Home / Berita Terkini / Menikmati Ragam Seni Visual dalam PARVISI 2019

Menikmati Ragam Seni Visual dalam PARVISI 2019

Menjelang akhir periode kelembagaannya, Lembaga Kepresidenan Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (LKM Unpar) menyelenggarakan kegiatan pengembangan diri berbasis seni bertajuk Parahyangan Visual dan Seni atau Parvisi. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari pada Jumat dan Sabtu, 22-23 November 2019 di 107 Garage Room Ciumbuleuit.

Para pengunjung eksibisi yang masuk akan disuguhi dengan pameran poster-poster film klasik dan kontemporer Indonesia. Di samping jalan akses, pengunjung dapat melihat instalasi berupa kain yang tergantung berisi kutipan-kutipan film nasional ternama, juga instalasi hologram di ujung ruang. Berlanjut ke lantai dua, pengunjung memasuki area ‘visual experience’. Sebuah proyektor menyorot imaji “Parvisi” di sebuah layar kain, memberi ruang untuk pengunjung yang ingin mengabadikan diri, misalnya dengan swafoto atau selfie.

Mata acara utama Parvisi sendiri tidak berada dalam ruang-ruang eksibisi tersebut, tapi di halaman belakang venue. Bantal duduk beanbag mengelilingi layar layaknya bioskop luar ruang. Di sinilah panitia menyuguhkan tiga film pendek terpilih yang telah dikurasi oleh Forum Film Bandung (FFB), diskusi bersama Rasamala serta penampilan seni seperti musik dan tari dari mahasiswa Unpar. Selain itu, melalui kerjasama dengan HOOQ, dua film layar lebar Indonesia yaitu “Susah Sinyal” serta “Milly dan Mamet” juga ditampilkan dalam kegiatan tersebut. 

Gambar Idoep

Seni visual memang masih kurang lazim dalam lingkungan kampus Unpar. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Parvisi Andrieco dan Wakil Ketua Pelaksana Joseph dalam wawancara dengan Tim Publikasi di sela-sela kegiatan. Melalui teknologi visual, ungkap Andrieco, “Kita membawa nuansa yang berbeda.” Hal ini dibenarkan oleh Joseph. “Kita mencari seni yang masih kurang di Unpar sendiri,” jelasnya. Untuk menarik minat mahasiswa, mereka menghadirkan pemanis berupa art exhibition, art installation, dan performance art.

Dari seni visual inilah tema Parvisi 2019 yaitu Gambar Idoep muncul. “Gambar idoep kita ambil sebagai tema untuk menjelaskan perkembangan film di Indonesia,” ujar Joseph. Untuk mengisi tema tersebut, tentu saja Parvisi mengetengahkan film sebagai mata acara utama kegiatan. “Kita ada open submission dari universitas-universitas di Indonesia,” kata Andrieco, sembari menjelaskan bahwa tidak hanya dari Indonesia, satu film juga berasal dari mahasiswa yang tengah belajar di New York Film Academy. Hasil open submission ini adalah tiga film pendek, yaitu “Bayangan Tak Berpaling”, “Sono”, dan “Ujung Tombak”.

Mengalami Seni

”Untuk memperbanyak massa,” kata Joseph, “kita mengangkat art installation dan art exhibition yang notabene masih baru di acara Unpar.” Inovasi dari Parvisi memberi ruang bagi mahasiswa untuk berkarya dan berekspresi. Kolaborasi juga dilakukan oleh Parvisi untuk menghadirkan ruang pengalaman seni visual bagi para pengunjung. “Kita kerjasama dengan komunitas visual di bandung,” jelas Andrieco. ”Kita bisa belajar dari mereka juga,” tambahnya.

Selain menikmati film dan karya visual, pengunjung Parvisi juga bisa mendapatkan majalah “Highlights”. Majalah terbitan LKM Unpar ini mengangkat tema “Voice” sebagai representasi suara mahasiswa Unpar dalam menanggapi isu-isu kontemporer, sekaligus sebagai kaleidoskop kegiatan mahasiswa selama satu periode kepengurusan LKM Unpar.

Panitia Parvisi berharap agar kegiatan ini dapat meningkatkan minat dan bakat mahasiswa Unpar dalam dunia seni visual, khususnya perfilman. Lebih dari itu, Andrieco berharap agar, ”Ke depan supaya Parvisi tetap ada.” Keberadaan Parvisi menjadi ruang bagi mahasiswa Unpar untuk berani bersuara dan mengekspresikan diri melalui seni. (DAN)