Menjawab Tantangan dan Peluang Demi Melahirkan Mahasiswa Multitalenta Melalui Kampus Merdeka

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) kembali merayakan dies natalis tepat pada tanggal 17 Januari 2024 lalu. UNPAR telah genap berusia 69 tahun dan terus menjadi salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. 

Dalam kesempatan ini, Prof. Ir. Nizam, M.Sc.,DIC, Ph.D., IPU, ASEAN Eng. selaku Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) turut menghadiri acara dies natalis UNPAR.

Dalam oratio-nya, Nizam membawakan isu mengenai pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia untuk mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada. Ia mengatakan bahwa saat ini, institusi perguruan tinggi memiliki peluang sekaligus tantangan yang besar akibat dari bonus demografi. 

Dengan persiapan yang baik dan matang, bonus demografi dapat membawa keuntungan bagi Indonesia, oleh karena itu kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan baik agar peluang ini malah tidak menjadi bom demografi atau mencegah terjadinya demographic dividend. 

Perguruan tinggi memiliki peran dalam meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memiliki andil dalam menjadikan Indonesia sebagai negara maju. Nizam menyatakan bahwa tidak ada satupun negara maju yang semata-mata mengandalkan sumber daya alam (SDA) dan buruh murah saja, maka dalam rangka upaya Indonesia menjadi negara maju kita harus memiliki aspek lain untuk menjadi nilai jual negara.

“Kalau kita masih hanya memanfaatkan buruh murah, kita hanya akan menjadi bangsa kuli yang jadi pekerja di level menengah dan rendah,” ujarnya.

Ia melihat bahwa perguruan tinggi memiliki tugas yang menantang sekaligus mulia yakni menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, kompetitif, kreatif, dan tetap berakhlak mulia. Perguruan tinggi harus ambil bagian dalam menghasilkan nilai tambah dari SDA yang sudah dihasilkan oleh Indonesia.

Saat ini, akses pendidikan tinggi di Indonesia sudah sangat universal dengan menampung 9,5 juta mahasiswa per tahun ini. Stigma mengenai adanya kesenjangan akses pendidikan tinggi berhasil dibantah dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) yang saat ini mencapai di atas 40 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa partisipasi dan akses pendidikan tinggi bukan lagi masalah utama, tetapi kesenjangan akses ke perguruan tinggi yang berkualitas. Perguruan tinggi berkualitas adalah institusi yang bisa membuat mahasiswa dan lulusannya menjadi relevan di perubahan zaman yang pesat.

Di dunia yang berubah dengan serba cepat, diperlukan individu yang juga dapat beradaptasi dengan cepat. Dalam 10 tahun kedepan, diprediksi bahwa akan ada 23 juta lapangan pekerjaan yang hilang di Indonesia karena tergantikan oleh otomasi, sistem cerdas dan robotika.

Namun, hal tersebut tentunya tidak perlu dijadikan sebuah kekhawatiran yang berlebihan karena diperkirakan akan ada juga lapangan kerja yang muncul sebanyak dua kali lipat dari lapangan kerja yang hilang. 

Di saat seperti ini, dibutuhkan perguruan tinggi untuk berani bertransformasi dan keluar dari zona nyaman, memasuki revolusi industri baru yang sedang terjadi dengan menyiapkan para mahasiswanya dalam menghadapi dunia kerja. Hal ini dapat diwujudkan dengan memberikan pengalaman di lapangan bagi para calon lulusan perguruan tinggi.

“Pengetahuan yang sesungguhnya adalah pengalaman. Pengetahuan yang diajarkan adalah sekadar informasi. Mahasiswa harus menjadi pemikir sejati, menghubungkan puzzle dan titik yang ada, serta menjadi solusi masa depan,” tutur Nizam.

Kesempatan ini telah berusaha diwujudkan oleh Pemerintah Indonesia dengan membentuk program Kampus Merdeka dengan berbagai pilihan pengalaman yang sesuai dengan keinginan para mahasiswa, misalnya dengan pertukaran pelajar hingga kerja turun lapangan. 

Program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) memiliki dampak positif bagi para mahasiswa. Paparan skil dan pengalaman dunia industri membuat lulusan MSIB lebih cepat dalam mendapatkan pekerjaan pertama selepas lulus (1.1 bulan) dengan pendapatan pertama lebih besar (1.78x UMR) daripada mahasiswa pada umumnya.

Pengimplementasian Kerja Sama Dunia Usaha dan Kreasi Reka (Kedaireka) dapat membuat Indonesia meningkatkan angka kolaborasi akademik dengan industri lebih dari 30 persen, sehingga Indonesia meraih peringkat nomor 5 di dunia.

Menggandeng industri dalam menyiapkan mahasiswa bertalenta harus terus dipertahankan dan diakselerasi kedepan agar harapan kita dalam mewujudkan Indonesia emas dapat terwujudkan. (SYA-Humas UNPAR) 

Berita Terkini

Prestasi Gemilang UKM Badminton UNPAR di Liga Pelajar Nusantara 2024

Prestasi Gemilang UKM Badminton UNPAR di Liga Pelajar Nusantara 2024

UNPAR.AC.ID, Bandung – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Badminton Universitas Parahyangan (UNPAR) telah menorehkan tinta emas dalam sejarah olahraga kampus dengan meraih prestasi membanggakan pada Liga Pelajar Nusantara 2024, yang diselenggarakan di Bogor. Dengan...

Sistem Penghubung Layanan dan SSO untuk Transformasi Digital Indonesia

Sistem Penghubung Layanan dan SSO untuk Transformasi Digital Indonesia

UNPAR.AC.ID, Bandung - Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik atau yang dikenal dengan sebutan SPBE merupakan salah satu upaya transformasi digital di Indonesia. Fokus utama dari SPBE ialah meningkatkan layanan publik agar masyarakat bisa mendapatkan kemudahan dan...

Kontak Media

Humas UNPAR

Kantor Sekretariat Rektorat (KSR), Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung 40141 Jawa Barat

Jan 22, 2024

X