Home / Berita Terkini / Pendidikan Vokasi untuk Wirausaha Muda Mandiri yang Berdaya Saing

Pendidikan Vokasi untuk Wirausaha Muda Mandiri yang Berdaya Saing

Wiraswasta berasal dari Bahasa Sansekerta dengan tiga suku kata: ‘wira’ artinya manusia dengan jiwa besar dan watak yang tangguh atau pejuang, ‘swa’ berarti sendiri atau mandiri, dan ‘sta’ berarti berdiri diatas kaki sendiri (Takdir, Mahmudin, Zaid, 2015).

Wiraswasta atau wirausaha adalah orang yang mampu menciptakan peluang dan berani mengambil resiko untuk mewujudkannya melalui cara-cara baru (kreatif) atau cara yang berbeda (inovatif).

Entrepreneurship is seen as new combinations including the doing of new things of the doing of thing that are already being done in a new way. New combinations include: 1. Introduction of a new good, 2. New method of production, 3. Opening of a new market, 4. New source of supply, 5. New organization (Joseph Schumpeter, 1934). Pada tahap awal, wirausaha memunculkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berkontribusi sebesar 99.99% dari total keseluruhan pelaku usaha di Indonesia atau sebanyak 56,54 juta unit. UMKM telah mampu membuktikan eksistensinya dalam perekonomian di Indonesia (bi.go.id, 2019). Dampaknya, semakin banyak pihak, baik Badan Usaha Milik Negara, perusahaan swasta nasional maupun perguruan tinggi yang memberikan perhatian pada UMKM. Salah satu program pendidikan yang saat ini dikembangkan oleh perguruan tinggi adalah pendidikan vokasi.

Pendidikan Vokasi Unpar

Pendidikan vokasi disebut juga pendidikan kejuruan, merupakan pendidikan tinggi setara sarjana untuk penguasaan keahlian terapan (skill-based). agar dapat lebih meningkatkan kuaitas sumber daya manusia Indonesia, maka Bapak Presiden Joko Widodo memberikan perhatian khusus terhadap program vokasi melalui tiga fokus, yaitu investasi sumber daya manusia yang disesuaikan dengan industri, investasi yang dilakukan dengan jumlah yang besar, dan prioritas sektor vokasi (cnbcindonesia.com).

Universitas Katolik Parahyangan memiliki pendidikan vokasi yaitu Program Studi DIII Manajemen Perusahaan. Kurikulum pembelajaran program vokasi DIII Manajemen Perusahaan Unpar menerapkan experiential learning (pembelajaran berbasis pengalaman melalui praktik langsung) dengan porsi yang lebih besar yaitu 60:40 dibandingkan theoretical learning (pembelajaran berbasis ilmu pengetahuan di dalam kelas). Dengan fokus pada kewirausahaan maka pembelajaran diperlengkapi dengan magang dan praktik lapangan di beberapa perusahaan mitra. Dengan demikian diharapkan dapat melahirkan pelaku usaha muda di berbagai bidang.

Untuk terwujudnya usaha rintisan, Program Studi DIII Manajemen Perusahaan menyelenggarakan workshop bertema kreativitas dan inovasi, juga mendatangkan guest lecturing khususnya pengusaha muda yang sukses, serta memberikan pelatihan kewirausahaan termasuk seminar motivasi berbisnis yang disertai dengan metode pendampingan (coaching) dan pengawasan (mentoring). Pelatihan, pendampingan, dan pengawasan ini bertujuan agar mahasiswa pada akhirnya dapat membuat dan menyelesaikan Tugas Akhir berupa rintisan usaha baru.

Namun ternyata tidak cukup hingga melahirkan usaha baru. Berbagai rintisan bisnis tersebut harus memiliki daya saing sehingga dapat mempertahankan usahanya. Untuk meningkatkan daya saing rintisan usaha baru, maka Program Studi DIII Manajemen Perusahaan Unpar mengembangkan Kewirausahaan berbasis Teknologi melalui pengadaan workshop Design Thinking dalam mendesain bisnis, Packaging dan Pemasaran Digital, workshop Pembuatan dan Pendaftaran Merek yang saat perdananya disampaikan oleh pakarnya Bapak Triady Setyo dari Direktorat Merek dan Indikasi Geografis DJKI-Kemenkumham, workshop Perpajakan Bisnis dan Keuangan Digital menggunakan SIAPIK yang merupakan produk Bank Indonesia, serta dengan menimba ilmu dari perusahaan berbasis transaksi online seperti Gojek. Technopreneurs Expo adalah bentuk expo produk bisnis mahasiswa Program DIII Manajemen Perusahaan yang berbasis teknologi.

Agar bisnis rintisan berbasis teknologi – startup, dapat terus bertumbuh, Program DIII Unpar membuka wadah pendampingan berkelanjutan bagi para alumninya disamping bagi mahasiswa aktif, yaitu Laboratorium Bisnis dan Kewirausahaan. Laboratorium ini memberikan konsultasi bisnis serta kolaborasi dengan metode pembimbingan, pendampingan (coaching), disertai pengawasan (mentoring). Berbagai program dikembangkan di Laboratorium Bisnis dan Kewirausahan ini, sepeti pengambangan kapasitas usaha, pengembangan potensi pendanaan, pelatihan keuangan bisnis, akses permodalan ke perbankan diantaranya dengan Bank BJB, program kerjasama dengan berbagai institusi seperti KADIN serta dinas UMKM, pendampingan perolehan izin usaha, hingga bantuan pendaftaran paten/Hak Kekayaan Intelektual (merek dagang) atau brand baru, serta peroleh Sertifikat Halal MUI, BPOM, dan lainnya. Sejauh ini, para Alumni DIII Unpar telah ada di berbagai bidang usaha, seperti: fashion, kuliner, desain craft, bengkel, iklan digital, fotografi, distributor, pelatihan, seni, musik, jasa, dan event organizer. Laboratorium Bisnis dan Kewirausahaan DIII Manajemen Perusahaan Unpar ini juga bermaksud akan membuatkan website yang memuat semua bisnis baik dari yang masih menjadi mahasiswa maupun yang sudah menjadi alumni yang dapat digunakan untuk saling berkolaborasi. Pada akhirnya, Laboratorium Bisnis dan Kewirausahaan DIII Manajemen Perusahaan Unpar berharap agar para lulusannya menjadi wirausahawan muda mandiri, yaitu yang mampu berperan dalam menyelesaikan masalah sosial dan ekonomi di lingkungannya serta memasuki pasar lokal, nasional bahkan ke pasar global.

Mau memiliki bisnis rintisan yang berdaya saing, mari bergabung dalam program vokasi DIII Manajemen Perusahaan Unpar!

Kontributor: Lilian Danil, SE., MM., Nina Septina, SP., MM., Dr. Judith F. Pattiwael Irawan, Dra., MT., – Dosen Program DIII Manajemen Perusahaan Universitas Katolik Parahyangan.***

Sumber: Pikiran Rakyat, Kamis 15 Agustus 2019