Home / Alumni / Mengenal Ekonomi Pembangunan Lebih Dekat Bersama Bu Miryam
pembangunan

Mengenal Ekonomi Pembangunan Lebih Dekat Bersama Bu Miryam

Bu Miryam, Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan (Prodi EP Unpar) memulai karirnya di Unpar sejak 1986. “Yang membuat saya pertama-tama tertarik dan sampai sekarang membuat saya bertahan adalah semboyan ‘Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti’,” kenangnya hingga saat ini.

Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti’, yang berarti Berdasarkan Ketuhanan Menuntut Ilmu untuk Dibaktikan kepada Masyarakat merupakan sebuah sesanti, pedoman bagi sivitas akademika Unpar.

Kenangan lebih dari 30 tahun silam itu membekas dengan jelas diingatannya. “Saya ingat,” ungkapnya, lambang Unpar di halaman pertama ketika masa orientasi mahasiswa baru Unpar angkatan 1978. “Terus terang itu yang membuat saya terkagum-kagum,” kata beliau bercerita ketika pertama kali bergabung dengan Unpar sebagai mahasiswi Fakultas Ekonomi.

Pada saat itu, Bu Miryam mengambil jurusan Ekonomi Umum. Kecintaannya akan ilmu Ekonomi, mengantarkan beliau untuk melanjutkan perjalanan studi ke Belgia. Ia menempuh program master dan doktorat di negara yang beribukota di Brussel. Tentu saja, di bidang Economics. Setelah selesai studi, ia kembali ke Unpar untuk mengabdikan dirinya sebagai staf pengajar.

Bu Miryam yang bernama lengkap Dr. Miryam B.L. Wijaya, juga pernah menjadi Wakil Rektor Unpar pada masa jabatan Prof. Dr. Benny Suprapto Broto Siswojo (Rektor Unpar Periode 1998-2002) dan Pius Suratman Kartasasmita Ph.D (Rektor Unpar Periode 2002-2006). “Itu kedudukan yang tinggi. Di atas sana melihat Unpar berbeda dibanding ketika saya berada di jurusan,” ujarnya. Sebagai dosen, menurutnya, profesi dosen itu ada ketika berada di jurusan. “Dengan ada di jurusan kita lebih berurusan dengan mahasiswa, dengan mengajar, meneliti, ada di lingkungan mahasiswa,” ungkap beliau yang senang menghabiskan waktu luangnya lewat alunan musik dan buku-buku.

Apa itu Prodi EP?

“Lebih banyak orang yang akan keliru menjawab, kalo ditanya apa itu Ekonomi Pembangunan, daripada yang menjawab benar,” terang Bu Miryam.

Sebagian orang mengira, mahasiswa EP itu belajar berbisnis, membangun bisnis. “Prodi ini terlalu sering disalahartikan. Nama ‘Pembangunan’nya sendiri memang rada membingungkan. Seharusnya itu kan prodi ini namanya ‘Economics’, Prodi Ekonomi,” jelasnya.

Tetapi, di Indonesia, tambahnya, yang boleh ada (untuk didirikan), yaitu Prodi Ekonomi Pembangunan. Dalam hal ini, bukan Ekonomi secara umum. Lanjutnya, mahasiswa Prodi EP mempelajari baik teori Ekonomi Makro dan Mikro. Ekonomi Mikro berurusan dengan perusahaan dan lainnya, yang mana secara khusus belajar mengenai analisis mikro ekonomi. Misalnya saja, Ekonomi Strategi, salah satu mata kuliah EP. “Bidang ilmu ini membahas mengenai firm-oriented. Jadi, semua tentang firm,” ujarnya memberikan contoh. Tidak hanya berorientasi pada penerapan pembangunan negara. Di sisi lain, mahasiswa EP juga belajar tentang kebijakan fiskal, yang berfokus pada kenegaraan.

“Jadi, mengurusi negara iya, mengurusi perusahaan-perusahaan iya. Bahkan ngurusin UKM juga bisa. Jadi EP tidak identik dengan ngurusin cuman negara,” jelasnya memberikan kesimpulan. Secara umum, keunggulan Prodi EP Unpar, yakni mempelajari bidang ilmu Akuntansi dan Manajemen.

Lulusan EP masa kini

Jika diilhat dari segi keilmuan yang dipelajari, seyogyanya lulusan EP itu menjadi ahli ekonomi, “Jadi ekonom,” kata Bu Miryam. Zaman sekarang, untuk menjadi ahli ekonomi, lulusan EP dituntut untuk meneruskan studi lanjut hingga ke jenjang Strata III. “Kalo betul mau jadi ahli ilmu ekonomi, mutlak studi lanjut,” ungkap beliau yang kini mengampu mata kuliah Ekonomi Moneter Keuangan.

Sebetulnya, beliau mencoba meluruskan, lulusan EP itu memiliki peluang profesi yang luas. Jika tidak ingin menjadi ahli ekonomi, bisa bekerja di bidang bisnis. Lalu, apa bedanya dengan lulusan Manajemen?

Inilah yang menjadi keunggulan Prodi EP. Mahasiswa EP dilatih untuk memiliki kemampuan analisis, menelaah, juga problem solving. Bagaimana menggali suatu studi kasus hingga mencapai solusi. Tentunya, lanjut beliau, mereka (para mahasiswa) didorong untuk mendapatkan first-hand experience di perusahaan/lembaga tertentu agar mengetahui kondisi yang tengah dialami oleh instansi tersebut.

Selama masa perkuliahan, mahasiswa tentunya dibekali kemampuan dasar itu. “Diharapkan sudah dilatihkan cara berpikir, cara menganalisis. Diharapkan mereka adaptif untuk tahu dengan relatif cepat,” ungkapnya antusias.

Salah satu lulusan EP Unpar, kata Bu Miryam, kini menjadi direktur di perusahaan yang bergerak di bidang human resources di Singapura, yang juga menjadi visiting professor di salah satu program MBA bergengsi di Perancis.

“Lulusan EP kan bisa saja bergerak ke sana. Bukan hanya menjadi menteri. Tidak bisa semua orang menjadi menteri ekonomi,” terangnya.

Beliau menekankan, bahwa Prodi EP Unpar senantiasa berupaya untuk menghilangkan stereotype lulusan EP yang hanya bekerja di sektor pemerintahan. Padahal, peluang itu sangat luas, katanya, ahli ekonomi dibutuhkan di segala profesi. Bagaimana ahli ekonomi dapat mengisi berbagai posisi di perusahaan besar, kecil, bahkan multinasional. Ia berharap, mahasiswa dapat memiliki keterbukaan dan keluasan wawasan terkait hal ini.

First-Year Experience

Menjadi tantangan Prodi EP, yakni kebanyakan calon mahasiswa belum memahami dan mengenal EP Unpar lebih dekat. Karena itu, bersama tim dosen dan mahasiswa, Prodi EP secara rutin menggelar kegiatan sosialisasi pada masa orientasi mahasiswa baru (maba). Tidak hanya calon mahasiswa, juga ada pertemuan dengan orang tua maba pada masa orientasi tingkat universitas (SIAP).

Ia menjelaskan, “Pertemuan dengan orang tua ini juga sangat membantu untuk meluruskan (tentang EP). Tujuannya agar di awal paham tentang EP Unpar. Kegiatan, pembelajaran, prospek lulusannya seperti apa.”

Ada juga kegiatan yang berkoordinasi dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan (HMPSEP), acara kekeluargaan, fun (tour) keliling seputar kampus, hiburan games, perkenalan profesi, yang mana mengundang sejumlah pembicara dari mulai anggota himpunan mahasiswa, mahasiswa aktif, dosen, hingga alumni EP.

Ketika ditanya tentang perkembangan EP Unpar beliau mengatakan, untuk banyak hal dinilai baik

In general, we are in a much better situation than 5 or 10 years ago,” kata beliau jika diukur sesuai siklus Akreditasi Perguruan Tinggi (APT).

Mimpi EP lima tahun ke depan, ungkapnya, “Kami sudah bisa menyelenggarakan master ekonomi pembangunan.” Tahun ini, tim Prodi EP tengah mempersiapkan sosialisasi kurikulum baru dan persiapan akreditasi prodi.