Home / Berita Terkini / Sekilas Diskusi Online Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan: “Tantangan Tingkat Kejahatan Pada Masa Pandemi (Covid-19) di Wilayah Jawa Barat”

Sekilas Diskusi Online Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan: “Tantangan Tingkat Kejahatan Pada Masa Pandemi (Covid-19) di Wilayah Jawa Barat”

Kisaran pada akhir tahun 2019 atau awal tahun 2020, masyarakat di dunia mengenal Coronavirus (Covid-19) sebagai pandemi. Pandemi ini menyebar hingga ke wilayah Indonesia, termasuk wilayah Bandung dan sekitarnya (Jawa Barat). Banyak hal berdampak dalam kehidupan kita, salah satunya mengenai kejahatan. Kejahatan di wilayah Jawa Barat menjadi fokus pembahasan dalam diskusi online yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan pada Jumat, 15 Mei 2020 pukul 15.00 WIB hingga pukul 17.30 WIB.

Kejahatan sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang kita lalui. Kejahatan yang terjadi di masa pandemi covid-19 memberikan warna kelabu dengan situasi kelam bagi kita semua, hal ini menjadi pembahasan lebih lanjut melalui pandangan para narasumber yang berasal dari Kepolisian Daerah Jawa Barat, akademisi Hukum Pidana dan Kriminologi, serta komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia dalam diskusi online yang telah berlangsung.

Kejahatan

Kejahatan berarti “perilaku yang bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku yang telah disahkan oleh hukum tertulis” (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Kejahatan berdasarkan pendapat R. Soesilo (1985) adalah tingkah laku manusia (walaupun sudah atau belum ditentukan dalam peraturan perundang-undangan) yang selain merugikan di penderita, juga sangat merugikan masyarakat yaitu berupa hilangnya keseimbangan, ketentraman, dan ketertiban. Beragam kejahatan memberikan akibat yang mengganggu kepentingan hukum (seperti fisik, psikis, harta benda, harkat maupun martabat, dan sejenis lainnya) dari individu maupun masyarakat luas.

Pengaturan atas kejahatan yang beragam terjadi dalam kehidupan kita terdapat dalam hukum tertulis yang berlaku di Indonesia (hukum positif) maupun dalam kaidah norma lain yang berkembang di masyarakat (norma kesopanan, norma kesusilaan, dan norma lainnya). Sehubungan dengan aparat penegak hukum, di mana salah satunya adalah Kepolisian (yang menjadi salah satu narasumber) maka penegakan hukumnya terbatas pada kejahatan yang terdapat dalam hukum tertulis saja (hukum positif). Sedangkan penegakan atas kejahatan yang diatur dalam kaidah norma yang berkembang di masyarakat (selain kaidah hukum), maka disesuaikan dengan jenis kaidah norma tersebut.

Covid-19

Covid-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh coronavirus. Coronavirus baru ditemukan sebagai sumber penyakit yang dapat mengakibatkan penyakit covid-19 ini bagi hewan maupun manusia. Penyakit ini mewabah bermula dari wilayah Wuhan, Tiongkok di bulan Desember 2019 dan terus menyebar ke beragam wilayah di dunia hingga bulan Mei 2020 ini. Banyak jumlah korban meninggal dunia karena penularan penyakit ini, sehingga pola hidup bersih harus dilakukan setiap waktu sebagai upaya pencegahannya. Adapun vaksin atas penyakit covid-19 ini belum ditemukan dan masih terus diupayakan oleh banyak pihak untuk segera ditemukan. Beberapa informasi tersebut adalah hal penting yang didapatkan dari World Health Organization (2020). 

Lalu berapa lama pandemi (Covid-19) ini berlangsung? Entahlah, namun mari selalu berpola hidup bersih dan berdoa agar Tuhan selalu melindungi serta memberi kesehatan bagi kita semua.

Kejahatan Masa Pandemi di Wilayah Jawa Barat dalam Pandangan Pihak Kepolisian

Pihak Kepolisian yang hadir dalam diskusi online ini sebagai narasumber adalah Bapak Kombes Pol. Drs. Moh. Hendra Suhartiyono, M. Si. selaku Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Jawa Barat. 

Bapak Hendra menyampaikan beberapa hal penting mengenai tingkat kejahatan di wilayah Bandung dan sekitarnya (Jawa Barat) pada masa pandemi (Covid-19) yang terhitung periode Januari hingga April 2020. Tidak semua bentuk kejahatan mengalami peningkatan, benar ada beberapa jenis kejahatan meningkat namun ada beberapa lainnya mengalami penurunan, bahkan ada yang cenderung tidak mengalami perubahan sama sekali. 

Kejahatan yang mengalami peningkatan adalah antara lain pencurian dengan kekerasan meningkat sekitar 25%, pembunuhan meningkat sekitar 14%, perjudian yang meningkat sekitar 14%. Lalu kejahatan yang mengalami penurunan ialah antara lain pencurian dengan pemberatan,

Pencurian motor, penganiayaan dengan pemberatan, penipuan dan penggelapan, serta narkotikA. Adapun kejahatan yang tidak mengalami perubahan sama sekali (terjadi namun berjumlah tetap) adalah kejahatan seksual.

Beliau juga menyampaikan bahwa tantangan kejahatan pada masa pandemi ini berupa masih maraknya kejahatan konvensional (street crime) yang dimungkinan karena adanya asimilasi narapidana dan semakin bertambahnya jumlah pengangguran, terjadinya penimbunan sembako, kejahatan siber (cyber crime) berupa hoaks atau ujaran kebencian, penyelewengan dana bansos, serta penyelewengan dana desa dalam rangka penanganan Covid-19.

Beragam langkah preventif maupun represif juga telah dilakukan oleh Kepolisian untuk mendukung program Pemerintah. Diharapkan langkah-langkah tersebut dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan Covid-19 sekaligus dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat di wilayah Jawa Barat.

Kejahatan Masa Pandemi dalam Pandangan Dosen Hukum Pidana dan Kriminologi

Pihak akademisi yang hadir dalam diskusi online ini adalah Bapak Agustinus Pohan, S.H., M.S. yang mengajar di Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan sejak tahun 1983. 

Bapak Pohan menyampaikan bahwa pandemi (Covid-19) memberikan ekses pada tingkat perekonomian sehingga negara mememberikan beragam kebijakan untuk melawan Covid-19. Beberapa kebijakan itu antara lain physical distancing, penerapan pembatasan social berskala besar (PSBB), serta pembebasan narapidana dalam jumlah besar.

Tampak dari prediksi, data, maupun survey di media massa yang memungkinkan tingginya kejahatan tertentu di masa pandemi ini. Tingginya kejahatan tersebut dapat terjadi secara signifikan. Faktor penyebab kejahatan secara teori dapat dilihat berdasarkan teori aktivitas rutin (routine activity theory) dari Marcus Felson dan Lawrence E. Cohen (1979). Teori ini mensyaratkan adanya pelaku yang termotivasi (motivated offenders), target yang cocok dan menarik dari korban kejahatan (suitable targets), serta tidak ada penjagaan yang cakap dan mampu melindungi atas orang atau barang yang menjadi target (absence of capable guardians). Apabila ketiga hal tersebut dapat dipengaruhi secara baik, maka peningkatan kejahatan yang ekstrim di masa pandemic (Covid-19) ini dapat dicegah.

Ditambahkan pula oleh beliau bahwa ketentuan Pasal 27 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2020 (Perppu 1/ 2020) sebaiknya tidak perlu diatur karena dapat membuka kesempatan yang dimanfaatkan bagi para pejabat (dalam korelasi sebagai motivated offenders), cukup dengan menggunakan sifat melawan hukum material dalam fungsi negatif yang telah sering digunakan dalam praktik penegakan Hukum Pidana di Indonesia.

Kejahatan Masa Pandemi dalam Pandangan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia

Pihak Komisioner yang hadir dalam diskusi online ini adalah Ibu Putu Elvina, S.Psi., M.M. yang menjabat untuk periode 2017 hingga 2022.

Ibu Putu menyampaikan bahwa Covid-19 merupakan ancaman global, termasuk bagi Indonesia. Sudah banyak pekerja kehilangan pekerjaannya dan ancaman timbulnya kemiskinan baru. Pada bidang hukum, telah banyak narapidana diberikan asimilasi sehingga kembali ke masyarakat, termasuk pula banyak anak sebagai pelaku kejahatan yang direintegrasi kepada keluarga masing-masing, hingga munculnya pola kejahatan baru di masa kini yang berbeda dengan kejahatan dalam kondisi normal.

Banyak hal berpengaruh atas posisi rentan anak sebagai pelaku kejahatan dalam masa pandemi ini yang perlu diperhatikan. Tantangan kejahatan di masa seperti sekarang antara lain jumlah rasio Kepolisian dengan jumlah masyarakat yang harus dilindungi sehingga menimbulkan ancaman atas rasa aman, area pengawasan yang sangat luas (social order vs fragile community), latar belakang pendidikan dan sosial yang sangat beragam di Indonesia, kekhawatiran atas krisis ekonomi.

Beberapa rekomendasi yang disarankan beliau dalam menghadapi tantangan di atas antara lain memperkuat komunikasi mapupun edukasi kepada masyarakat untuk membangun kesadaran masyarakat dalam pencegahan kejahatan melalui Babinkamtibmas, lalu membangun mekanisme kolaborasi antara berbagai  instansi untuk melakukan upaya pencegahan kejahatan hingga ke tingkat RT/ RW, mendorong koordinasi skema bantuan ekonomi dan sosial untuk keluarga rentan yang tepat sasaran, serta memperkuat jaringan kepedulian sosial bagi keluarga rentan agar kebutuhan dasar mereka terpenuhi.

Kesimpulan

Ketiga pandangan di atas mengenai tingkat kejahatan di wilayah Jawa Barat dan beragam pertanyaan mengenai topik relevan diskusi online ini juga telah dijawab oleh para narasumber diharapkan memberikan pemahaman lebih mendalam yang bermanfaat bagi para peserta maupun bagi masyarakat yang sedang berjuang di masa pandemi (Covid-19) ini. Mari tetap semangat untuk berharap dan berupaya atas rasa aman di sekitar kita dalam situasi abnormal ini.***

Penulis: Maria Ulfah, S.H., M.Hum. – Dosen Hukum Pidana di Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan dan moderator diskusi online “Tantangan Tingkat Kejahatan Pada Masa Pandemi (Covid-19) di Wilayah Jawa Barat”. (/DAN – Divisi Publikasi)