Home / Berita Terkini / Pelatihan bagi Para Guru Fisika
Pelatihan

Pelatihan bagi Para Guru Fisika

Bila mendengarkan kata ‘fisika’, tak sedikit orang yang langsung membayangkan sekelumit rumus dan teori-teori yang rumit. Padahal, fisika berada di setiap aspek kehidupan manusia. Tak urung, fisikawan menyebut bahwa ilmu ini adalah dasar dari segala ilmu, terutama sains. Pelatihan

Zaman dan teknologi yang kian berkembang ini membutuhkan generasi muda yang cakap teknologi dan memahami ilmu sains. Bukan hanya sekadar teori, tetapi juga harus diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, tutor bagi para siswa harus memiliki kemampuan teori dan inovasi. Sehingga, guru-guru tersebut berhasil mencetak siswa yang mencintai sains dan mampu mengembangkan teknologi yang bermanfaat bagi manusia.

Program Studi Fisika Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) memiliki program Pelatihan Guru Fisika (PGF) yang diselenggarakan setiap dua tahun. Ditemui di ruangannya, Ketua PGF yang juga merupakan Wakil Dekan II Bidang Sumber Daya Fakultas Teknologi Informasi dan Sains (FTIS) Risti Suryantari, M.Sc. menyebutkan PGF dibentuk sejak tahun 2006 untuk memberikan pelatihan kepada guru-guru SMP dan SMA mata pelajaran Fisika di seluruh Indonesia.

PGF pertama kali dilaksanakan pada tahun 2006 dan dilaksanakan rutin setahun sekali. Namun, sejak beberapa tahun lalu menjadi setiap dua tahun. Penyelenggaraan pelatihan ini menekankan pada aspek inovasi pembelajaran fisika yang menyasar pada guru-guru SMP dan SMA. Pelatihan berskala nasional ini mengangkat tema yang selalu berbeda pada setiap penyelenggaraannya, seperti mekanika atau termodinamika.

Risti mengatakan, PGF berusaha untuk menyesuaikan tema pelatihan degan perkembangan kurikulum pendidikan sekolah yang kini menekankan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), serta perkembangan dunia digital dan kaitannya dengan energi terbarukan.

Sebelumnya, Risti sebut, minat siswa pada ilmu sains tidak bisa disebut besar. Karena, lanjutnya, pola pengajaran yang diberikan hanya satu arah dan kurang aplikatif dan interaktif. “Kami (PGF) mengamati kalau metode pembelajaran (di sekolah) kurang variatif, biasanya hanya mengajarkan rumus berdasarkan text book sehingga siswa bosan dan tidak suka fisika, identik dengan rumus, dan mengerjakan soal. Kami tidak ingin seperti itu,” ujar Risti ketika ditemui di ruangannya.

Menurutnya, hal tersebut terjadi karena guru tidak mendapatkan wawasan mengenai inovasi pembelajaran sains, termasuk fisika. Maka, melalui PGF, Risti ingin membagikan wawasan itu. Siswa tidak belajar hanya dari buku teks dan mendengarkan penjelasan guru. Juga, sambil mengerjakan sesuatu dengan menggunakan alat peraga atau demo sains sehingga terbiasa berpikir kritis.

Pelaksanaan PGF berlangsung selama tiga hari penuh dan menekankan pada perakitan alat peraga. Adapun, PGF bekerja sama dengan Pudak Scientific dalam pengadaan alat peraga sains.

“Biasanya hari kedua, pelatihannya di sana (pabrik Pudak Scientific di Gede Bage). Jadi, para guru kami ajak ke sana dan alatnya sudah disiapkan dari Pudak, lalu instrukturnya dibantu dari sana juga. Tapi selalu, narasumbernya ada dari kami (Prodi Fisika). Kami biasanya mengundang pembicara dari luar juga yang kira-kira sudah expert di dalam bidang yang sesuai dengan topik (PDF) kami,” jelas Risti kepada Tim Publikasi.

Adapun, hari pertama dan ketiga dilaksanakan di kampus Unpar. Namun, Risti mengatakan sempat beberapa kali diadakan di luar kampus Unpar. Ia menyebutkan, pada PGF 2016, panitia mengajak para peserta ke Waduk Jatiluhur untuk mengamati cara kerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang berkaitan dengan tema pelatihan saat itu, yakni energi terbarukan. Lalu, beberapa tahun sebelumnya, peserta diajak ke Trans Studio Bandung untuk mencoba wahana yang tersedia sekaligus belajar tentang fisika karena beberapa permainannya berkaitan dengan fisika, kata Risti.

Kepanitiaan PGF pun melibatkan mahasiswa Prodi Fisika. Beberapa diantaranya dilatih untuk menjadi asisten pemateri pada sesi praktikum. Risti mengutarakan, PGF memberi kesempatan bagi mahasiswa baru sebagai peserta supaya mengetahui dunia pendidikan fisika. Selain itu, PGF memberikan sesi khusus kepada Bengkel Sains Unpar (BSU) untuk memberikan demo mengenai sains dihadapan para peserta.

Peserta PGF berasal dari berbagai provinsi di Nusantara, meskipun mayoritas berasal dari Jawa Barat. Risti menyebutkan, ada beberapa sekolah yang rutin ikut serta dalam pelatihan, seperti BPK Penabur. Selain itu, Santa Laurensia sudah beberapa kali mengirimkan guru sainsnya. Sejumlah sekolah yang merupakan anggota Ordo Salib Suci, kata Risti, acapkali mengikuti PGF karena disarankan, seperti Yos Sudarso.

Pada tahun 2016 lalu, PGF berhasil mengundang 40 guru yang mayoritas berasal dari berbagai SMP dan SMA di Kota Bandung. Tema yang digunakan adalah inovasi perkembangan fisika dalam bidang energi yang terbarukan. Sifatnya, kata Risti, lebih ke arah perkenalan kepada hal-hal yang bisa dieksplorasi dengan lebih menarik sehingga dappat dipahami dengan mudah.

Risti berharap melalui kegiatan tersebut para guru yang turut serta dapat memperbaharui cara mengajar yang semulanya satu arah, menjadi dua arah. Pengajaran yang semulanya hanya hitung-menghitung, serta mengenalkan berbagai rumus dan teori fisika, mampu diubah menjadi lebih mengaplikasikan ilmu pada kehidupan sehari-hari, seperti mengkonstruksi alat.