Mutu Perguruan Tinggi: Merawat Kepercayaan

Oleh: Willfridus Demetrius Siga, S.S., M.Pd.

Perguruan tinggi harus bisa menempatkan diri bukan lagi sebagai ‘pabrik sarjana’ melainkan sebagai agen perubahan yang memberi respons cepat terhadap peradaban. Pernyataan ini memiliki pendasarannya ketika mutu pendidikan perguruan tinggi berhadapan langsung dengan wajah peradaban. Ada empat situasi yang melatarbelakanginya yaitu era disrupsi, krisis pandemi, hybrid learning sebagai alternatif pengajaran, dan kualitas Tridharma Perguruan Tinggi (pengajaran, penelitian, dan pengabdian) sesuai amanah Undang-undang No. 12 Tahun 2012. Tanpa disadari, keempat situasi di atas kemudian membentuk image dan trust sebagai parameter baru perguruan tinggi.

Disrupsi mengubah banyak hal! Tidak perlu risau ketika berbicara tentang software as a service atau internet of things. Kemampuan untuk menganalisis big data dan coding literacy menjadi kompetensi yang paling dicari dan diminati. Pendidikan pun mengalami dilema antara tanggung jawab moral etis dan strategi mempersiapkan kecakapan masa depan. Belum selesai mengurai dan menyelesaikan dilema di atas, pendidikan kita dihadapkan dengan krisis pandemi Covid-19. Salah satu solusi pendidikan untuk tetap hidup selama krisis ini adalah model pembelajaran konvensional berpindah ke ruang virtual yang terbatas pada keterampilan mekanis.

Disrupsi kemudian menjadi seperti sebuah ‘tuntutan’ saat krisis pandemi datang. Perguruan tinggi ikut beradaptasi dengan serangkaian platform pembelajaran digital (e-learning) sehingga transfer ilmu mudah diakses oleh mahasiswa dimana pun mereka berada. Ruang kelas menjadi saksi bahwa kebutuhan akan transfer ilmu dan capaian akademik melampaui batas. Prioritas perguruan tinggi adalah mengembangkan kompetensi digital dengan fasih dan bertanggung jawab tanpa perlu jatuh ke dalam personalisasi pendidikan. Pembelajaran berbasis teknologi diharapkan mampu mengubah image perguruan tinggi dengan pencitraan yang baru. Pandemi beranjak pergi, datanglah hybrid learning! Pendekatan model ini digadang tidak hanya membuat pembelajaran lebih mudah diakses, tetapi juga memungkinkan para peserta didik untuk bisa belajar dari mana saja dan kapan saja.

Disrupsi, pandemi, dan hybrid learning untuk situasi saat ini tetap menjadi pemicu agar mutu pendidikan tinggi tidak sekedar memposisikan diri sebagai tempat memproduksi para ‘tukang’ akademis melainkan sebagai agen perubahan yang memberi respon cepat terhadap peradaban. Maka perlu ada komitmen dan kompetensi sebagai titik tawar bagi krisis peradaban. Pertanyaan yang kemudian adalah apa yang hendak ditawarkan perguruan tinggi sebagai sebuah publikasi mutu? Tridharma perguruan tinggi khususnya riset dan dampaknya bagi masyarakat luas dengan cara membangun cara berpikir kritis sebagai fondasi sebuah bangunan peradaban. Harapannya, tidak direduksi hanya pada tataran administratif kelayakan mutu perguruan tinggi saja.

Kita tidak dapat menolak fakta bahwa, lembaga pendidikan tinggi telah berubah menjadi dunia pelanggan (bussines oriented). Kepuasan pelanggan menjadi prioritas. Dengan demikian, artinya menjadi perguruan tinggi dengan hanya mengandalkan sikap kritis saja tidak cukup. Sikap kritis perlu mendapatkan bentuk melalui manfaat bidang keilmuan bagi masyarakat luas sebagai pelanggan. Maka yang perlu dilakukan adalah merawat kepercayaan publik melalui kualitas publikasi Tridharma Perguruan Tinggi melalui keterbukaan dan kolaborasi mutual. Mutu pendidikan yang dihasilkan melalui riset dan pengabdian kepada masyarakat diharapkan memberi jawaban terhadap krisis peradaban bukan lagi secara parsial tetapi harus komprehensif.

Praktiknya, mutu pendidikan tinggi memberi ruang keleluasaan untuk  menciptakan kolaborasi lintas ilmu secara terintegrasi untuk membangun koneksi secara digital, menjadi inisiator, bahkan digital enterepreneur bagi para pelanggan (masyarakat luas termasuk pesserta didik).

Mutu pendidikan tinggi harus terarah pada making civilized people (Postman). Tidak dalam konteks menjadi ‘juru selamat’ yang harus mampu menyelesaikan semua persoalan peradaban melainkan merespon dalam tindakan sebagai sebuah pertanggungjawaban akademik.

Perguruan tinggi perlu hadir sebagai sebuah institusi  yang kreatif, imaginatif, abstraktif, komunikatif, kolaboratif, mengedepankan empati dan kecerdasan emosional, dan mampu bekerja efektif secara kolektif tanpa mempersoalkan identitas. Disrupsi, krisis pandemi, dan hybrid learning adalah bagian dari adaptasi untuk meningkatkan mutu pendidikan, tetapi merawat kepercayaan melalui kerja kolaboratif Tridharma perguruan Tinggi menjadi tuntutan kompetensi yang dianggap mampu memperkuat peradaban mutu pendidikan saat ini.