Home / Berita Utama / Penggunaan Media Sosial dalam Berbisnis
Media sosial

Penggunaan Media Sosial dalam Berbisnis

“Bandung itu adalah destinasi, baik itu buat pengusaha atau konsumen.” Media sosial

Rommy berujar dalam membuka Bandungan Business Forum 2017 yang dilaksanakan di Aula Sekolah Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Jalan Merdeka No. 30, pada Rabu (6/9).

Bandungan Business Forum membahas mengenai penggunaan iklan di media sosial Facebook dan Instagram untuk bisnis daring. Narasumber yang diundang adalah para pebisnis andal yang sukses merajai pasar di Bandung dan seorang perwakilan pemerintah kota, yakni strategic regional head Jawa Barat GoJek Zainal Abidin, Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Iwa Gartiwa, CEO Hivermind Ganjar Kersana, partner acquisition specialist Blibli.com Agus Pribadi, CEO Kickdenim Hartiman, dan CEO PT BDG Rommy Zulkarnain selaku moderator.

Forum yang terbuka untuk umum tersebut dibungkus dengan suasana santai dan lebih mengutamakan tanya-jawab antara peserta dengan pembicara sehingga suasana acara menjadi lebih hidup.

Bisnis Daring atau Luring?

“Orang datang ke Bandung itu buat belanja. Ada FO (factory outlet), distro (distribution outlet), intinya offline. Tapi market-nya sekarang terpisah, ada online dan offline, padahal tingkat beli di Bandung meningkat,” kata Rommy dengan penuh semangat pada pembukaan forum.

CEO Kickdenim Hartiman menjelaskan, fenomena dagang luring di Indonesia mulai kurang disegani karena banyaknya media sosial dan wadah berjualan, seperti Blibli. Maka, kekuatan sebuah produk barang dan jasa yang ditawarkan di media daring harus dikembangkan.

Bisnis daring, lanjutnya, memangkas banyak biaya, salah satunya adalah sewa toko. Menurut Rommy, lebih baik menyewa satu kamar yang bisa digunakan sebagai gudang. Berdasarkan pengalamannya, harga sewa toko per tahun berkisar 135 juta rupiah. Perbedaan yang cukup signifikan dengan harga sewa kamar per tahun.

“Saya pun dulu tidur bareng sama karung-karung di kamar yang dijadiin gudang itu. Enggak apa-apa kok, lebih worth it daripada buka toko,” ucap Hartiman.

Kiat Sukses Berbisnis Daring

Banyak peserta yang merupakan pengusaha-pengusaha muda atau baru mulai merintis usaha. Maka, Hartiman yang juga merupakan pemilik merek Black ID, Nomi Trademark, dan Superblank, menyebutkan pentingnya branding image, terutama dalam melakukan bisnis daring.

Promosi adalah kunci penting dalam melakukan branding image dan erat dengan kaitannya dengan berdagang. Media sosial Instagram dan Facebook adalah wadah yang paling sering digunakan untuk kegiatan jual-beli produk barang dan jasa. Maka, feed media sosial harus dibuat semenarik mungkin. Ia sebut Instagram sebagai media yang lebih sering digunakan untuk berbelanja daring dibandingkan dengan Facebook.

Fenomena di kalangan pengguna Instagram adalah semakin tingginya view untuk postingan video daripada foto. Namun, kata Hartiman, jangan melulu mengunggah video ke akun Instagram karena akan membosankan. Ia juga menyebutkan, konten Instagram harus bervariasi, bukan hanya menampilkan produk yang dijual. Misalnya, memberikan berbagai tips dan trivia yang berkaitan dengan produk.

Selain menggunakan media sosial, toko-toko daring pun sudah banyak bermunculan dan menjadi wadah tepat untuk menjual produk, seperti Blibli.com. Blibli memiliki ketentuan-ketentuan khusus, seperti foto produk. Agus menyebutkan, foto barang-barang yang diunggah harus menampilkan produk secara detail dengan menggunakan latar belakang berwarna putih. Sebab, warna putih memberikan kontras yang dapat menonjolkan detail dan warna asli produk sehingga lebih fokus.

Building Trust

Semakin canggih teknologi, semakin canggih pula trik-trik dalam melakukan penipuan. Berita-berita penipuan toko daring sering mewarnai portal-portal berita. Baik itu penjual atau pembeli harus selalu waspada dalam menghadapi para penipu. Toko-toko daring pun harus mengerahkan ide-ide inovatif dalam membangun kepercayaan pembeli. Selain itu, transparansi pun menjadi modal penting.

Salah satu cara paling mudah adalah melakukan pemutakhiran setiap hari di akun media sosial. Bukan hanya unggahan produk, tetapi juga foto rutinitas di kantor. Sehingga, kegiatan-kegiatan yang dilakukan dapat dilihat oleh para calon pembeli.

“Kalau saya mah biasanya, fotoin pas lagi bikin bajunya. Bisa pakai kamera ponsel atau bawa kamera digital. Misalnya, lagi nge-pack barang atau ya apa weh di kantor!” ujar Hartiman.