Riset UNPAR: Era Integrated Arts, Sebuah Alternatif Pendidikan Seni Terpadu

Persepsi umum masyarakat telah menerima bidang seni sama seperti bidang-bidang lainnya. Peluang bagi pendidikan seni terpadu.

UNPAR.AC.ID, Bandung – Penelitian yang dilakukan oleh Ignatius Bambang Sugiharto, Yohanes Slamet Purwadi dan Elvy Maria Manurung dari Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan mengungkap penyebab sekat-sekat dalam bidang seni yang semakin mencair. Hasil penelitian yang telah diterbitkan dalam “International Journal of Education Humanities and Social Science” (2021) tidak hanya menemukan jawabannya.  Lebih jauh lagi, penelitian tersebut membuka peluang integrated arts atau seni terpadu menjadi studi alternatif untuk pendidikan seni.

Sugiharto dkk. mengawali penelitian ini dengan pengamatan atas praktek berkesenian saat ini. Dulu masyarakat umum mengenal bentuk seni itu sedemikian baku. Bentuk dan batasan seni bisa dibedakan antara satu jenis kesenian dengan jenis yang lain. Namun dalam perkembangannya, seni kontemporer telah menabrak bentuk-bentuk baku tersebut. Sekat-sekat seni seperti mencair.

Sugiharto dkk. mencontohkan seni rupa  kontemporer yang berkembang saat ini. Seni rupa kontemporer kini cenderung  muncul dalam bentuk figur multimedia, dan intermedia. Tari-tarian, musik, lukisan, pertunjukkan teater, sastra, patung, keramik, film, bahkan desain bisa terjalin menjadi satu bentuk “seni terpadu”. 

“Di sisi lain, pengertian ‘seni’ sendiri kini telah berubah, menjadi lebih terfokus pada permainan ide imajinatif, semakin konseptual, intelektual dan filosofis, daripada mengutamakan karya seni-faktual atau sekadar permainan bentuk-bentuk indah,” tulis Sugiharto dkk. (2021).

Sugiharto dkk. memaparkan lebih jauh lagi. Seni sebagai permainan ide filosofis imajinatif membuat sebuah karya seni lebih bebas berinteraksi dengan semua bidang lain di luar seni. Seni bisa dengan bebas berinteraksi dengan sains, masalah lingkungan, persoalan ekonomi, agama, politik, dan lain-lain. 

Siswa SMA, Orang Tua, dan Guru sebagai Objek Penelitian

Penelitian Sugiharto dkk. menjadi menarik karena objek penelitiannya yang juga tidak biasa. Penelitian tersebut dilakukan di lingkungan siswa SMA, orang tuanya, serta guru sekolah untuk menggali dan menemukan jawaban atas pertanyaan mengenai pemahaman masyarakat umum atas seni rupa dan penerimaan masyarakat atas seni tersebut.

Seni rupa dipilih sebagai bentuk berkesenian yang menjadi fokus penelitian. Seni rupa dinilai merepresentasikan kecenderungan “seni terpadu”. Tidak hanya dari segi keterampilannya semata, tetapi seni rupa berkembang dengan munculnya kajian yang lebih luas dalam perspektif teoritis dan filosofisnya. Seni rupa saat ini relatif lebih cair dalam interaksinya dengan bidang lain di luar aspeknya sebagai seni. Lukisan, misalnya, dalam proses kreatif hingga bacaannya bisa melibatkan bidang kajian ilmu yang lain.

Sugiharto dkk. Juga mencontohkan munculnya aliran-aliran baru dalam seni rupa. Hingga akhir abad ke-20 seni rupa cenderung sangat konseptual dan intelektualistik. Namun kemunculan “Fountain”, patung karya karya Marcel Duchamp  tahun 1917 memunculkan pertanyaan atas jati diri seni. “Fountain” adalah urinoir berbahan porselen dengan tulis “R.Mutt” yang diajukan Duchamp dalam pameran”Society of Independent Artists “ di The Grand Central Palace di New York, Amerika Serikat. Karya Duchamp memang tidak ditolak, namun tidak dipamerkan saat itu. Lewat karyanya tersebut, Duchamp memantik pertanyaan atas seni itu sendiri.

“Dulu seni hampir selalu diasosiasikan dengan seni lukis atau patung, sekarang ‘pikiran’ atau ‘ide’ yang menjadi bahan utama pembuatan seni. Sejak saat itu ‘manusia’ sendirilah yang merupakan karya seni (man-as-a work-of-art),” tulis Sugiharto dkk. mengutip pendapat David Hopkins (2006).

Sugiharto dkk. Berpendapat bahwa seni rupa sebagai bidang kajian baru merupakan kecenderungan “seni terpadu” dari sudut pandang keterampilan, dengan kajian fenomena seri rupa baru dari perspektif teoritis-filosofis yang secara keseluruhan bersifat interdisipliner. Terbuka peluang bagi seni rupa untuk melakukan interaksi kreatif dengan disiplin ilmu yang lain. Penelitian juga sekaligus diarahkan untuk menemukan persepsi masyarakat umum tentang pentingnya pendidikan seni terpadu. 

Pemahaman Umum atas Seni

Ada dua kelompok yang menjadi objek penelitian Sugiharto dkk. Kelompok pertama adalah masyarakat umum yang diwakili oleh siswa SMA yang hendak melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Total 255 responden yang berasal dari 18 SMA di Bandung dan 10 SMA di luar Bandung.

Kelompok kedua adalah guru serta orang tua siswa. Kelompok guru terdiri dari guru, wakil kepala sekolah, serta wali kelas yang berasal dari 5 SMA di Bandung. Pertanyaan yang ditujukan pada para guru tersebut adalah pertanyaan seputar  persepsi mereka tentang seni.

Selanjutnya Sugiharto dkk. melakukan sosialisasi atas integrated arts atau seni terpadu via webinar Universitas Katolik Parahyangan dengan peserta siswa SMA dan guru BK. Disusul kemudian FGD dan wawancara dengan orang tua dan guru SMA.

Terdapat sejumlah pertanyaan yang diajukan pada siswa SMA. Di antaranya terkait langsung dengan penelitian Sugiharto dkk. seputar seni. Temuannya menarik. Hampir semua siswa berpendapat bidang seni bisa memberi pilihan untuk karier masa depan.

Jika bekerja di bidang seni dan kemanusiaan, sebagian besar memilih pekerjaan terkait dengan creative writing (36 persen), seni rupa (28 persen), serta musik (28 persen). Selebihnya  memilih manajemen seni, performance art, HRD, hingga pariwisata.

Sementara mengenai pemahaman atas seni, sebagian besar siswa melihat hubungan erat antara seni dengan kebebasan berekspresi (69 persen). Mengenai keterkaitan seni dengan bidang lain, pendapat siswa beragam. Ada yang memahami seni berkaitan dengan era digital (16 persen), dengan ekonomi kreatif (11 persen), serta budaya visual (8 persen).

Setelah mendapat penjelasan adanya studi seni terpadu sebagai pilihan untuk memilih jurusan di perguruan tinggi sebagian besar siswa menunjukkan ketertarikan. Ada 28 persen menyatakan minat, 33 persen berniat mendaftar, dan 58 persen akan mempertimbangkannya.

Persepsi serta pemahaman guru dan orang tua tentang bidang seni serta lebih khusus lagi tentang seni terpadu, pendapat mereka pun relatif positif. Seorang informan guru SMA, misalnya, berpendapat bahwa pendidikan seni terpadu sangat dibutuhkan. Dia menyatakan, generasi saat ini perlu dibekali mengenai konsep seni yang tepat, pemahaman seni yang lebih luas dan mendalam agar dapat menghargai diri sendiri, orang lain, serta kehidupan di sekitar mereka.

Catatan untuk Seni Terpadu

Sugiharto dkk. memberikan sejumlah catatan dari hasil survei dan wawancara. Catatan tersebut bisa dikelompokkan ke dalam tiga kategori gagasan kunci, yakni konsekuensi filosofis kesenian terpadu, kreativitas sebagai kecerdasan intelektual, serta kecenderungan interdisipliner.

Pertama, konsekuensi filosofis seni terpadu. Sugiharto dkk. berpendapat seni terpadu yang merupakan bidang baru akan mendapat tantangan besar karena suasana pendidikan seni di Indonesia yang saat ini lebih banyak diwarnai aspek keterampilan teknis. Kurikulum seni didominasi nalar teknis, bahasa deskriptif, dan logika dogmatis.

Namun seni terpadu masih memiliki peluang untuk dikembangkan dengan melihat perkembangan jaman yang ditandai dengan peradaban yang membuat kabur sekat-sekat kehidupan. Tuntutan pekerjaan di bidang seni, misalnya, menuntut kemampuan untuk bekerja serba bisa, cerdas, serta kreatif. Dunia kerja kini juga  makin ditandai dengan karakter interdisipliner, sekaligus tetap manusiawi.

Kedua, kreativitas sebagai kecerdasan baru. Sugiharto dkk berpendapat bahwa generasi baru akan dihadapkan pada gambaran masa depan yang bergejolak, dan jenis masa depan yang ditandai dengan ketidakpastian. Sehingga yang dibutuhkan generasi muda milenial kini adalah membentuk profil diri dari pada mengejar profesi. Profil tersebut mengacu pada arti bahwa  menjadi kreatif adalah kecerdasan baru, karena “kreativitas” menjadi lebih diperlukan daripada kecerdasan konvensional.

Terakhir, ketiga,  kecenderungan interdisipliner baru. Sugiharto dkk. berpendapat dengan kreativitas sebagai bagian baru dari kecerdasan manusia akan memiliki implikasi , bahkan menuntut bidang studi interdisipliner. Ini berarti ada upaya ilmiah untuk saling memperkaya antara bidang filsafat dan seni, teori dan praktek. Kreativitas mendorong kecenderungan kolaborasi, baik antar bidang seni yang sebelumnya terpisah, maupun antara sains dan teknologi. Itulah seni terpadu.

Artikel Riset UNPAR terbit sebagai bagian dari kolaborasi antara BandungBergerak.id dan UNPAR.

Berita Terkini

UNPAR Gelar Pelepasan Bagi 12 Tenaga Kependidikan Purnabakti

UNPAR Gelar Pelepasan Bagi 12 Tenaga Kependidikan Purnabakti

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) mengadakan acara pelepasan bagi 12 tenaga kependidikan (tendik) purnabakti, pada Rabu (15/5/2024) di Operation Room Gedung Rektorat. Pelepasan purnabakti tersebut diadakan UNPAR sebagai bentuk penghargaan...

Kontak Media

Humas UNPAR

Kantor Sekretariat Rektorat (KSR), Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung 40141 Jawa Barat

Dec 1, 2022

X