Menikmati Kekayaan Tradisi Kabupaten Indramayu

Oleh: Hendrikus Ageng Pranowo (Mahasiswa Filsafat Budaya UNPAR)

UNPAR.AC.ID, Bandung – Masyarakat Kabupaten Indramayu dapat dikatakan sebagai makhluk yang membudaya, hal itu dikarenakan mereka masih menjaga sekaligus melestarikan tradisi dan kebudayaan mereka secara turun temurun. Beberapa tradisi yang terkenal dari Kabupaten Indramayu di antaranya; Mapag Tamba atau Tolak Bala yaitu ritual yang biasanya dilakukan untuk menolak hama padi, Mapag Sri acara yang digelar untuk menyambut masa panen sekaligus ungkapan syukur karena masa panen segera tiba, Ngarot tradisi atau ritual kaderisasi petani untuk mengingatkan generasi muda bahwa leluhur mereka adalah seorang petani, Ider-ideran dan Sandiwara biasanya tradisi ini dilakukan untuk menghormati leluhur masyarakat di desa setempat.

Relasi manusia dengan dunia sejatinya dimuat dalam hubungannya dengan kebudayaan (A. Snijders, 2004, 57). Dengan kata lain, manusia saling berkorelasi satu sama lain, dan proses ini terjadi secara berulang yang pada akhirnya membentuk suatu kebiasaan. Unsur keberulangan inilah yang pada dasarnya melatar belakangi lahirnya kebudayaan. Kebudayaan yang selanjutnya mempunyai posisi fundamental dalam menggerakan dan memotori perkembangan dan dinamika peradaban manusia. Maka, dalam hal ini dapat dikemukakan bahwa manusia adalah makhluk yang membudaya (cultural being) lewat segala bentuk tindakan dan pemikirannya.

Jika menilik kebudayaan secara objektif, kehidupan manusia memuat segala bentuk perwujudan simbol-simbol kebudayaan, meski istilah kebudayaan belum disematkan dalam setiap aktivitas mereka. Ritual, rasionalitas lokal, bangunan bahkan agama menjadi suatu simbol kebudayaan yang dimaknai dan dihidupi secara terus menerus. Simbol-simbol kebudayaan tersebut secara masif dan sistematis membuktikan bahwa kebudayaan memang mempunyai andil besar dalam perkembangan sejarah kehidupan manusia. Segala bentuk pemaknaan terhadap simbol-simbol kebudayaan memuat tendensi sebagai wahana untuk mentransformasikan manusia menjadi the supreme being. Dengan kata lain, melalui kebudayaan manusia dapat mencapai puncak dari dirinya yang unggul, dalam peristilahan Nietzsche disebut ubermensch

Jika menilik ke zaman pencerahan, Immanuel Kant (1724-1804) memandang bahwa kebudayaan mempunyai keterkaitan erat dengan kodrat teleologis semesta kehidupan (B. Sugiharto, 2019, 22). Konsep kebertujuan ini bukan untuk mencapai kebahagiaan yang dinilai Kant sebagai suatu konsep yang abstrak. Melainkan melalui kebudayaan manusia mampu mencapai tujuan dan cita-citanya berdasarkan eksistensi, kehendak dan kecerdasannya. Selain terdiri dari masyarakat dengan pola kehidupan yang agraris, masyarakat Kabupaten Indramayu juga terdiri dari masyarakat yang hidup dengan pola maritim. Masyarakat dengan pola kehidupan maritim bisa dikatakan masih mewarisi kecerdasan para leluhur mereka yang masih berkaitan dengan kerajaan Majapahit. Hal itu bisa dilihat dari kecerdasan dan ketangkasan masyarakat Kabupaten Indramayu dalam membuat kapal-kapal besar yang berbahan dasar kayu. Uniknya, ketika membuat kapal kebanyakan masyarakat Kabupaten Indramayu hanya mengandalkan insting, artinya mereka tidak mempunyai cetak biru mengenai model kapal yang hendak mereka buat. Tradisi membuat kapal dari kayu ini telah diwariskan turun-temurun oleh para leluhur dan menjadi salah satu keunikan nelayan di Kabupaten Indramayu.

Pelbagai simbol dan makna tradisi yang masih eksis hingga kini di Kabupaten Indramayu mengandaikan bahwa masyarakat sangat menghargai warisan leluhur mereka. Bisa saja mereka meninggalkan warisan-warisan leluhur yang dirasa sudah tidak relevan dengan masa kini. Contohnya tradisi Mapag Tamba, sebenarnya tanpa perlu melakukan ritual dan doa-doa, para petani dapat menolak dan mengusir hama padi dengan pestisida. Adanya Mapag Tamba yang eksis hingga hari ini tidak mengandaikan bahwa masyarakat Kabupaten Indramayu menjadi terbelakang dalam bidang pengetahuan agrikultural. Pelestarian tradisi oleh masyarakat Kabupaten Indramayu justru menandakan bahwa mereka punya keterikatan kuat dengan para leluhur mereka. Contohnya dalam tradisi Ngarot, tradisi ini memuat makna anamnesis yaitu mengingatkan tiap generasi bahwa pendahulu mereka adalah seorang petani. 

Korelasi yang berkelindan antara manusia dan budaya sejatinya membawa perubahan yang signifikan dalam relasi manusia dengan manusia lainnya. Manusia menciptakan budaya, dan manusia menggunakan budaya untuk menggerakan dinamika kehidupannya untuk sampai pada kesempurnaan, menurut Cicero (B. Sugiharto, 2019, 20-21). Dalam hal ini, manusia menciptakan budaya sebagai suatu proses pencapaian kehidupan yang ideal. Hal itu dimungkinkan karena manusia mempunyai tujuan kodrati, yaitu mengarah pada kebaikan Dalam hal ini kebaikan juga mengandaikan kebahagiaan. Artinya, dengan kebudayaan manusia harapannya mampu memenuhi tujuan kodratinya yaitu kebahagiaan.

Semangat Kekeluargaan dan Gotong Royong

Konsep keluarga batih biasanya terdiri dari formasi ayah, ibu dan anak. Dalam formasi ini biasanya tidak hanya menghasilkan afeksi yang melulu soal cinta, perhatian atau kasih sayang. Namun, dalam formasi ini juga tumbuh relasi yang mutual. kehadiran ayah dan ibu yang berpengaruh bagi pertumbuhan anak dan juga sebaliknya, atau kehadiran suami bagi istrinya dan begitupun sebaliknya. Simbiosis ini tentu menjadi konsep dan ciri keluarga yang umum dan ideal. Relasi mutual ini menjadi dasar bahwa kekayaan tradisi Kabupaten Indramayu tetap eksis hingga hari ini. Laiknya seorang anak yang menghargai orang tuanya, masyarakat Kabupaten Indramayu sangat menghargai para leluhurnya. Contohnya, masih eksisnya tradisi Ngarot, Ider-ideran dan Sandiwara.

Keluarga yang menjadi konsep dasar dari Kekeluargaan bukan hanya sebatas gagasan abstrak, melainkan suatu pandangan hidup bagi satu komunitas. Hal unik yang saya temukan selama satu bulan berdinamika dengan masyarakat Kabupaten Indramayu khususnya di Desa Pabean Ilir, Blok Tegur adalah semangat kekeluargaannya. Semangat ini tidak hanya dibangun atas dasar kesamaan visi dan misi, akan tetapi betul-betul dibentuk karena mereka masih terikat dalam satu garis keturunan yang sama. Pada mulanya, manusia pertama yang datang dan menempati Desa Pabean Ilir, Blok Tegur dikenal dengan sebutan Buyut Karmila. Selanjutnya, Buyut Karmila beserta istrinya beranak pinak dan masyarakat Desa Pabean Ilir, Blok Tegur saat ini masih keturunan langsung dari Buyut Karmila.

Bukan hanya memiliki kesamaan visi dan misi, tetapi juga di latar belakangi oleh kesamaan leluhur yang menjadikan mereka masyarakat yang guyub sekaligus masyarakat yang menghormati nilai dan tradisi kebudayaan para pendahulu mereka. Bisa dikatakan bahwa semangat kekeluargaan dan gotong-royong adalah suatu konsekuensi yang serta merta muncul karena mereka berasal dari satu keturunan yang sama. Meski dalam keluarga masih ditemukan konflik dan perpecahan, namun hal itu tidak menjadi efek domino dan ancaman bagi solidaritas yang selama ini mereka jaga dan lestarikan. 

Berita Terkini

Mengendalikan A.I. di Era A.I.

Mengendalikan A.I. di Era A.I.

UNPAR.AC.ID, Bandung - Hampir semua orang di dunia sudah familiar dengan teknologi Artificial Intelligence (A.I.) pun menggunakannya. Artificial Intelligence atau Kecerdasan Artifisial adalah mesin (komputer) yang memiliki kemampuan untuk berpikir dan bertindak...

Prodi Studi Humanitas UNPAR Terakreditasi Baik BAN PT

Prodi Studi Humanitas UNPAR Terakreditasi Baik BAN PT

https://www.youtube.com/watch?v=tPoNEuVdlLc UNPAR.AC.ID, Bandung – Program Studi Studi Humanitas Universitas Katolik Parahyangan telah memenuhi peringkat akreditasi “Baik” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) tertanggal 23 Januari 2024. Peringkat...

Kontak Media

Divisi Humas & Protokoler

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung 40141 Jawa Barat

Aug 22, 2022

X