Home / Berita Terkini / Seminar Kebangsaan Pusat Studi Pancasila Unpar

Seminar Kebangsaan Pusat Studi Pancasila Unpar

Indonesia sebagai negara yang beragam bergerak secara progresif dalam menyikapi keragaman ras dan kesukuan. Perbedaan fisik tidak lagi menjadi dinding yang menghambat persatuan di antara warga. Justru, sekarang masyarakat kerap terbelah-belah oleh perbedaan ide, sesuatu yang lebih dalam dan lebih kompleks dibanding perbedaan warna kulit.

Lembaga Pengembangan Humaniora Universitas Katolik Parahyangan (LPH Unpar) mengajak generasi muda tentang perlunya kesadaran kolektif akan persatuan dari berbagai sektor. Melalui Seminar Kebangsaan, LPH mengundang narasumber dari berbagai bidang kajian untuk membahas keberagaman sesuai kajian mereka, pada Minggu (29/10) di Operation Room Rektorat Unpar.

Sesi pertama dibawakan oleh Prof. Johannes Gunawan yang merupakan akademisi dari Fakultas Hukum Unpar. Ia mengemukakan bahwa keberagaman dapat menjadi persatuan bila ada rasa saling memiliki di dalam komunitas berbangsa dan bernegara. “Pembangunan yang dulu Jawa-sentris sekarang dibalik menjadi luar jawa dahulu. Hal ini sudah tepat karena dengan begini orang-orang yang ada di luar Jawa akan merasa bahwa mereka memiliki identitas Indonesia dan dapat lebih menghargai keberagaman di atas identitas primordial,” ujarnya. Sebagai akademisi yang mengkaji ilmu hukum ia juga menyikapi berbagai RUU yang berkenaan dengan keberagaman.

Sesi kedua menghadirkan akademisi dari LIPI, Dr. Asvi Warman Adam. Akademisi yang menimba ilmu di Prancis ini mengulas tentang peran minoritas dalam perjuangan dan pembangunan bangsa. “W.R Soepratman memang menulis lagu Indonesia Raya, tapi yang merekam dan mendistribusikan lagu itu adalah label rekaman milik pengusaha Tionghoa. Selain itu, lokasi yang digunakan untuk menyandera Bung Karno di Rengasdengklok juga merupakan milik orang beretnis Tionghoa,” ungkapnya. Ia juga menyikapi pemisahan antara golongan Tionghoa dengan warga lokal sebagai bagian dari kesenjangan ekonomi dan praduga yang negatif. “Kalau tidak ada niat baik dari siapapun, ya akhirnya yang Tionghoa pada bangun dinding tinggi-tinggi dan yang waga lokal tetap curiga pada mereka. Kalau mau bersatu dalam keberagaman, kita perlu itikad baik dan pergerakan dari kedua belah pihak ini,” imbuhnya.

Pembicara terakhir adalah Romo Benny. Ia yang merupakan anggota BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) berbicara dari sudut pandang religius dan spiritual. Menurutnya, masalah ini bukan hanya masalah generasi muda namun lintas generasi karena generasi muda sekarang terbentuk dari pikiran dan cara pandang hasil bimbingan generasi terdahulu. “Masalahnya adalah kita sekarang punya generasi muda yang memang belum mengerti dan diajarkan oleh banyak generasi yang lebih tua yang justru tidak mengerti betapa pentingnya berpikir kritis pada Pancasila,” katanya. Ia juga membicarakan tentang bagaimana Pancasila seharusnya dapat menjadi gaya hidup bagi bangsa Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, ada pula sesi diskusi bersama. Moderator Elizabeth Dewi, Ph.D dosen HI Unpar, memandu diskusi bersama hadirin untuk membahas lebih dalam tentang topik kebersamaan dan kebhinekaan.