Sebuah Perjalanan Akademik

UNPAR.AC.ID, Bandung – Pengelolaan sumber daya alam Nusantara melalui proses industrialisasi secara tepat dan selaras dengan ketentuan hukum positif yang bertumpu pada kemampuan warga masyarakat, khususnya yang bermukim di perdesaan di segenap pelosok Nusantara, maka cita-cita untuk menjadi masyarakat yang adil dan makmur serta sejahtera bukanlah sebuah mimpi yang muluk.

Dalam konteks ini, teknologi, termasuk teknologi komunikasi atas dasar digital menempati posisi penting. Namun teknologi (serta materi) yang efisien dan efektif ini tetap ada di posisi sarana semata. Manusia Nusantaralah yang tetap merupakan dasar, sebab, dan tujuan dari segala perikehidupan berbangsa dan bernegara Republik Indonesia itu sendiri.

Lebih jauh lagi, hal ini berarti bahwa kita harus berupaya untuk mengubah wajah kehidupan hukum itu sendiri. Wajah hukum kolonial yang diskriminatif dan tidak jarang berwatak serakah dan bengis itu harus diubah menjadi lebih manusiawi. Hukum dengan demikian perlu dimaknai sebagai sarana untuk mencintai dan mereksa kehidupan yang manusiawi, terutama bagi mereka yang tersingkir dan tertindak serta selaras dengan reksa alam karya ciptaan Tuhan itu.

Demikian kiranya sedikit potongan hal yang dikemukakan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan (FH UNPAR) Prof. Koerniatmanto Soetoprawiro dalam Studium Generale FH UNPAR yang bertajuk “‘Testimonium Meum: Sebuah Perjalanan Akademik”, Jumat (15/9/2023) lalu. Studium Generale digelar dalam rangka memperingati 65 tahun berdirinya FH UNPAR.

Sosok yang lahir pada Februari 1953 ini memulai dengan menyampaikan perjalanan hidupnya sebagai seorang akademisi dan cerita masa lalunya yang diwakili dengan kalimat “yesterday was my culture to shape my character”.

Prof Kornie-begitu kerap disapa- pun bercerita berbagai bidang kajian hukum yang digeluti. Mulai dari hukum warisan kolonial, masyarakat pedesaan dan adat sebagai periferi, law for the poor, hukum kewarganegaraan dan keimigrasian, hingga hukum pertanian.

Materi dilanjutkan dengan apa yang ingin Prof. Koernie ingin lakukan di masa depan. Ia mengutip sebuah konsep yang diusung oleh Ir. Soekarno yaitu Trisakti sebagai arah yang diinginkan untuk merdeka, yang mencakup berdikari di bidang ekonomi, berdaulat di bidang politik, dan berkepribadian di bidang hukum.

Dalam konteks pendidikan, Prof. Koernie menekankan pentingnya karakter dalam proses pendidikan, yang bukan hanya tentang menjadi pintar, tetapi juga berkarakter. Pendekatan keluarga yang mendukung dan pendidikan rohani yang menjaga moralitas dan akhlak yang mulia dianggap penting.

Prof. Koerniatmanto menyoroti pentingnya pendidikan yang membangun karakter, bukan sekadar hafalan. Ia juga berbicara tentang spirit pengampunan (forgiveness) dan bagaimana itu bisa membawa kedamaian dalam situasi yang sulit.

Pentingnya pendidikan informal dan non-formal juga dibahas, serta peran keluarga dalam membentuk karakter individu. Juga pentingnya pendidikan formal dalam membangun nalar dan kemampuan berinovasi serta mencari solusi.

Selanjutnya, Prof. Koerniatmanto berbicara tentang pentingnya merdeka dalam dua hal, yaitu pengelolaan sumber daya alam dan perkembangan masyarakat pedesaan. Ia berharap agar sumber daya alam dan masyarakat pedesaan menjadi fokus pembangunan hukum di masa depan.

“Saya harap hasil dari pemikiran dan usaha manusia ini dapat menjadi bagian dari ilmu pengetahuan dan kehidupan,” ucapnya. (SYA/NAT-Humkoler UNPAR)

Berita Terkini

UNPAR Gelar Pelepasan Bagi 12 Tenaga Kependidikan Purnabakti

UNPAR Gelar Pelepasan Bagi 12 Tenaga Kependidikan Purnabakti

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) mengadakan acara pelepasan bagi 12 tenaga kependidikan (tendik) purnabakti, pada Rabu (15/5/2024) di Operation Room Gedung Rektorat. Pelepasan purnabakti tersebut diadakan UNPAR sebagai bentuk penghargaan...

Kontak Media

Humas UNPAR

Kantor Sekretariat Rektorat (KSR), Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung 40141 Jawa Barat

Sep 25, 2023

X