Home / Berita Terkini / P3M Unpar, Bakti Bagi Bumi Priangan

P3M Unpar, Bakti Bagi Bumi Priangan

Lembaga Pengembangan Humaniora Universitas Katolik Parahyangan (LPH Unpar) kembali mengadakan Kegiatan Program Pendidikan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M). Kegiatan P3M melanjutkan karya yang sudah  dilakukan oleh Unpar di Desa Sindulang, salah satu desa terluar di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Tahun ini, kegiatan yang berlangsung selama 19 hari, dari tanggal 3 hingga 21 Januari 2018 ini, diikuti oleh 35 orang mahasiswa dari berbagai program studi serta 26 orang Dosen Pendamping Lapangan (DPL), yang disebarkan ke dalam empat kelompok berdasarkan dusun tempat mereka beraktivitas.

Serupa dengan kegiatan-kegiatan P3M sebelumnya, para peserta P3M diajak untuk mengenali permasalahan dan solusi atas kebutuhan terkait pembangunan desa tersebut. “Mereka (melakukan) observasi di lapangan, kebutuhan atau potensi di masyarakat lalu kemudian mereka angkat menjadi proyek yang akan mereka jalankan selama P3M, baik proyek dusun maupun proyek pribadi,” jelas Arnold Rurry, staf bagian operasional kegiatan P3M. Proyek P3M menitikberatkan pada peningkatan infrastruktur, seperti akses jalan di dalam pemukiman warga yang vital bagi kehidupan masyarakat desa. Hal itu, tambahnya, dikarenakan, “Kita mengejar hal-hal tersebut yang memang belum terakomodir oleh pihak desa.”

Meningkatnya partisipasi

Sejak memulai P3M di pertengahan tahun 2015, partisipasi mahasiswa maupun masyarakat desa semakin meningkat. Hal ini diakui oleh Arnold, “Untuk tahun ini, Puji Tuhan kontribusi dari warga makin besar.” Kontribusi warga dalam bentuk waktu, pikiran, materi, dan tenaga melengkapi kerja sama warga dengan Unpar untuk bersama-sama memberdayakan dan membangun Desa Sindulang.

Mahasiswa yang terlibat P3M memiliki latar belakang masing-masing. Ada peserta yang memang mengambil mata kuliah terkait di program studinya, mendapat kewajiban karena menjadi salah satu penerima beasiswa, juga menjadi relawan. Secara garis besar, mahasiswa mengapresiasi P3M secara positif. “Banyak yang mengapresiasi baik,” tutur Arnold. Meski cukup melelahkan, lanjutnya, para peserta mampu menikmati proses dengan baik.

Harapan ke depan

Arnold berharap agar program P3M ke depan akan menarik lebih banyak dosen dan mahasiswa untuk terlibat dalam pengabdian kepada masyarakat. “Yang pasti, kami akan menggandeng teman-teman yang sudah pernah ikut serta untuk menyebarkan informasi tersebut, agar mereka mengajak teman-temannya untuk ikut serta P3M.” Untuk mempersiapkan peningkatan jumlah peserta tersebut, LPH akan mencari mitra desa yang dapat dijadikan lokasi P3M. Hal ini juga akan memberikan dampak yang lebih baik bagi masyarakat Jawa Barat.

Ia pribadi mengajak mahasiswa untuk berani terlibat dalam P3M. Mahasiswa yang ikut pada akhirnya mendapatkan pengalaman yang sangat berkesan. “Ada yang waktu pas sebelumnya malas-malasan, pas sudah mau pulang nangis-nangisan,” kenangnya. “Dia tidak menyesal ikut P3M dan P3M berkesan (baginya).”