Refleksi 76 Tahun Kemerdekaan Indonesia, UNPAR Serukan Optimisme Merdeka dari Pandemi Covid-19

Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) melalui Satuan Tugas (Satgas) UNPAR Fights Covid-19 (UFC-19) terus bahu membahu bersama masyarakat berkontribusi untuk mencegah penyebaran Covid-19. Di sisi lain, tak dimungkiri ada sejumlah hal yang akan menjadi norma baru pasca Covid-19. 

Hal tersebut mengemuka dalam talkshow bertajuk  “Refleksi Kemerdekaan Indonesia ke-76 di Lingkungan UNPAR” sekaligus pemutaran film dokumenter UFC-19, yang telah berlangsung secara hybrid, pada Selasa (31/8/20021) lalu. Hadir sebagai pembicara, Direktur Eksekutif Charta Politica-cum-alumnus UNPAR Yunarto Wijaya dan Ketua Satgas UFC-19 Catharina Badra Nawangpalupi, Ph.D dengan moderator Mardohar Batu Simanjuntak, S.S., M.Si. dari Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH) UNPAR.

Tak dimungkiri, sebagai institusi pendidikan tinggi, UNPAR mengalami dampak dari pandemi Covid-19. Talkshow ini digelar sebagai momentum untuk mengingatkan kembali akan ketahanan negara yang tengah diuji dengan berbagai persoalan di usianya ke-76 tahun.

Dalam acara tersebut, Ketua Satgas UFC-19 Catharina Badra Nawangpalupi, Ph.D. berbagi cerita langkah konkret yang dilakukan UNPAR dalam penanganan pandemi Covid-19 untuk menjamin keberlangsungan UNPAR sebagai institusi pendidikan tinggi.

“Saat ini sikap UNPAR kombinasi antara reaktif dan proaktif. Kami melakukan segala penyusunan protokol. Hal-hal yang kami lakukan bukan hanya pengamanan kampus, tetapi juga sanitasi kampus dan lingkungan sekitar. Kami melakukan tindakan mitigasi, misalnya UNPAR memberikan bantuan sembako dan vaksinasi,” tutur Catharina.

Dia menuturkan, sikap reaktif dan proaktif diperlukan agar UNPAR melalui Satgas UFC-19 adaptif terhadap perkembangan situasi dan kondisi terkini. Mengingat segala program Satgas UFC-19 perlu ditindaklanjuti cepat. 

Sekadar informasi, Satgas UFC-19 mengeluarkan Buku Saku Protokol Adaptasi Kebiasaan Baru UNPAR. Informasi terkait pencegahan penyebaran Covid-19 dan kebijakan tentang adaptasi kebiasaan baru dapat diperoleh di laman ufc.unpar.ac.id. Lebih lanjut, dalam keadaan darurat nomor hotline Satgas UCF-19 yang dapat dihubungi adalah 08112141955. Jika dosen atau tenaga kependidikan hendak melakukan konsultasi kesehatan dapat menghubungi Klinik Pratama UNPAR (+62 22 826 023 86) dari pukul 8.00-14.00.

Dia mengungkapkan, kondisi saat ini pun jadi tantangan tersendiri bagi kita agar tetap menjaga kualitas interaksi satu sama lain. Misalnya, interaksi antara dosen dan mahasiswa menjadi tantangan utama selama proses pembelajaran.

“Yang utama tetap bagaimana kita menjaga kualitas interaksi yang tadinya offline menjadi online. Artinya empati kepekaan kita itu yang harus tetap dilatih,” katanya.

Catharina pun menuturkan upaya yang UNPAR lakukan untuk memberikan solusi bagi masyarakat sekitar terkait vaksinasi. Koordinasi dengan berbagai pihak, lanjut dia, menjadi kunci baik terhadap pihak internal maupun eksternal UNPAR.

“Pihak yang menolak (vaksinasi) pun ditemukan, tetapi bagaimana mempersuasi itu menjadi PR (pekerjaan rumah,red) lain yang harus dilakukan Satgas UFC-19. (Persuasi) bukan hanya untuk proteksi diri, tapi juga proteksi bagi orang lain,” ujarnya.

Dia pun berharap momentum kemerdekaan dilihat sebagai langkah merdeka dari kondisi pandemi berkelanjutan dan memerdekakan diri sebagai makhluk sosial. Tantangan sebagai seorang makhluk sosial adalah menjadi homo homini socius, bukan menjadi homo homini lupus

“Dalam konteks refleksi kemerdekaan ke-76 ini, bagaimana kita dalam kondisi pandemi ini berhasil belajar beradaptasi menjadi seseorang dan menjadi sahabat bagi orang lain. Bukan malah menjadi seseorang yang memanfaatkan orang lain dan menjadi serigala bagi orang lain,” ucap Catharina.

Sementara itu, Yunarto Wijaya pun menjabarkan sejumlah hal yang akan menjadi norma baru pasca Covid-19. Mulai dari go virtual (bekerja, belajar, belanja, politik); kesukarelaan non-partisan; otonomi daerah format baru; big government kembali jadi kebutuhan; kembalinya kepakaran; pola hidup bersih dan sehat jadi norma, bukan lagi jargon; saring sebelum sharing informasi apapun; beriman dengan akal, religiusitas baru; lingkungan hidup yang lebih bersih bukan utopia; government matters for serious people, dari populisme ke kompetensi; dan masih ada banyak lagi kemungkinannya.

“Mereka ulang berbagai kemungkinan tentang hal-hal yang positif niscaya membangkitkan rasa optimisme. Kita masih punya masa depan yang bahkan bisa lebih baik dari hari ini,” tuturnya.

Rektor UNPAR Mangadar Situmorang, Ph.D. pun menyampaikan apresiasinya kepada kedua narasumber yang telah berbagi cerita dan insight pada acara refleksi kemerdekaan di lingkungan UNPAR. Mulai dari aspek praktis pelaksanaan implementasi secara institusional oleh UNPAR dalam menyikapi pandemi Covid-19. Hingga informasi/data berupa fakta dan tentu juga insight berupa analisis-analisis yang tidak saja tajam tetapi juga komprehensif sebagai implikasi dari situasi yang terjadi. Mulai dari isu kesehatan, ekonomi, sosial, dan politik.

“Semoga apa yang disampaikan bisa memberi, inspirasi untuk kita semua khususnya untuk adik-adik mahasiswa,” tutur Rektor. (Ira Veratika SN-Humkoler UNPAR)