Rektor UNPAR: Memahami Urgensi Pemetaan Potensi Ancaman dan Tantangan dalam Merawat Kebangsaan

Peranan perguruan tinggi dalam menanamkan nilai-nilai wawasan kebangsaan tentunya signifikan dengan upaya mempertahankan Pancasila, merawat kebangsaan, menjaga kebhinekaan dan mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Rektor Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Mangadar Situmorang, Ph.D pun memetakan dan mengidentifikasi berbagai tantangan dan ancaman yang dihadapi bangsa ini sejalan dengan peran perguruan tinggi menghadapi tantangan dan ancaman tersebut.

Hal itu disampaikan Rektor dalam Seminar Kebangsaan Ikatan Alumni Universitas Katolik Parahyangan (IKA UNPAR) bertema “Dengan Semangat Kebangsaan, Menjaga Tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia di Tengah Arus Globalisasi”, yang dilaksanakan secara daring, Rabu (2/6/2021).

Turut hadir dalam seminar tersebut Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Wali Kota Bogor Bima Arya, Ketua IKA UNPAR Ivan Petrus Sadik, Anggota Komisi X DPR RI Andreas Hugo Pareira, Ketua IKA FISIP UNPAR Bonggas Adhi Chandra, MA, dan Jurnalis Narasi Sharon Margriet Sumolang. Seminar tersebut dipandu Stela Nau selaku Founder of NTT Muda.

“Persoalan kebangsaan ataupun nasionalisme itu adalah ikhtiar akademik, ilmiah, bukan hanya politis. Bicara wawasan kebangsaan selalu dihadapkan pada kekuatan tarik menarik, baik itu left wings maupun right wings. Secara ideologi itu sangat nyata ketika kita bicara tentang Pancasila. Demikian juga dengan tekanan ataupun ancaman  yang bersifat vertikal, yaitu tekanan globalisme, dan pada saat bersamaan dihadapkan pada tarikan sub-nasionalisme,” tutur Rektor.

Menurut Rektor, hanya untuk mengidentifikasi dan memetakan wawasan kebangsaan itu sendiri, ada kepentingan tarik-menarik antara kekuatan ideologis, politik, kultural, dan sebagainya. Beberapa ideologi dari sayap kiri misalnya komunisme, sosialisme, ataupun yang bersifat otoritarianisme. Maupun sayap kanan yang lebih dikenal dengan liberalisme, kapitalisme, yang berwujud dalam bentuk korporatisme. 

“Ini adalah sayap-sayap ideologis yang bersifat global yang dihadapi Pancasila sebagai ideologi bangsa kita,” ujarnya.

Pada level nasional atau subnasional, lanjut Rektor, masyarakat Indonesia dihadapkan pada tarikan-tarikan primordialisme, tradisionalisme, sukuisme, kedaerahan, atau bahkan pada fanatisme lain termasuk yang terkait dengan faksionalisme politik. Ini kemudian tersebar juga dalam berbagai macam aksi dan tindakan yang biasa disebut terorisme, radikalisme, ekstremisme, dan separatisme.

“Wawasan kebangsaan ada di pusaran tarik menarik ataupun tekanan  ancaman tersebut, Demikian juga jika mengidentifikasi kecenderungan globalisme. Di satu sisi kita melihat ada kecenderungan isolasionisme, paralel ada kecenderungan intervensionisme. Masyarakat global pun ingin membangun solidaritas global dan ingin menciptakan global society termasuk lewat konteks global village misalnya,” kata Rektor.

Pada level nasional, bangsa ini dihadapkan pada seperangkat tantangan dan persoalan terkait kemiskinan, ketidakadilan, praktik-praktik kekerasan baik kultural maupun struktural, ketertinggalan, berbagai macam pelanggaran hak asasi manusia (HAM), ketidakpatuhan hukum, kerusakan lingkungan hidup, ataupun praktik koruptif. 

“Semua ini kita pahami betul sebagai ancaman dan tantangan terhadap wawasan kebangsaan kita,” ujarnya.

Rektor juga menegaskan bahwa wawasan kebangsaan bukanlah sebuah proses yang bersifat alamiah, harus ada social engineering yang dikenal sebagai proses intelektual atau akademik. Oleh karena itu, penting untuk ditekankan urgensi riset-riset penelitian di bidang sosial-politik kebangsaan. Penelitian yang berakar pada aspek kultural, budaya, historis, dan geografis Indonesia secara komprehensif.

“Selama ini saya kira kita lebih banyak, termasuk saya lebih banyak mengadopsi, mengimitasi atau bahkan kemudian menjadi juru bicara dari penelitian-penelitian global yang kita re-sounding, kita transfer kepada teman-teman mahasiswa,” ucapnya.

Menurut Rektor, penelitian-penelitian autentik yang berakar pada budaya masyarakat Indonesia acapkali terpinggirkan, karena dominasi serangkaian pemikiran yang diadopsi dari para pakar Eropa atau Amerika. Perguruan tinggi, lanjut dia, lebih menjadi amplifier konsep dan gagasan kebangsaan tentang sistem politik Indonesia. Sejauh ini, belum cukup terekspose penelitian-penelitian yang bersifat antropologis, etnografis, ataupun sosiologis sebagai dasar rekomendasi kebijakan publik.

“Ini menjadi ironi sekaligus menjadi tantangan untuk kita. Poinnya adalah bahwa di dalam membangun wawasan kebangsaan itu juga adalah aktivitas akademik, aktivitas ilmiah melalui riset dan forum-forum akademik,” tuturnya.

Mulai dari riset dan rekomendasi kebijakan terkait kepemimpinan yang efektif dan demokratis, sistem sosial politik tentang kelembagaan dan hukum. Pun patut disadari betul bahwa kebangsaan itu akan rapuh jika tidak didukung oleh pembangunan ekonomi, kesejahteraan dan keadilan sosial, serta penguasaan teknologi/digital.

Kendati demikian, Rektor tak memungkiri bahwa ikhtiar akademik seringkali tidak terbebas dari pertarungan politis. Pancasila akan selalu dihadapkan pada kekuatan tarik menarik kapitalisme, liberalisme, ataupun juga sejenisnya. Demikian juga dengan konstelasi kekuatan kekuasaan yang bersifat global maupun domestik. Termasuk peran partai politik yang menjadi penggerak, kekuatan yang bisa menggiring masyarakat, konstituen pada orientasi ideologis atau wawasan yang bisa jadi pertentangan dengan wawasan kebangsaan Indonesia.

“Ada juga kepentingan-kepentingan tertentu di sana yang tidak saja bersifat ideologis, tetapi juga bisa bersifat sangat pragmatis,” ucap Rektor.

Rektor berujar, perguruan tinggi di Indonesia tidak akan terlepas dari konstelasi politik. Namun begitu, pengembangan akademik dengan sikap-sikap ilmiah, kreatif, dan inovatif harus tetap dilaksanakan. Perguruan tinggi mesti terbuka untuk mengkritisi nasionalisme secara umum, apakah itu etnonasionalisme atau civic nationalism, atau ada nasionalisme yang lain.

“Perguruan tinggi perlu dimampukan dalam berbangsa dan bernegara yang berbasis pada ideologi Pancasila. Termasuk sikap-sikap humanisme dan tidak kalah penting adalah apa yang dikembangkan di perguruan tinggi bisa berkontribusi bagi upaya mempertahankan Pancasila, merawat kebangsaan, menjaga kebhinekaan, dan mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial,” tuturnya.

Pendidikan Karakter

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI Andreas Hugo Pareira meyakini bahwa pendidikan karakter menjadi aspek penting dalam peningkatan sumber daya manusia (SDM) Indonesia, karena tentunya akan berdampak pada kemajuan suatu bangsa. Aspek kognisi, afeksi, dan pendidikan karakter harus berjalan beriringan.  Namun hingga kini pendidikan karakter belum dioptimalkan, padahal pendidikan karakter diharapkan menjadi salah satu hal yang bisa difokuskan sehingga anak-anak muda semakin memahami Pancasila secara value bukan hanya sekadar hafalan.

“Hidup di tengah bangsa yang lain, mengharuskan Indonesia menjadi bangsa yang kuat. Itu harus didukung oleh kecerdasan kehidupan berbangsa. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mempunyai SDM yang unggul dan ini hanya mungkin melalui pendidikan,” ucapnya.

Pendidikan karakter, lanjut dia, merupakan suatu bentuk kesadaran akan kebangsaan, kebhinekaan yang terjadi di lingkungan global. Nasionalisme tumbuh dan berkembang di tengah internasionalisme, bangsa ini harus sadar adanya bangsa lain dan bisa membawa diri menjadi bangsa yang hebat dan cerdas di tengah bangsa lain. 

“Kesadaran untuk bergotong royong, kreatif, bernalar kritis, dan mandiri. Itu cita-cita ideal  kita tentang bagaimana profil generasi muda yang Pancasila yang kemudian menjadikan karakter Indonesia. Hal yang menjadikan bangsa Indonesia unggul adalah pada karakter. Oleh karena itu, patut direfleksikan kembali adalah bagaimana menata kembali sistem pendidikan Indonesia. Di samping mengisi kognisi dan afeksi pada generasi muda, sekaligus membentuk karakter sebagai bangsa Indonesia sebagai manusia yang Pancasilais,” kata Andreas. (Ira Veratika SN-Humkoler UNPAR)