Perkuat Program Sekolah Penggerak, Tim Abdimas Filsafat UNPAR Jalin Kerja Sama dengan Santa Maria 1 Bandung

Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (FF UNPAR) menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) bersama Sekolah Menengah Atas Santa Maria 1 Kota Bandung terkait kegiatan pengabdian masyarakat (abdimas) guna mendukung Program Sekolah Penggerak demi perwujudan Profil Pelajar Pancasila. Abdimas yang dilakuan tim yang diketuai Willfridus Demetrius Slga., S.S., M.Pd., itu mengangkat fokus “Implementasi Kemampuan Berpikir Kritis dan Pemahaman Inklusi Sosial dalam Konteks Kebhinekaan”.

Penandatanganan PKS dalam hal ini diwakili Ketua Pengabdian Willfridus Demetrius Slga., S.S., M.Pd., sementara dari Santa Maria 1 diwakili Markus Sentot Sunardio selaku Kepala Sekolah. Selain Willfridus, tim abdimas juga beranggotakan Kritining Seva, S.S., M.Pd., dab Jh. Fandi Gilar Saputro, S.S., M.Fil.

Kegiatan abdimas ini bertujuan untuk mendukung Program Sekolah Penggerak demi mewujudkan visi pendidikan Indonesia Maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian. Melalui terciptanya Profil Pelajar Pancasila secara holistik; meningkatkan kompetensi pedagogik guru dalam mengelola proses pembelajaran atau interaksi belajar-mengajar dengan peserta didik melalui teori berpikir kritis, pemahaman inklusi sosial, pengembangan modul pembelajaran untuk menggali potensi dan penguatan karakter mahasiswa.

“Berpikir kritis menjadi kompetensi generasi abad 21 dan menjadi dasar bagi ilmu-ilmu STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Kita bicara berpikir ilmiah dan berpikir sehari: deduksi, induksi dan abduksi untuk pemecahan masalah. Artinya, perlu kemampuan abstraksi melalui pendekatan yang dikenal dengan design thinking,” tutur Willfridus, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (11/1/2022). 

Willfridus mengatakan, ini merupakan project pertama dengan menyasar sekolah menengah. Fokus pada penguatan Profil Pelajar Pancasila untuk siswa sekolah menengah sesuai dengan capaian dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek). 

“Tim dosen menjadi inisiator dan fasilitator. Artinya kita akan terlibat bersama para guru untuk pembuatan modul melalui role play, observasi, riset, workshop, desain alur modul, implementasi, dan refleksi,” ucapnya.

Kegiatan abdimas ini pun dilakukan guna meningkatkan kompetensi kepribadian berkaitan dengan karakter guru agar menjadi teladan bagi para peserta didik dan membantu peserta didik memiliki kepribadian yang baik dengan memberi penekanan pada aspek kepribadian yang meliputi kemandirian, berpikiran terbuka, laitis, memiliki perilaku yang berpengaruh positif, menjadi teladan dan menghormati keberagaman. 

Metode yang digunakan dalam pengabdian ini meliputi tahap pengenalan, tahap kontekstualisasi dan tahap aksi. Guru membuat rancangan modul yang mendukung ketersediaan fasilitas publik yang inklusif bagi siswa maupun untuk komunitas diluar sekolah, sebagai aksi nyata dalam membangun masyarakat yang inklusif, adil, dan berkelanjutan, sebagai contoh yang dapat diadaptasi oleh siswa nantinya sebagai perwujudan Profil Pelajar Pancasila, yakni Berkebhinekaan Global, Bernalar Kritis, dan Kreatif.

Di tahap pengenalan, guru diajak mengenali dan menggali lebih dalam tentang berbagai keberagaman individu dan budaya. Serta mengenal berbagai peran individu dalam demokrasi dan konsep inklusi sosial. Guru juga diajak mengidentifikasi keberadaan siswa dengan segala latar belakangnya.

Tahap kontekstualisasi, guru melakukan riset terpadu dan mandiri serta melihat konteks lingkungan sekitar yang berkaitan dengan keragaman dan inklusi sosial. Guru pun merumuskan gagasan dalam sebuah rangkaian kegiatan. Sementara di tahap aksi, guru membentuk pengetahuan, membangun kesadaran dan melakukan penyelidikan kritis serta merencanakan solusi aksi dengan uji coba/simulasi kegiatan yang sudah dirancang.

Realisasi dari program ini hendak mengajak para guru untuk ikut berperan serta dalam kehidupan bermasyarakat, memahami sudut pandang yang berbeda-beda, aktif berpartisipasi menyuarakan keragaman dan demokrasi, serta menerima keragaman sebagai identitas Indonesia. 

Pengabdian ini pun memiliki beberapa target luaran yang ingin dicapai, yaitu Modul Pengembangan Karakter Profil Pelajar Pancasila untuk siswa Sekolah Menengah Atas; Seminar Pengembangan Kompetensi Guru; HAKI Modul; dan Publikasi Jurnal Pengabdian. (Ira Veratika SN-Humkoler UNPAR)