangan rumah yang efisien dan juga pentingnya konstruksi yang sederhana tetapi lebih kuat. “Kan kalau di daerah-daerah bencana itu (masyarakatnya) pada bikin rumah kadang sembarangan dan tidak peduli dengan konstruksi yang baik karena ingin cepat jadi. Ini berbahaya karena selama ini yang mematikan itu bukan gempa tapi orang tertindih bangunan yang runtuh.” Menurutnya, solusi untuk menurunkan korban jiwa dan luka-luka adalah dengan mendirikan bangunan yang lebih kuat dan lebih baik secara konstruksinya atau bila tidak mampu karena keterbatasan dana dan lainnya, maka lebih baik disediakan tempat landai seperti lapangan dan lahan kosong bebas dari bangunan agar masyarakat dapat mengevakuasi diri bila ada gempa.

Prof. Arief yang merupakan perwakilan dari IAI Jawa Barat juga mengemukakan bahwa ada kebutuhan untuk menyederhanakan struktur rumah agar dapat dibangun dengan cepat serta kuat. Dalam menjawab tantangan tersebut, ia pernah mencoba mengembangan konsep “Rumah Tumbuh” yaitu dengan membuat rumah dari komponen-komponen yang sederhana agar masyarakat di daerah bencana dapat merakit sendiri dengan lebih cepat. “Percobaan kami di Lombok, rata-rata mereka menyelesaikan rakitan (rumah) itu 5 jam saja,” jelasnya. Rumah tumbuh tersebut selain cepat dibangun juga mudah untuk “ditumbuhkan”. “Kalau nanti sudah mulai aman dan stabil, ya masyarakat bisa membeli kembali komponen rakitan dan membangun kembali rumah yang lebih besar,” pungkasnya.

Tim CAREDs Unpar menjadi presentator terakhir yang menutup sesi seminar. Dr. Pele Wijaya beserta Yenny G mempresentasikan tentang apa itu CAREDs serta pentingnya penanganan bencana yang efektif melalui sinergi BPNB dan masyarakat. Dr. Pele memberikan pemaparan mengenai berbagai situasi yang dihadapi oleh Indonesia saat ini. “Shelter itu ada banyak, bisa dari tenda dan bahkan bangunan, tergantung pemanfaatannya, yang penting itu efisiensi,” beliau menyimpulkan.