Home / Berita Terkini / Peradaban yang Retak: Dilema Manusia Indonesia Masa Kini

Peradaban yang Retak: Dilema Manusia Indonesia Masa Kini

Masyarakat Indonesia sekarang ini dihadapkan dengan berbagai persoalan mendasar yang berkepanjangan. Seperti misalnya tarik menarik isu lokal-global, permasalahan kemodernan dan primordialisme, kosmopolitanisme dan generasi milenial, isu terorisme, hedonisme, kemiskinan, dan masih banyak lagi. Ada yang menganggap isu-isu tersebut adalah by design, konspirasi global, tekanan kepentingan eksternal, atau karena warisan kolonial dan kegagalan bangsa untuk memaknai diri, gagal memanfaatkan potensi dan tidak mampu beradaptasi dengan dinamika global. Manusia sekarang ini seakan seperti meraba-raba apa yang sedang terjadi.

Fenomena-fenomena tersebut memperlihatkan peradaban manusia yang sedang retak, maka dari itu, hal tersebutlah yang menjadi inti dari seminar yang dilaksanakan oleh Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (FF Unpar) dalam rangka menyambut ulang tahun yang ke-50. Seminar yang digelar di Wisma Bumi Silih Asih Keuskupan Bandung pada Sabtu (16/2/2019), mengangkat tema besar “Peradaban yang Retak Dilema Manusia Indonesia Masa Kini”. Dimoderatori oleh Dr. Yohanes Slamet Purwadi, S Ag., MA, adapun beberapa narasumber antara lain Prof. Dr. Bambang Sugiharto (Fakultas Filsafat Unpar); Prof. Dr. Imam Buchori (Fakultas Seni Rupa ITB); Prof. Dr. Musdah Mulia, MA (Indonesian Conference on Religion and Peace); dan Goenawan Mohamad (Sastrawan dan budayawan dari Komunitas Salihara Jakarta).

Kiri ke kanan: Prof. Dr. Bambang Sugiharto, Goenawan Mohamad, Prof. Dr. Musdah Mulia, MA

Dengan judul presentasi “Antisipasi Kesiapan Bangsa Kita Menghadapi Peradaban 4.0”, Prof. Dr. Imam Buchori menjelaskan tentang bagaimana keretakan terhadap perubahan dan bagaimana menghadapinya. Ia mengatakan bahwa orang Indonesia mempunyai nilai-nilainya tersendiri, seperti suka bicara, kekeluargaan, lemah lembut, tidak ada rasa urgensi, suka bercerita, suka menghindar dari argumentasi dan masih banyak lagi. Namun, sekarang ini di tahun 2019 nilai-nilai tersebut bisa berubah dan berbalik, sehingga untuk mencari akar dari masalah yang ada sangatlah sulit.

Menurutnya juga, peradaban bisa dilihat dari berbagai dimensi. Maju mundurnya peradaban dapat dilihat melalui kondisi ekonomi, politik, mentalitas, ataupun dari latar belakang pendidikan. Maka dari itu Imam mencoba melihat peradaban di Indonesia melalui beberapa aspek, yang pertama dapat dilihat dari aspek industri. Menurutnya industri di Indonesia kurang bisa berkembang karena tidak mempunyai tradisi trilogi industrialisasi, yaitu produksi, distribusi, dan konsumsi., yang ada adalah langsung mengarah ke perdagangan. Pada aspek demokrasi, menurutnya Pancasila sudah kehilangan nilai kohesifnya yang akhirnya berakhir kepada keretakan. Sedangkan di bidang pendidikan telah terjadi fragmentasi keilmuan dan pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK),  teknologi lebih sering dimanfaatkan untuk hiburan dan gengsi ketimbang untuk physical extension.

Di akhir presentasinya, Imam memberikan kesimpulan bahwa jika demokrasi tidak rasional, maka bangsa akan koyak dan retak. Jika demografi tidak diimbangi dengan pendidikan yang berorientasi pada revolusi IPTEK, jika mentalitas primordial semakin menguat, maka peradaban akan semakin retak.

Dengan membawakan presentasi yang berjudul “Agama dan Perdamaian”, Prof. Dr. Musdah Mulia menuturkan bahwa globalisasi dapat membawa kontestasi nilai dan kepentingan yang mengarah kepada menguatnya kecenderungan politisasi identitas. Selain itu, sekarang ini menguat juga gejala polarisasi dan fragmentasi sosial yang berbasis identitas, keagamaan, kesukuan, golongan, dan kelas. Serta melemahnya budaya kewargaan seperti tidak adanya nilai peradaban dalam demokrasi dan tidak adanya kebebasan berbicara. Indonesia merupakan negara yang plural, namun kurang mengembangkan wawasan dan praktik pembelajaran multikulturalisme

Musdah juga menambahkan bahwa Indonesia masih memiliki kebijakan yang lemah dan kepemimpinan yang mendorong kearah inklusi. Di sisi lain, peradaban milenial dengan adanya internet membawa kearah intoleransi yang lebih tinggi. Juga, daya tarik emosional lebih berpengaruh dalam membentuk opini publik daripada dengan fakta objektif, terjadinya politisasi agama sehingga banyak masyarakat percaya akan suatu hal dan tidak berpikir secara kritis. Maka dari itu, di akhir presentasi Musdah menekankan akan hukum yang harus ditegakan, konstruksi pendidikan, rekonstruksi kebijakan, serta interpretasi agama yang humanis.

Pembicara lainnya adalah Goenawan Mohamad, menurutnya sejarah peradaban sama halnya dengan sejarah kebiadaban, yang mana banyak peradaban dibangun megah diatas puing-puing penindasan. Hal lainnya yang ia tekanan adalah sekarang ini masyarakat hanya berpegang kepada satu identitas dan adanya rasa eksklusifitas di setiap identitas, tidak melihat sejarah di dalam identitas itu serta terjadilah esensialisme.

Disisi lain, Prof. Dr. Bambang Sugiharto mengatakan bahwa dalam masyarakat akan selalu ada kelompok-kelompok yang terbelakang, selalu ada kelahiran baru dan anak-anak yang beranjak dewasa. Maka yang dibutuhkan adalah bagaimana pertumbuhan semua tahap dapat dikelola secara sehat, dan bagaimana semua tahap tidak menjadi patologis dan destruktif. Bambang menyatakan bahwa pertumbuhan bukanlah proses yang linear. Setiap kelompok masyarakat mempunyai aturan untuk naik ke tahap-tahap yang lebih tinggi. Pertumbuhan juga dipengaruhi banyak faktor yang kompleks dan hasil akhirnya tidak sepenuhnya terduga. Meskipun demikian, hal-hal tertentu bisa dikondisikan dengan strategi budaya dan pendidikan, pola pemerintahan tertentu, dan kondisi tekno-ekonomi yang menunjang.

Poin terakhir yang ia tekankan adalah perubahan ke tingkat mentalitas yang lebih tinggi membutuhkan beberapa unsur. Unsur yang pertama adalah dissonance, yaitu ketidakpuasan atau ketidakcocokan terhadap fase sebelumnya. Kedua adalah butuhnya deeper insight, yaitu butuhnya peta kognitif yang lebih dalam tentang apa yang terjadi. Unsur ketiga dan unsur terakhir adalah disclosure yaitu terbukanya kemungkinan  baru bagi masyarakat untuk melihat suatu hal dari cara pandang yang lain.