Home / Berita Terkini / Menyulap Limbah Menjadi Bahan Baterai

Menyulap Limbah Menjadi Bahan Baterai

Nama Arenst Andreas (40) sebagai peneliti di bidang pemanfaatan biomassa untuk baterai semakin diperhitungkan. Pasalnya, di Indonesia kurang dari sepuluh orang yang menekuni bidang tersebut. Namun, itu juga menyulitkan Arenst untuk meneliti secara berkolaborasi.

Penelitian Arenst terkait baterai itu awalnya merupakan bagian dari pencapaian gelar doktor yang ia tempuh di Korea Institute of Science and Technology (KIST) di Seoul, Korea Selatan. Arenst berpendapat, mencari inspirasi penelitian itu tidak sulit. Semua bisa dimulai dengan lingkungan sekitar.

“Saya memulainya dengan ide sederhana yang saya alami sehari-hari,” ujar peraih penghargaan Dosen dengan Kinerja Terbaik dalam Dies Natalis ke-61 Universitas Katolik Parahyangan, ketika ditemui di ruang pengajar Fakultas Teknologi Industri Unpar Jalan Ciumbuleuit, Kamis (21/1/2016).

Arenst melihat kapasitas baterai lithium yang terbatas, yang dalam pandangannya dapat diperbesar. Dalam penelitian doktoralnya, ia menggunakan bahan untuk material karbon nano seperti yang digunakan dalam permunian air. Kebetulan di KIST, instrument untuk penelitian Arenst tersedia. Oleh karena itu, ketika pengajuan penelitian dilakukan, langsung diterima oleh KIST.

Sepulang dari Korea Selatan pada 2011, ia melanjutkan penelitiannya. Penelitiannya masih sebatas anoda dari baterai, sedangkan untuk baterai mesti ada tiga elemen yang dipenuhi, yakni katoda, anoda, dan elektroda. Dengan demikian, ia harus bersabar untuk menemukan mitra yang tepat dalam menyelesaikan mimpinya itu. “Karena penelitian ini tidak berdiri sendiri,” ujarnya.

Peneliti di bidang itu masih jarang. Oleh karenanya, dalam perjalanan, ia melirik material yang murah dan mudah didapat. Ia ingin materialnya merupakan barang tidak berharga. Ia pun mencoba menggunakan biomassa seperti kulit salak, kulit pisang, dan kayu.

Material yang melimpah di Indonesia itu, menurutnya, dapat menghasilkan kapasitas baterai yang besar. Tidak hanya untuk ponsel dan komputer jinjing, bahkan dapat dimanfaatkan untuk baterai mobil. “Pokoknya ini bahan murah yang tak berharga, bukan yang masih dapat dimakan, sehingga jika produksi massal bahan bakunya tidak akan berebutan dengan pasar makanan,” ujar alumnus Teknik Kimia Unpar angkatan 1994 itu.

Karena keterbatasan instrumen di Indonesia, Arenst terus bekerja sama dengan KIST. Arenst mengaku penelitiannya masih jauh untuk dikomersialkan. Ia masih harus menjalani proses penelitian, kemudian proyek percontohan, baru masuk ke industri.

Regenerasi

Selain menuntaskan penelitiannya, Arenst masih memiliki mimpi lain. Ia ingin semakin banyak mahasiswa dan dosen menjadi peneliti. Oleh karena itu, kini Arenst memosisikan dirinya sebagai manajer bagi mahasiswanya.

Ia mengarahkan mahasiswa yang memiliki ketertarikan penelitiannya yang sama dengannya. Saat ini sudah ada mahasiswanya yang juga menyelesaikan pendidikan doktoral di KIST. Sepulang dari sana, ia berharap anak didiknya itu berkolaborasi dengannya.

Meneliti dan memublikasikan karya, menurutnya, tidak sulit. Ia menyarankan, mulai membiasakan mendokumentasikan penelitian meskipun itu sederhana. Lalu, beranikan diri mengirimkan karyanya ke jurnal nasional dan internasional.

“Ide orisinal yang kemudian dipublikasikan di jurnal internasional akan membuat peneliti diakui. Itu juga akan membuka kesempatan bekerja sama dengan banyak orang,” kata peneliti yang lebih dari 30 karyanya dipublikasikan di jurnal internasional itu. (Dewiyatini/”PR”)***

 

Sumber: Artikel “Menyulap Limbah Menjadi Bahan Baterai” pada surat kabar PIKIRAN RAKYAT Edisi 22 Januari 2016.