Home / Berita Terkini / Profil Kewirausahaan Indonesia 2013-2017

Profil Kewirausahaan Indonesia 2013-2017

Tingkat kewirausahaan nasional menjadi perhatian serius bagi pengambil kebijakan publik, karena merupakan ukuran pembangunan ekonomi suatu negara.  Pada Maret 2017, melalui siaran pers Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, diberitakan bahwa rasio wirausaha Indonesia naik menjadi 3,1%, yang hanya memperhitungkan pelaku usaha non-pertanian. Sedangkan pada tahun sebelumnya, 2013/2014 dinyatakan rasio wirausaha hanya 1,67%.  Hal ini memunculkan keingintahuan “Apa dan bagaimana rasio kewirausahaan tersebut ditentukan?”, “Rasio kewirausahaan apa yang dapat diperbandingkan antar negara?”, “Kenapa satu negara lebih entrepreneurial dibandingkan negara lain?”, “Apa motif seseorang melakukan aktivitas kewirausahaan?”, “Faktor apa yang mendorong/menghambat kewirausahaan?”, dan masih banyak pertanyaan lainnya.  Tentu pertanyaan tersebut dapat dijawab bila mengacu pada sebuah konsep kewirausahaan yang sama.

Salah satu inisiasi penelitian kewirausahaan global dilakukan oleh konsorsium Global Entrepreneurship Monitor (GEM). Konsorsium GEM ini merupakan jaringan global, mencakup lebih dari 100 negara, yang melakukan penelitian kewirausahaan dengan sebuah model kewirausahaan – Model GEM.  Model GEM menghasilkan indikator kewirausahaan, baik pada level individu maupun nasional yang dapat diperbandingkan antarnegara. Saat ini indikator model GEM menjadi acuan utama organisasi internasional, seperti United Nation, World Bank, World Economic Forum, dan OECD.

Bagaimana dengan Indonesia? Saat ini data kewirausahaan fokus perhatian lebih pada rasio/jumlah individu yang berusaha, dan skala usaha seperti usaha mikro, kecil, menengah, dan besar. Sedangkan kewirausahaan secara komprehensif masih belum tersentuh, sehingga kajian kewirausahaan sangat terbatas pada profil pelaku usaha berdasarkan skala, jumlah penyerapan tenaga kerja, besarnya omset, jenis usaha.  Pada sisi lain, penyusun kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan wirausaha, tidak hanya membutuhkan profil pelaku usaha, tapi juga perlu melihat aspek-aspek lain, seperti sikap, aktivitas, motif, dan jaringan sosial. Untuk itu model kewirausahaan GEM menjadi amat relevan untuk diacu. Pada tulisan ini, pertama akan disajikan model GEM dan keunikannya, kedua, profil kewirausahaan Indonesia 2013-2017, dan ketiga, potensi kewirausahaan dalam mencapai daya saing global.

Model GEM

Kewirausahaan berdasarkan model GEM dilihat sebagai sebuah proses kewirausahaan, yang mencakup konteks, lingkungan usaha (ekosistem kewirausahaan), sikap dan aktivitas kewirausahaan, dan output (penciptaan lapangan kerja ataupun pembangunan ekonomi).  Aspek konteks dalam proses kewirausahaan adalah kondisi sosial ekonomi, politik, dan budaya suatu negara.

Aspek sikap kewirausahaan dibagi menjadi persepsi atas kemampuan, kesempatan, keberanian menghadapi resiko, panutan, aspek sosial, intensi, serta aspirasi kewirausahaan.  Sedangkan aktivitas kewirausahaan terbagi menjadi tiga (3) fase, yaitu wirausaha dini, wirausaha baru, dan wirausahawan mapan. Fase wirausaha dini dan wirausaha baru didefinisikan sebagai aktivitas kewirausahaan awal (total early entrepreneurial activity – TEA).

Sikap dan aktivitas kewirausahaan ini didukung oleh adanya lingkungan usaha yang kondusif, yang disebut sebagai ekosistem kewirausahaan.  Ekosistem kewirausahaan ini dibagi menjadi kondisi dasar, efisiensi, dan inovasi. Keberadaan ekosistem kewirausahaan ini dapat menjadi pendorong aktivitas kewirausahaan, yang pada akhirnya menghasilkan penciptaan lapangan kerja, serta adanya pembangunan ataupun penurunan ekonomi nasional. Pada kondisi tertentu ekosistem kewirausahaan dapat saja menjadi faktor penghambat proses kewirausahaan.

Pengukuran kewirausahaan dilakukan melalui survei nasional, yang dilakukan oleh tim nasional masing-masing.  Ada dua jenis survey, yaitu adult population survey (APS) dan national expert survey (NES).  APS dilakukan berdasarkan sampel acak sebanyak minimal 2000 orang dewasa usia 18-64 tahun secara nasional.  Sedangkan NES adalah survei terhadap minimal 36 orang narasumber ahli dari 9 bidang, seperti keuangan, pajak dan kebijakan publik, program pemerintah, infrastruktur fisik, riset dan pengembangan, pendidikan, pasar, institusi keuangan, dan sosial budaya.

Keunikan GEM

Adanya satu model kewirausahaan yang digunakan sebagai acuan, maka riset GEM memberikan beberapa keunikan. Pertama, GEM mengumpulkan data primer kewirausahaan pada tingkat individu, meliputi aspek sikap, aktivitas, aspiration, motif, dan outcome.  Kedua, setiap negara anggota konsorsium GEM menggunakan satu macam pengukuran kewirausahaan, sehingga memungkinkan perbandingan proses kewirausahaan antar negara. Ketiga, GEM mendefinisikan kewirausahaan sebagai sebuah proses, sehingga hasilnya tidak hanya menggambarkan profil kewirausahaan, tapi juga menjelaskan fase, motif, faktor pendorong atau penghambat, serta kecenderungan discontinuance kewirausahaannya. Keempat, GEM menyediakan data dan hasil penelitian kewirausahaannya secara publik, dan dapat dimanfaatkan oleh banyak pihak.  Kelima, survey GEM juga mengakses sektor usaha informal, yang terutama penting bagi perkembangan ekonomi di negara-negara sedang berkembang.

Profil Kewirausahaan Indonesia 2013-2017

Sejak tahun 2013, survey kewirausahaan dilakukan pada individu dewasa usia 18-64 tahun (APS) dan responden ahli (NES). Sampai dengan tahun 2017 ini, Survey APS mencakup 21.620 individu usia 18-64 tahun di 23 kota kabupaten di 23 provinsi.

Indonesia Hebat Indonesia Raya tidak sekedar semboyan belaka, tapi mencerminkan potensi yang dimiliki Indonesia, tidak hanya potensi sumber daya alam, tapi juga sumber daya manusianya.

Indonesia dengan 255 juta jiwa penduduk dan PDB sebesar USD 2842.2M (Economic Freedom, 2017), merupakan perekonomian terbesar di kawasan Asia Tenggara.  Dalam lingkup ASEAN, PDB Indonesia mencapai 41 %, terbesar dibandingkan negara ASEAN lainnya.  Pasar domestik yang terbesar, dengan pertumbuhan ekonomi yang positif selama periode 2009-2011.

Berdasarkan model GEM, profil kewirausahaan indonesia disajikan dalam beberapa indikator dapat dilihat pada Tabel 1.  Profil kewirausahaan tersebut dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu motivational entrepreneur, aktivitas entrepreneur, dan outcome entrepreneur.  Profil tersebut menunjukkan persentase individu dewasa usia 18-64 tahun.  Sebagai ilustrasi, pada tahun 2013 profil EC adalah 62% individu dewasa di Indonesia menyatakan memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk melakukan usaha.  Sehingga secara umum profil motivational entrepreneur Indonesia sangat positif, yang dapat dianggap sebagai modal awal dalam pengembangan aktivitas kewirausahaannya.

Pada profil aktivitas kewirausahaan, indikator TEA, yaitu persentase individu dewasa yang terlibat aktivitas wirausaha dini dan wirausaha awal. Sejak tahun 2013-2017 tampak adanya penurunan, yang cenderung diikuti adanya peningkatan discontinuance (% dari TEA).  Indikator discontinuance, menunjukkan persentase pelaku usaha dini dan awal yang tidak melanjutkan usahanya. Hal ini menggambarkan adanya perubahan pelaku usaha dalam aktivitas wirausahanya dan menggambarkan adanya faktor lingkungan usaha yang perlu mendapatkan perhatian. Setiap usaha yang langgeng tidak hanya unsur internal yang penting, namun faktor eksternal mempunyai peran penting untuk mendukung usahanya. Lingkungan usaha ini disebut sebagai ekosistem kewirausahaan. Namun pada tulisan ini, penulis tidak menjabarkan secara detail tentang ekosistem kewirausahaan ini.

Sedangkan salah satu indikator outcome kewirausahaan adalah tingkat inovasi, yaitu persentase pelaku usaha yang menawarkan produk baru yang dinilai baru dan belum ada pelaku usaha lainnya yang membuat produk serupa sebagai pesaing. Profil indikator inovasi ini menunjukkan kecenderungan penurunan. Berdasarkan observasi awal hal ini disebabkan oleh rendahnya implementasi teknologi ataupun transfer R&D.  Selain itu juga umumnya jenis usaha didominasi oleh usaha perdagangan, tapi rendah dalam jenis usaha manufaktur yang menggunakan inovasi teknologi.

Bonus demografi dan tingkat daya saing global

Mulai tahun 2010, BPS melaporkan adanya peningkatan komposisi persentase individu kelompok usia 15-64, yang puncaknya terjadi pada periode 2020-2025. Kelompok ini menggambarkan kekuatan usia produktif, dan dikenal sebagai bonus demografi. Bonus demografi memunculkan kesempatan dan juga tantangan untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produktivitas dan kapabilitas individu produktif. Hal ini menggambarkan potensi yang luar biasa sumber daya manusia Indonesia.

Tingkat daya saing global menunjukkan tingkatan pondasi ekonomi mikro dan makro dalam membangun daya saing nasional. Ukuran ini dipandang dari dimensi institusi, kebijakan, dan faktor-faktor yang menentukan produktivitas nasional. Tingkat produktifitas ini pada tahap berikutnya menentukan tingkat investasi, dan kemudian tingkat pertumbuhan ekonomi.  Peringkat daya saing global Indonesia terus meningkat sejak tahun 2013-2018, yaitu peringkat 50, 38, 34, 37, 41, 36. Sebagai pembanding, Malaysia, untuk periode yang sama, menempati peringkat 25, 24, 20, 18, 25, 23.

Potensi kewirausahaan Indonesia

Profil kewirausahaan yang dideskripsikan pada Tabel 1 di atas, menggambarkan potensi kewirausahaan Indonesia. Selain itu adanya bonus demografi memberikan nilai tambah.  Sehingga tiga kata kunci, potensi kewirausahaan, bonus demografi, dan peningkatan daya saing global. Sebuah kesempatan dan tantangan bagi bangsa Indonesia. Peningkatan produktivitas nasional dan menstimulasi individu yang berada pada early stage entrepreneurial activity menjadi seorang wirausaha yang berbasiskan inovasi (technopreneurial) menjadi agenda yang tidak dapat ditawar lagi.  

Peningkatan daya saing global Indonesia sejak tahun 2009, mengindikasikan peningkatan produktivitas nasional. Salah satu ukuran produktivitas adalah tingkat kewirausahaan. Hasil kajian kewirausahaan diperoleh bahwa TEA suatu negara berbanding lurus dengan tingkat daya saing global. Namun persoalannya adalah TEA lebih mendeskripsikan fase awal kewirausahaan. Selain itu, sektor usaha yang rendah inovasi, yang didominasi oleh dagang (78%), dibandingkan manufaktur dan service, yang hanya 9% dan 13%. Sehingga perlu adalah peran serta dunia pendidikan tinggi, untuk berkontribusi dalam meningkatkan dan penguatan kompetensi dan kapabilitas tenaga produktivitas Indonesia. Terutama mendorong inovasi dan kewirausahaan untuk mencapai daya saing.  

Walaupun ada kecenderungan penurunan pada profil TEA Indonesia, namun dengan modal bonus demografi dan peran serta dunia pendidikan yang komprehensif dan terus menerus, untuk mencapai peningkatan daya saing global. Indonesia hebat Indonesia raya tidak hanya impian tapi menjadi sebuah realitas.

Gandhi Pawitan, Ph.D.
Ketua tim GEM Indonesia,
Peneliti pada Center of Excelence in SME Development, LPPM UNPAR
Dosen Program Magister Ilmu Sosial, FISIP UNPAR.

 

Sember: Pikiran Rakyat (Kamis, 4 Oktober 2018)