Home / Alumni / P3M : Ketika ‘Akal’ dan ‘Rasa’ Menjadi Satu

P3M : Ketika ‘Akal’ dan ‘Rasa’ Menjadi Satu

Seorang mahasiswa tidaklah hidup di ruang hampa. Ia hidup di tengah masyarakat. Oleh karena itu, sejatinya mereka punya kepekaan terhadap isu sosial di masyarakat.

Universitas Katolik Parahyangan melalui Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH Unpar) untuk pertama kalinya menginisiasi Program Pendidikan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M). Ide utama program tersebut dilatarbelakangi upaya peningkatan kepekaan mahasiswa terhadap isu sosial kemasyarakatan sehingga mahasiswa Unpar dapat tumbuh dan berkembang sebagai pribadi sekaligus anggota masyarakat.

Ide utama P3M terbersit pada 2013 dengan uji coba pertama dilakukan pada Juli-Agustus 2015. Berkaca pada pengalaman tersebut, P3M kembali diselenggarakan pada tanggal 4-23 Januari 2016 di Desa Rawabogo, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung dan Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Pemilihan desa telah melalui proses survei dan kesepakatan dengan perangkat desa setempat.

Saat itu, P3M melibatkan 30 peserta dari beberapa Program Studi beserta Dosen Pendamping Lapangan (DPL) dan Dosen Narasumber Program (DNP). Adapun peserta dibagi ke dalam dua program utama, yaitu pengembangan Desa Wisata di Desa Rawabogo dan perbaikan infrastruktur di Desa Sindulang. Kemudian, tim P3M merancang tiga jenis proporsi program yaitu program desa, program dusun, dan program pribadi yang diharapkan mampu mengakomodasi wilayah RT atau RW yang belum terjangkau.

Tahapan
Pada tahap persiapan, tim P3M membangun koordinasi dengan perangkat desa, instansi pemerintah terkait perizinan, dan seluruh Program Studi di lingkungan Unpar terkait dengan rekrutmen dosen pendamping dan mahasiswa sebagai peserta.

Di tahap pelaksanaan, tim dosen, pendamping, dan panitia P3M berkunjung setiap minggu untuk melakukan diskusi, sharing, dan konsultasi terkait program yang dilaksanakan mahasiswa. Dalam kurun waktu 20 hari, mahasiswa tidak hanya ‘tinggal bersama’, tetapi juga mencoba mewujudkan kebaikan bersama, saling belajar, berjumpa, dan bertukar pikiran untuk saling merekatkan hati sehingga dapat terjalin rasa empati, bukan sekadar simpati.

Melalui proses observasi, diskusi, musyawarah dengan warga, serta pendekatan-pendekatan yang dilakukan, ditemukan beberapa permasalahan yang ada di desa. Kemudian, mahasiswa mencoba membantu ‘mengurangi’ masalah-masalah di desa tersebut melalui program-program yang tepat guna antara lain mengajar siswa sekolah dasar hingga SMA, memperbaiki infrastruktur dusun, mengundang pembicara untuk mengisi penyuluhan di dusun maupun di desa, hingga membuat katalog desa wisata.

Dalam proses tersebut dapat dilihat bahwa tim P3M tidak datang serta-merta sebagai penggalang dana, tetapi juga sebagai pemicu masyarakat setempat untuk inisiatif menyatakan apa yang menjadi kebutuhan desa setempat sehingga program-program yang digalakkan tepat sasaran.

Pada tahap selanjutnya, seluruh rangkaian proses kegiatan dievaluasi oleh para peserta, panitia, termasuk para dosen, dan evaluasi khusus bersama dengan perangkat desa. Evaluasi khusus tersebut ditujukan tidak hanya untuk berbincang bersama dan mendengar pandangan, masukan, maupun kritik dari para perangkat desa terkait pelaksanaan P3M, tetapi juga sebagai bentuk terima kasih atas kesediaan desa bekerja sama dengan pihak Unpar.

P3M yang dilakukan di Desa Rawabogo dan Desa Sindulang baru pertama kali dilakukan dan baru menyentuh permukaan saja. Dalam waktu 3-5 tahun mendatang, program ini akan terus dilakukan di desa tersebut. Diharapkan keberlanjutan program dapat terus dijaga serta dapat ditemukan program sebagai solusi dari akar permasalahan.

Dalam hal ini, kedua desa tersebut telah menjadi laboratorium ilmu bagi mahasiswa untuk dapat mengaplikasikan berbagai materi, sesuai dengan bidang keilmuan yang telah mereka peroleh selama proses belajar di dalam kelas.

Di lain pihak, para dosen termasuk pendamping dan panitia yang terlibat pun dapat belajar bagaimana masyarakat desa menjaga kelestarian budaya dan alamnya; belajar bagaimana masyarakat desa hidup sederhana dengan segala keterbatasan yang ada.

Semoga dengan hadirnya program pengabdian masyarakat seperti ini, semakin banyak masyarakat akademik yang tidak hanya tergerak, tetapi juga bergerak untuk mengamalkan ‘akal’ (ilmu) dan menyinergikannya dengan rasa (hati) guna mewujudkan masyarakat yang lebih baik dengan hadirnya Unpar di tengah-tengah mereka.

Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 8 Maret 2016)