Home / Berita Terkini / Orasio Dies Natalis Unpar ke-65: “Developing Quality Higher Education for Digital Generation: A Marathon Race”

Orasio Dies Natalis Unpar ke-65: “Developing Quality Higher Education for Digital Generation: A Marathon Race”

Dies Natalis Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) ke-65 diselenggarakan pada Jumat, 17 Januari 2020 dengan Orasio Dies Natalis yang dibawakan oleh Prof. Drs. T. Basaruddin, M.Sc., Ph.D, Direktur Dewan Eksekutif Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, yang juga merupakan Guru Besar Universitas Indonesia. Dengan mengangkat tema “Developing Quality Higher Education for Digital Generation: A Marathon Race”, Prof Basaruddin ingin menekankan akan pembangunan pendidikan tinggi yang berkualitas pada generasi digital sekarang ini.

Perubahan dunia yang pesat

Menurutnya, bukan yang terkuat atau yang tercerdas yang dapat bertahan hidup, namun yang dapat bertahan adalah yang dapat menyesuaikan dirinya terhadap perubahan dunia yang ada. Setelah 65 tahun, Unpar telah berevolusi dan telah berubah dan menyesuaikan dirinya dengan perubahan yang ada hingga saat ini Unpar menjadi universitas ternama.

“Dunia saat ini berubah sangat pesat,” tutur Prof Basarudin. Dirinya juga menganalogikan orasinya dengan sebuah lomba marathon karena didasarkan oleh berbagai aspek. Pertama adalah, dalam membangun perguruan tinggi yang bermutu, dibutuhkan upaya yang besar dan sumber daya yang tidak sedikit. “Beyond itu, diperlukan komitmen, persistence, tekad yang besar, serta ketahanan, karena ini bukan short term, tapi long term development,” jelas Prof Basaruddin.

Dampak terhadap manusia

Perubahan terjadi tanpa kita kehendaki. Maka dari itu, tidak ada pilihan bagi kita kecuali untuk ikut dalam perubahan tersebut dengan melakukan perubahan dan penyesuaian. Semakin berkembangnya teknologi digital, maka manusia juga harus bisa bersaing dengan mesin. Perkembangan Artificial Intelligence (AI) memungkinkan komputer untuk belajar dari data-data yang ada, atau yang dikenal dengan big data. Dampak tersebut dapat dilihat pada dunia pekerjaan, yang mana sekarang ini banyak sektor pekerjaan yang hilang dan tergantikan dengan mesin.

Dengan memasuki era digital ini, muncul pula generasi baru yang disebut generasi digital yang memiliki perbedaan dengan generasi sebelumnya. Misalnya hal tersebut dapat dilihat dari perbedaan dalam memproses informasi, berkomunikasi, dan pendekatan terhadap cara belajar yang juga berbeda.

Pentingnya soft skill dan literasi teknologi

Untuk membuat sebuah perubahan, tentu saja ada beberapa skill baru yang dibutuhkan. Misalnya seperti sense making, social intelligence, adaptive thinking, cross cultural competence, dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu, muncul juga integrasi antara softskill dan literasi baru, yaitu literasi data, teknologi, dan literasi manusia.

Di era digital ini, people skill seperti komunikasi, endurance, leadership, curiosity, dan comprehension lebih dipentingkan dibandingkan dengan hard skill yang dapat dilakukan oleh sebuah mesin. Tidak hanya people skill, di era baru digital ini diperlukan juga kemampuan yang didasarkan kepada matematika, ilmu pengetahuan dan programming. Perkembangan lainnya juga akan terlihat pada perubahan demografi mahasiswa, sistem pendidikan, dan adanya perubahan ekspektasi dari masyarakat yang semakin luas.

Tantangan dan strategi

Maka dari itu, diperlukan bagaimana strategi kedepan untuk dapat meningkatkan dan membangun perguruan tinggi yang berkualitas untuk para digital native. Namun masih ada beberapa tantangan yang harus dibenahi, seperti misalnya bagaimana suatu perguruan tinggi harus dapat bertahan. Di Indonesia sendiri, pendidikan tinggi masih berbasis teaching, yang mana banyak dari waktu para dosen tersita untuk mengajar, bukan untuk melakukan research. Persoalan lainnya adalah sektor pendidikan yang over regulated sehingga harus adanya regulasi baru terutama dalam permasalahan otonomi.

Prof Basaruddin memberikan strategi untuk meningkatkan dan membangun perguruan tinggi yang berkualitas, yaitu dalam tataran nasional atau makro dibutuhkan sebuah institutional autonomy. Pemerintah harus memberikan otonomi kepada perguruan tinggi untuk dapat menyelesaikan permasalahannya sendiri, karena otonomi tersebut merupakan syarat kualitas yang tinggi dari sebuah perguruan tinggi.

Untuk mencapai hal tersebut ada beberapa hal yang harus dikembangkan oleh suatu perguruan tinggi, misalnya seperti holistic learning model yang berkembang, institutional setting yang responsif, dan collaborative innovation yang sesuai.Pendidikan tinggi bukanlah merupakan permasalahan dalam negeri saja, tapi merupakan permasalahan global. Untuk tetap relevan, perguruan tinggi harus berubah. “Budaya mutu tidak bisa tumbuh tanpa environment yang kondusif. Membangun mutu adalah marathon yang membutuhkan komitmen, endurance, dan kesabaran,” tutup Prof Basaruddin. (YJR/DAN)