Home / Berita Terkini / Profesor Sani Susanto: Matematika, Manusia, dan Teknik Industri

Profesor Sani Susanto: Matematika, Manusia, dan Teknik Industri

Lebih dari tiga puluh tahun Profesor Sani Susanto berkarya di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Guru Besar Teknik Industri (TI) yang baru saja dikukuhkan awal Juli 2019 ini setia berkarya dan berkontribusi sebagai akademisi Unpar, termasuk di awal pendirian Fakultas Teknologi Industri (FTI) beserta program studi TI pada awal dekade 90-an. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Prof. Sani lulus sebagai seorang Sarjana Matematika. Lalu, mengapa beliau akhirnya mengabdikan diri dalam bidang ilmu teknik industri?

“Sederhana saja,” jawabnya dalam wawancara dengan Tim Publikasi Unpar. “Bidang matematika memerlukan lahan untuk menerapkannya, artinya dikombinasikan dengan disiplin ilmu lain.” Ia menambahkan bahwa dalam masa kuliah itulah ia mulai mengenal teknik industri dan tertarik untuk mendalami ilmu tersebut. 

Sebagai sebuah bidang ilmu, jelas Prof. Sani, teknik industri membutuhkan pengayaan dari berbagai ilmu lain. “Ilmu teknik industri menaruh perhatian pada perancangan, perbaikan, dan implementasi sistem terintegrasi,” katanya. Yang dimaksud sistem terintegrasi berarti adanya keterkaitan dari berbagai komponen seperti manusia, material, metode, energi, dan informasi. Hal ini membutuhkan analisa agar menghasilkan suatu kinerja sistem yang optimal. “Di situlah ilmu matematika mendapat porsi yang cukup besar.” 

Jalan Panjang

Setelah lulus pada tahun 1987 ia menerima tawaran untuk menjadi asisten matematika di Unpar. “Saya bergabung di jurusan teknik sipil untuk memulai layanan sebagai asisten kalkulus,” jelasnya. Keluarga mendukungnya untuk berkarier di Unpar, mulai menjadi dosen luar biasa hingga menjadi dosen tetap. Ia mengakui, “Saya merintis dari bawah.” Hingga kini, Prof Sani tetap konsisten untuk meniti karier sebagai akademisi di Unpar. 

Konsistensi karya inilah yang mengantar Prof. Sani menjadi Guru Besar TI Unpar. “Banyak hal yang memotivasi saya menjadi Guru Besar,” katanya. Pertama, ia ingin menginspirasi kolega akademis untuk terus berkembang, terutama agar dapat menjadi Guru Besar. “Institusi baru bisa berkembang apabila stafnya juga berkembang,” ungkapnya.

Apalagi, ia paham betul pentingnya keberadaan Guru Besar bagi universitas. Ia memisalkan, “Program Doktor hanya bisa dibuka apabila ada Guru Besar di bidang itu.” Tentunya menjadi Guru Besar seorang diri tidak bisa memberikan dampak dan manfaat yang signifikan. Lewat capaian ini ia bertekad untuk mencetak Guru Besar lain. Tak lepas, pencapaiannya sebagai Guru Besar menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga, baik keluarga inti juga keluarga besar.

Artikel terkait: http://unpar.ac.id/pengukuhan-guru-besar-fti-unpar-prof-sani-susanto-ph-d-ipu-aer/

Humanitas dan Rekayasa Teknik

Dalam pidato pengukuhannya, Prof Sani menyinggung fenomena Sisi Etika dalam Rantai Pasok. Melalui orasi ilmiahnya ia berargumen bahwa keberhasilan rantai pasok tidak hanya ditentukan oleh kualitas teknologi yang diaplikasikan. “Sering masalahnya ada pada manusia sebagai pelaku rantai pasok,” jelasnya, “Dan manusia itu sering menjadi konsentrasi dalam Teknik Industri.” Seyogyanya manusia bertindak secara baik, benar, dan tepat untuk mendukung kinerja rantai pasok agar optimal. 

Walaupun TI bukan ilmu humanisme, Prof. Sani menyatakan, “Perlu kajian tentang sisi etika.” Dalam TI, urainya, banyak pelaku manusia mulai dari produsen, supplier, dan distributor yang berperan dalam suksesnya rantai pasok. Oleh karenanya, TI membutuhkan kajian dalam sisi kemanusiaan dan etika manusia. “Teknik industri menaruh perhatian pada sistem terintegrasi, di mana manusia menjadi salah satu komponen penting di dalamnya,” jelasnya. Bagi Prof. Sani, sisi humanitas, manajerial, dan sosiologi harus dikaji dan dipelajari dalam TI, sembari ditegaskan bahwa, “Tetap, teknik industri adalah ilmu engineering.”

Mengakhiri wawancara, Prof. Sani mendorong komunitas akademik Unpar untuk tetap mempertahankan kualitas lingkungan akademik, mengejar karier akademik semaksimal mungkin dan mengembangkan ilmu. “Tetaplah Unpar berpegang pada visi universitas,” pungkasnya. (DAN)