Panggilan Memimpin UNPAR

Oleh: RD. Yohanes Driyanto, Drs., LJC. (Kepala Lembaga Pengembangan Humaniora UNPAR)

UNPAR.AC.ID, Bandung – Ibarat sebuah kapal – seperti juga kapal-kapal yang lain – UNPAR harus tetap meneruskan pelayarannya. Saat ini arah dan tujuannya memang masih cukup terkuasai. Namun demikian, keganasan ombak di lautan tampak semakin tidak terkendali. Cuaca semakin sulit diprediksi. Lihat saja VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity). Kalaupun masih belum cukup besar, kekuatiran atau ketakutan bahwa pelayaran itu akan terhenti sudah ada. Bahkan, meskipun sangat kecil, kekuatiran atau ketakutan bahwa kapal itu tenggelam juga telah ada.

Karena itu, muncul kesadaran – dan lebih tepatnya – keinginan agar UNPAR tidak terbiarkan atau berhenti dalam keadaannya yang sekarang. UNPAR tidak hanya harus terus berlayar, tetapi bertransformasi. UNPAR tidak hanya harus meyesuaikan diri dengan keadaan dan berusaha menjawab kebutuhan zaman, tetapi – walau sangat ambisius – mengubah zaman (baca, the agent of change).

UNPAR – seperti orang-orang Israel di Mesir – harus segera keluar dari keadaan yang sekarang serta lebih cepat dan precisi menuju atau masuk kedalam keadaan baru. Keluar dari keterkungkungan atau perbudakan dan masuk kedalam kebebasan: membangun communio akademik humanum yang lebih Tangguh serta lebih dalam, lebih luas, dan menjangkau semakin banyak orang dalam pengajaran, penelitian, dan pengabdian.  

Siapa yang akan memimpin?

Dalam diam dan juga dengan suara penuh, semua warga di kapal itu menyuarakan undangan.  Pimpinlah kami! Tanpa pemimpin kami akan mudah tercerai-berai. Tanpa pemimpin kami akan sangat mudah berpaling dari ketentuan Tuhan. Tanpa pemimpin kami sangat mungkin tertinggal dan tersesat. Tanpa pemimpin kami hampir pasti tidak akan sampai tujuan. Tanpa pemimpin kami akan mudah tergoda untuk tidak setia kepada mind and design pendiri. Tanpa pemimpin kami akan mudah menutup diri terhadap keadaan dan kebutuhan zaman.

Dilandasi keyakinan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan umatNya dalam keadaannya yang sekarang, undangan menjadi rektor sudah secara resmi dinyatakan atau disuarakan (27 Oktober 2022). Undangan itu diserukan di berbagai tempat (yang masih berkaitan dengan kampus) dan dengan berbagai cara.

Adakah yang terpanggil?

Undangan atau seruan itu adalah panggilan. Dengan sebutan itu, jabatan rektor yang sejatinya profan berdimensi sakral.  Yang duniawi menjadi sekaligus ilahi. Yang tampaknya urusan kehidupan jasmani menunjukkan pula kehidupan spiritual atau rohani.

Terhadap panggilan itu umumnya orang mengira atau bahkan meyakini bahwa itu untuk orang lain. Bukan untuk dirinya. Konsekuensinya, orang cenderung menunggu dan terus berdoa. Orang lupa bahwa panggilan itu sangat mungkin untuk dirinya.

Pemikiran dan perasaan itu terjadi juga pada seorang bernama Musa. Karena itu, ketika Tuhan memanggilnya, ia tidak hanya kaget, tetapi tidak percaya. Dengan terang-terangan ia menyatakan keberatan.

Keberatan manusia dan pemecahan masalah oleh Tuhan  

1). Siapakah aku. Orang pada umumnya akan seperti Musa yang menyadari latar-belakang, keadaan, dan kemampuannya. Pada dirinya tidak ada yang ia rasa istimewa atau luar biasa. Sementara, dihadapannya berdiri dengan sangat perkasa Firaun yang penuh kuasa. Ia meyakini bahwa upaya sebesar apa pun dari dirinya pasti akan sia-sia. Lebih dari itu, ia justru akan segera kehilangan segalanya termasuk hidupnya.

Aku menyertaimu. Terhadap keberatan itu Tuhan menyatakan bahwa Musa tidak akan dibiarkanNya sendirian. Tidak akan ia diizinkan olehNya untuk berjuang hanya dengan kekuatannya sendiri.  

2). Siapa Tuhan itu. Bahwa ada penyertaan Tuhan barangkali tidak diragukan. Tetapi, yang terasa menjadi masalah adalah: Tuhan itu siapa sehingga penyertaanNya sungguh dapat diandalkan. Tuhan itu siapa sehingga dapat menjamin keberhasilan.

Aku adalah Aku. Dari dahulu, sekarang, dan nanti Tuhan tetap sama. Pengalaman menunjukkan bahwa Tuhan itu setia. Terjadi dalam hidup Abraham, Ishak, dan Yakob, berbagai hal yang seolah-olah tidak mungkin ternyata mungkin. Tampak pada mata manusiawi, jalan seolah-olah membelok, melingkar, atau bahkan terputus tetapi nyatanya membawa orang sampai pada tujuan.  

3). Bagaimana kalau orang-orang tidak percaya. Musa tidak mempunyai pengalaman yang dapat mendongkrak kredibilitasnya. Prestasi belum pernah diraih atau dimilikinya. Jabatan tertentu belum pernah dipegangnya. Usianya pun tergolong masih sangat belia. Lebih dari itu, orang kebanyakan belum mengenal pribadinya. Namanya pun tidak.   

“Aku adalah penjaminnya”. Pada saat itu di hadapan banyak orang Musa memang bukan siapa-siapa. Tetapi, di tangan Tuhan ia dapat menjadi alat yang luar biasa mengagumkan. Tongkat dapat menjadi ular. Dengan keluar-masuk-baju tangan dapat menjadi kusta atau sembuh dari padanya. Air pun dapat berubah menjadi darah.

4). Aku tidak pandai bicara. Setelah menyatakan keberatan umum, Musa menunjukkan kekurangan pribadinya. Ia tidak pandai berkomunikasi. Ia kurang dalam kemampuan untuk mengungkapkan atau berbagi apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diyakini. Berkenaan dengan kekurangannya ini, ia tidak yakin dapat berubah dan mengatasi.    

Siapa pembuat lidah. Di sini Tuhan meyakinkan bahwa Ia adalah pencipta. Ia dapat membuat segalanya. Ia dapat membuat orang berubah, tumbuh, dan berkembang dalam berbagai kemampuan. Termasuk di sini Tuhan dapat membuat orang tahu apa harus dikatakan dan bagaimana cara tepat menyampaikannya.  

5). Utuslah siapa saja yang patut Kauutus. Keengganan menanggapi panggilan mula-mula terungkap lewat berbagai keberatan. Akhirnya, keengganan itu menjadi sangat nyata lewat pernyataan: “Yang lain sajalah”. Mungkin dalam bahasa sehari-hari terdengar: “Biar orang lain saja. Nanti saya akan mendukung dan membantunya”. Ia merasa bagian dari hidup bersama tetapi ia menolak untuk menjadi yang pertama, berdiri di depan, atau tampil sebagai pemimpinnya. 

Bukankah ada Harun…. Terhadap penolakan itu Tuhan murka. Tuhan heran karena semua yang Ia sabdakan seolah sia-sia bagi Musa. Tuhan seolah mempertanyakan mengapa pernyataan di atas tidak dibalikkan dan diterapkan pada dirinya: “Ya, saya siap. Pasti orang-orang lain mendukung dan membantu saya”.  

Seruan dan harapan

Adalah baik kalau kita berdoa agar Tuhan memanggil orang lain menjadi pemimpin kita. Tetapi, lebih baik kalau kita sendiri (yang memenuhi syarat administratif) terbuka akan panggilanNya dan dengan sukarela bersedia menerimanya. Iman kita mengajarkan: Apabila Tuhan memanggil seseorang untuk pelayanan tertentu, Ia pasti memberikan juga apa saja yang perlu untuk dapat menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Karena itu, yang penting adalah keterbukaan untuk bekerja-sama dengan Dia dan rahmatNya.

Selamat mendaftarkan diri menjadi Calon Rektor UNPAR!   

Berita Terkini

Prestasi Gemilang UKM Badminton UNPAR di Liga Pelajar Nusantara 2024

Prestasi Gemilang UKM Badminton UNPAR di Liga Pelajar Nusantara 2024

UNPAR.AC.ID, Bandung – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Badminton Universitas Parahyangan (UNPAR) telah menorehkan tinta emas dalam sejarah olahraga kampus dengan meraih prestasi membanggakan pada Liga Pelajar Nusantara 2024, yang diselenggarakan di Bogor. Dengan...

Sistem Penghubung Layanan dan SSO untuk Transformasi Digital Indonesia

Sistem Penghubung Layanan dan SSO untuk Transformasi Digital Indonesia

UNPAR.AC.ID, Bandung - Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik atau yang dikenal dengan sebutan SPBE merupakan salah satu upaya transformasi digital di Indonesia. Fokus utama dari SPBE ialah meningkatkan layanan publik agar masyarakat bisa mendapatkan kemudahan dan...

Kontak Media

Humas UNPAR

Kantor Sekretariat Rektorat (KSR), Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung 40141 Jawa Barat

Nov 2, 2022

X