Home / Berita Terkini / Melihat Sisi Lain Mahitala
Melihat Sisi Lain Mahitala

Melihat Sisi Lain Mahitala

Bagi sebagian besar orang, Mahasiswa Parahyangan Pencinta Alam (Mahitala) Unpar diasosiasikan dengan wadah berkumpulnya mahasiswa yang menggemari petualangan di alam. Hal ini terlihat dari berbagai program Mahitala yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat seperti ekspedisi pendakian tujuh puncak tinggi di dunia (seven summits expedition). Mahitala tidak hanya soal petualangan pribadi dan kelompok semata. Mahitala memiliki sisi lain yaitu kegiatan yang berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan.

Setiap tahun, Mahitala mengadakan Wandering Season, kegiatan pendewasaan dimana setiap anggota Mahitala melakukan ekspedisi sesuai dengan keahliannya masing-masing. Kegiatan yang berlangsung antara Juli dan Agustus ini mencakup mountaineering, climbing, caving, diving, rafting, dan pengamatan masyarakat tradisional.

Pengamatan masyarakat tradisional (PMT), merupakan kegiatan observasi terhadap suku-suku yang tinggal di pedalaman, dan masih menganut kepercayaan dan kebudayaan tradisional yang sangat kuat. Pada tahun ini, PMT diadakan di Pulau Seram, Maluku, dimana tim Mahitala akan hidup bersama dengan masyarakat suku Nuaulu selama kurang lebih dua minggu.

PMT bukan sekedar kegiatan mengamati masyarakat dari jauh. Pesertanya diharapkan untuk terlibat langsung dan merasakan kebudayaan dalam setiap sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Mereka akan tinggal, makan, dan menjalani keseharian, sesuai dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat. Nantinya, hasil dari kegiatan ini akan dipublikasikan kepada masyarakat umum, dan dilaporkan secara ilmiah kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Tidak mudah untuk mempersiapkan PMT, karena pesertanya membutuhkan pengetahuan yang baik tentang masyarakat yang akan diobservasi. Apalagi, masyarakat tradisional sendiri seringkali menjaga jarak dengan orang luar.

Mahitala tidak hanya belajar dari masyarakat dan lingkungan saja. Anggota Mahitala berkontribusi langsung untuk meningkatkan kehidupan masyarakat. Hal yang paling mudah adalah berbagi ilmu, dengan mengajar untuk masyarakat lokal. Selain itu, tim Mahitala juga membawa buku dan peralatan sekolah untuk anak-anak, seperti yang dilakukan di Bengkulu tahun ini.

Salah satu hal yang menarik dalam rangkaian kegiatan Mahitala adalah pembaharuan tali jalur pendakian di Puncak Carstensz (Carstensz Pyramid), Papua. Unik, karena tidak semua pendaki bisa melakukan hal tersebut. Pembaharuan tali terakhir kali dilakukan oleh Mahitala pada tahun 2014. Prosesnya melelahkan dan cukup membahayakan, apalagi di medan pegunungan Carstensz yang sulit. Tapi, dengan membaharui jalur pendakian, Mahitala berkontribusi dalam keselamatan para pendaki yang hendak menaklukkan puncak tertinggi di Indonesia tersebut.

Mahitala juga melakukan kegiatan konservasi langsung terhadap lingkungan. Salah satunya ketika tim diving dari Mahitala berkunjung di Kepulauan Seribu. Selain menikmati alam bawah laut, mereka juga turut serta memperbaiki terumbu karang yang rusak akibat perubahan lingkungan.

Saat ini, kawan-kawan Mahitala sedang mempersiapkan diri untuk menyambut anggota baru. Selain itu, dalam waktu dekat, tim Woman of Indonesia’s Seven Summits Expedition (Wissemu) akan kembali berangkat dalam ekspedisi menaklukan Vinson Massif, puncak tertinggi di Antartika.
(Wawancara dengan Maria Angela Handoyo, Mahitala Unpar)