Menilik Fisika Medis yang Kian Eksis

Adaptif terhadap perubahan sepertinya harus dilakukan di era kini, tak terkecuali perkembangan teknologi kesehatan. Itulah yang mendasari Program Fisika Medis pada Program Studi Fisika Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) dinilai relevan seiring perkembangan zaman. Pentingnya fisika dalam dunia medis sejalan dengan kemajuan teknologi kesehatan yang nantinya tentu dibutuhkan tenaga ahli yang bisa menguasai ilmu pengetahuan terapan.

Mahasiswa dan alumni menyambut baik diresmikannya Fisika Medis sebagai program peminatan teranyar di UNPAR sejak 2020 lalu. Berada di bawah naungan Prodi FIsika UNPAR yang memiliki akreditasi A, mereka optimistis, FIsika Medis bisa berkontribusi dalam peningkatan pelayanan kesehatan di Indonesia.

Jawab Kebutuhan

Bagi Rika Aprilia Nemsina Pasaribu, Fisika Medis wajar jadi pilihan bagi mereka yang ingin berkontribusi di bidang pelayanan kesehatan. Angkatan 2017 ini sadar betul soal kebutuhan Indonesia akan tenaga Fisikawan Medik-profesi yang sangat dibutuhkan- di tiap rumah sakit dan klinik tersebut nyatanya mau jauh dari harapan. 

“Di rumah sakit (RS) itu enggak cuman dokter sama suster, biasanya orang awam tahunya dokter saja, ada yang namanya Fisikawan Medik. Apa yang aku pelajari di tingkat satu sampai akhir ini enggak hanya Fisika saja, ada kimianya, biologinya, ada teknologinya. Apalagi ternyata apa yang aku pelajari di Fisika bisa lho diterapkan ke medis,” tuturnya, 

Keputusan untuk menekuni Program Fisika Medis pun berangkat atas kesadaran bahwa perlu ada tenaga ahli seperti Fisikawan Medik yang menjadi mitra dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan. Usai menempuh strata-1 (S1) Fisika UNPAR, dia pun berkeinginan mengambil profesi untuk menjadi Fisikawan Medik.

“Indonesia lagi butuh-butuhnya tenaga Fisikawan Medik.Kalau ditanya, tentunya pengen jadi FIsikawan Medik, pokoknya di bidang kesehatan, biar linier apa yang aku pelajari bisa diterapkan ke masyarakat juga,” ujar Rika.

Berkembang Pesat

Perkembangan teknologi kesehatan mau tak mau harus sejalan dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni di bidangnya. Aria Aristokrat pun mafhum akan era kini yang membuat seseorang tak sekadar menunaikan studi sarjana, namun perlu mempertimbangkan betul prospek karier ke depan.

Mahasiswa angkatan 2020 itu menyadari bahwa saat teknologi berkembang pesat, terutama teknologi kesehatan, maka dibutuhkan pula seorang ahli yang menguasai dan dapat mengembangkan teknologi tersebut dalam dunia medis. 

“Penting dan sangat dibutuhkan, apalagi kampus yang ada peminatan Fisika Medis itu jarang. Terus tenaga Fisikawan Medik juga sepertinya masih sedikit, padahal di tiap rumah sakit kan dibutuhkan orang-orang yang bisa mengawasi penggunaan alat-alat kesehatan. Jadi menurut aku (lulusan Fisika Medis), peluang kerjanya juga lumayan,” katanya.

Mengasah Diri

Sementara itu, alumni Fisika UNPAR Xanno S. yang kini tengah menempuh studi S3 Biomedical Engineering di National Taiwan University of Science and Technology, mengapresiasi Fisika Medis UNPAR yang telah resmi berdiri sebagai program peminatan baru. Menurut dia, sudah saatnya UNPAR memiliki program yang spesifik dan bersentuhan langsung dengan bidang medis.

“Sudah waktunya memang. Jadi bagus kalau di UNPAR sudah ada yang spesifik ke Program Fisika Medis. Untuk Fisika Medis sendiri, kesempatannya bagus tetapi untuk bisa meraihnya enggak bisa setengah-setengah. Saya harap kalian berusaha 100 persen setelah memilih itu,” ujar Xanno.

Menurut dia, lulusan Fisika Medis UNPAR pun bisa terus mengasah diri jika ingin menjadi tenaga ahli. Kesempatan untuk mengambil kesempatan belajar atau bekerja di luar negeri pun tentunya terbuka lebar.

“Pesan saya, bisa ambil atau cari kesempatan di luar negeri. Cari pengalaman terus bawa kembali ilmu kalian ke dalam negeri dan berusaha untuk memajukan industri medis Indonesia,” tuturnya mengakhiri perbincangan. (Ira Veratika SN-Humkoler UNPAR)