Rancang Masa Depan, UNPAR Bagikan Tips Tentukan Pilihan Jurusan Kuliah ke Pelajar SMP Santa Ursula Bandung

Menentukan pilihan merupakan bagian dari proses belajar, karena yang tersulit bukanlah memilih tetapi bertahan pada pilihan. Merencanakan masa depan sejak dini dengan mulai menetapkan tujuan akan pilihan yang telah dibuat penting bagi semua kalangan, tak terkecuali pelajar kelas IX SMP Santa Ursula Bandung yang baru menyelesaikan studi menengah pertamanya.

Kali ini, Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) melalui Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH) berbagi tips kepada sedikitnya 78 pelajar mengenai gambaran secara umum perihal menentukan pilihan jurusan perkuliahan dan berbagai macam pekerjaan. Difasilitasi oleh konselor LPH UNPAR Ignatia Ria Natalia, S.Psi., CGA., webinar bertajuk “My Promising Future” yang berlangsung interaktif itu membahas ihwal mengeset tujuan hingga menentukan langkah untuk mencapai tujuan tersebut.

“Pilihanmu menentukan masa depanmu. Jadi walaupun baru lulus dari kelas IX, baru memulai masuk SMA (Sekolah Menengah Atas), tetapi memang sebaiknya merencanakan masa depan itu dipersiapkan sedari ini atau saat usia remaja. Supaya jalan persiapannya itu makin panjang,” demikian disampaikan Ria-begitu kerap disapa-saat memulai diskusi.

Hal pertama yang perlu disiapkan adalah mengeset tujuan. Menurut dia, secara umum sudah sewajarnya setiap orang mempunyai tujuan sehingga orientasi dan energi yang disalurkan untuk mencapai tujuan itu takkan percuma. Termasuk para pelajar yang baru lulus sekolah menengah pertama, tak ada salahnya jika sudah menentukan tujuan demi masa depan yang menjanjikan.

“Orang jika tidak punya cita-cita, bawaannya itu enggak jelas mau kemana, mau ngapain. Agar produktif tiap harinya, maka teman-teman perlu memiliki tujuan, apapun itu. Misalnya belajar atau mendapat nilai bagus. Cita-cita itu diibaratkan sebagai tujuan,” tuturnya.

Dia pun menjabarkan beberapa survei yang dilakukan pihaknya terhadap total 83 pelajar kelas IX Santa Ursula. Survei pertama ‘Apa Cita-citamu?’ menunjukkan bahwa 13 orang bercita-cita menjadi pengusaha, 1 orang psikiater, 3 orang arsitek, 2 lawyer, 2 orang menjadi chef, 2 orang bercita-cita menjadi tentara, 7 orang menjadi dokter, 7 lainnya memilih menjadi artis, aktris, youtuber, dan musisi. Di sisi lain, terdapat 7 pelajar yang masih bingung menentukan cita-citanya. Survei selanjutnya, ‘Apakah Kamu Sudah Menentukan Jurusan Kuliah?’. Sebesar 68,7 persen sudah menentukan dan 31,3 persen belum.

“Melihat infografis ini, lebih dari 70 persen siswa/i SMP Santa Ursula sudah memiliki cita-cita. Ini hal yang sangat baik. Sementara yang mungkin masih bingung tujuan akhirnya apa, cita-citanya apa, tapi rata-rata menjawab sudah dan itu menjadi indikator yang sangat baik karena sudah menentukan jurusan perkuliahan,” ujarnya.

Survei selanjutnya, ‘Dalam Menentukan Pilihan Jurusan Kuliah, Apakah Dipilih Sendiri atau Orang Tua Ikut Menentukan?’, 3,6 persen dipilihkan oleh orang tua, 19,3 persen bebas menentukan sendiri, dan 77,1 persen memilih sendiri tetapi ada diskusi dengan orangtua. 

“Dalam hal ini orang tua memberikan pertimbangan, kenapa ada diskusi karena masih dibiayai oleh orang tua sehingga tak dimungkiri pendapat dari orang tua mempengaruhi pilihan dalam menentukan jurusan perkuliahan. Mungkin ada ekspektasi sendiri dari orang tua dan ini harus dipahami bersama,” ucapnya.

Ria pun menuturkan manfaat jika seseorang memiliki cita-cita. Mulai dari untuk memberikan motivasi, menjadikan diri disiplin, memberikan tujuan hidup, memberikan semangat belajar dan daya juang, serta melatih kemandirian. Dengan harapan cita-cita yang ditentukan membuat waktu yang digunakan lebih efektif dan energi yang dikeluarkan menjadi produktif, sehingga penting untuk menata tujuan di awal.

Tak sekadar cita-cita, pelajar Santa Ursula juga diimbau untuk memiliki motivasi, baik motivasi yang bersifat internal maupun eksternal. Internal munculnya karena kesadaran dan keinginan diri sendiri. Sementara motivasi eksternal muncul karena ada situasi di luar yang mendorong melakukan sesuatu.

“Yang perlu diperhatikan, motivasi internal itu biasanya lebih bertahan lama karena yang memunculkan itu dalam diri. Kalau motivasi bersifat eksternal, situasi luar tidak bisa kita tentukan berapa lama itu bisa bertahan,” katanya.

Motivasi internal contohnya belajar karena keinginan sendiri, belajar demi mencapai cita2, dan belajar adalah suatu kebutuhan. Sementara motivasi eksternal bisa karena belajar demi mendapatkan pujian, mendapatkan hadiah, menghindari hukuman, dan belajar dengan harapan mendapat nilai yang bagus.

Tentukan Pilihan

Ria pun berbagi tips dan trik sebelum memilih jurusan kuliah yang tentunya berdampak pada prospek kerja di masa mendatang. Pelajar Santa Ursula diimbau untuk aktif mencari informasi (jurusan yang diminati dan kampus yang dituju), time management (berlatih mendisiplinkan diri), effort (menyiapkan diri dengan belajar), dan membuat target harian (membuat setiap harimu menjadi lebih produktif).

Sementara tujuan dari kuliah itu sendiri tentunya memperluas wawasan, mendewasakan pola pikir, melatih soft skills, memperluas jaringan relasi, dan meningkatkan kompetensi kerja. Menurut dia, memilih jurusan adalah bagian dari proses belajar. Sebab yang tersulit bukanlah memilih tetapi bertahan pada pilihan dan mesti bertanggung jawab dengan pilihan yang telah dibuat. 

“Intinya rencanakan hidupmu kemudian tetapkan tujuan dan laksanakan apa yang sudah menjadi rencana kalian, jangan cuma wacana. Apapun langkah yang kalian pilih, itu menentukan siapa diri kalian kelak,” tutur Ria. (Ira Veratika SN-Humkoler UNPAR)