Home / Berita Terkini / Melangkah Menuju Perguruan Tinggi Berkelas Dunia
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menyampaikan orasi ilmiah dalam rangkaian Dies Natalis ke-63 Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) di Bandung, Jumat (19/1/2018)

Melangkah Menuju Perguruan Tinggi Berkelas Dunia

Bandung, (PR),-

Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) tahun ini genap berusia 63 tahun (1955-2018). Perjalanan panjang itu telah membuktikan Unpar sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Kegiatan Dies Natalis pun digelar dengan mengusung tema “Sabanda Sariksa” (saling memiliki, saling peduli). Dan, bertempat di Aula Sekolah Pascasarjana Unpar Jl. Merdeka 30, Bandung, Jumat (19/1/2018) diselenggarakan kegiatan orasi ilmiah yang menghadirkan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir.

Topik yang diangkat pada orasi adalah “Solusi Kritis-Kreatif Pendidikan Tinggi dalam Pengembangan Iptek dan Peningkatan Daya Saing Bangsa”.

Hadir pada acara itu, Rektor Universitas Katolik Parahyangan Mangadar Situmorang, Ketua Yayasan Universitas Katolik Parahyangan BS Kusbiantoro, dan Koordinator Kopertis Wilayah IV Uman Suherman.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Katolik Parahyangan Mangadar Situmorang menuturkan, tepat pada Rabu (17/1/2018), Unpar genap berusia 63 tahun.

“Usia yang cukup panjang. Unpar tetap setia pada komitmen menjadi penyelenggara pendidikan tinggi yang utama, yang bermutu, dan yang berkualitas,” ujarnya.

Bahkan, Unpar patutu berbangga diri. Pada November 2017 lalu misalnya, Unpar resmi diberikan status peringkat akreditasi A oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Program Studi Akuntansi juga sudah terakreditasi internasional. “Prestasi yang luar biasa untuk Unpar,” katanya.

Mangadar pun memaparkan perjalanan perguruan tinggi yang sangat terkenal ini. Dia menjelaskan, pertama kali berdiri 1955 sebagai Akademi Perniagaan, terus berubah dan berkembang dari tahun ke tahun, termasuk penambahan fakultas hingga program pascasarjana.

Rektor juga mengungkapkan bahwa banyak tantangan ke depan, termasuk pengakuan internasional yang semakin diperlukan, penerapan digitalisasi, tuntutan kompetisi atau persaingan yang semakin ketat.

“Tetapi, semua muaranya bagaimana lulusan Unpar agar sungguh memiliki kompetensi yang diharapkan,” katanya.
Lebih jauh, ditegaskan, ini yang menjadi tugas dan tanggung jawab Unpar dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. Para lulusannya dapat berkontribusi bagi pembangunan masyarakat, bangsa, dan negara.

“Usia ke-63 kami melakukan refleksi dan sekaligus peneguhan komitmen Unpar untuk berkontribusi bagi pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia melalui pendidikan tinggi. Oleh karena itu, kebersamaan, kerja sama, dan dukungan segenap pihak sangat diapresiasi,” tuturnya.

Pihaknya optimistis terhadap tugas yang diemban. Saat ini, jumlah mahasiswa Unpar mencapai 10.400 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 9.000-an orang diantaranya program sarjana dan diploma, 300-an orang program magister, dan sekitar 100 orang program doktor. Sementara itu, ada sebanyak 371 dosen tetap Unpar. Rasio mahasiswa dan dosen sendiri sebesar 1:28 secara institusional.

Ketua Yayasan Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) BS Kusbiantoro mengingatkan pentingnya Unpar sebagai “jati diri” menjadi lebih baik. Menyikapi perubahan atau menghadapi era disrupsi misalnya antara lain dengan inovasi atau melakukan terobosan.

“Sekarang zaman now, zaman kalian. Memang kita harus kesana. Dan ini akan banyak perubahan. Bagaimana Unpar menjadi lebih baik pada jati dirinya,” katanya seusai acara.

Kusbiantoro berharap, dengan semangat “saling memiliki” dan “saling peduli”, pemerintah, PTS, PTN, dunia industry, dunia bisnis, dan masyarakat dapat semakin bersinergi dalam rangka mencerdaskan bangsa.
Revolusi industri.

Sementara itu, dalam paparannya, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menyoroti soal perubahan dunia yang tengah memasuki era revolusi industry 4.0 atau revolusi industry dunia ke empat, di mana tekbnologi informasi telah menjadi basis dalam kehidupan manusia.

Dalam kaitan ini, segala hal menjadi tanpa batas dengan penggunaan daya komputasi dan data yang tidak terbatas, karena dipengaruhi oleh perkembangan internet dan teknologi digital yang masif.

Nasir menuturkan, era ini juga akan mendisrupsi banyak aktivitas manusia, termasuk di dalamnya bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), serta pendidikan tinggi. “Inovasi harus didorong,” tegasnya saat orasi.

Dijelaskan, tantangan revolusi industry 4.0 harus direspons secara cepat dan tepat oleh seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) agar mampu meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di tengah persaingan global.

Kebijakan strategis pun perlu dirumuskan dalam berbagai aspek mulai dari kelembagaan, bidang studi, kurikulum, sumber daya, serta pengembangan “Cyber University”, penelitian pengembangan, hingga tentunya inovasi.

Dia mencontohkan, sumber daya manusia khususnya dosen dan peneliti serta perekayasa yang responsive, adaptif, dan andal untuk menghadapi revolusi industry 4.0.

Dijelaskan pula, tantangan perguruan tinggi ke depan antara lain bagaimana “Digital Talent” didorong. “Mudah-mudahan bisa dilakukan di Unpar,” tuturnya.

Dia juga memaparkan, iptek dan pendidikan tinggi harus dalam daya saing yang baik.

Kalau ini berkembang, Indonesia menjadi lebih baik. Selanjutnya, perguruan tinggi bisa tampil menjadi perguruan tinggi kelas dunia (World Class University).

“Saya rasa bisa berkembang menjadi rujukan perguruan tinggi-perguruan tinggi lain. Harapan saya, Indonesia tidak usah banyak (World Class University), sekitar 50 perguruan tinggi itu sudah hebat,” ujarnya.

Disebutkan nasir, Unpar ini merupakan perguruan tinggi yang sangat tua. Dia berharap, Unpar ke depan semakin maju, semakin berkembang.

Nasir pun berharap, Unpar menghasilkan lulusan yang berkualitas, juga bermoral. Selain itu, proses pembelajaran yang semakin baik. “Saya apresiasi setinggi-tingginya terhadap Unpar ini,” katanya.

Seusai orasi, diselenggarakan pula acara penyerahan piagam penghargaan dengan ragam kategori, seperti penghargaan untuk dosen pengguna IDE (Interactive Digital Learning Environment) dan program studi (prodi) dengan akreditasi internasional, penghargaan untuk dosen/peneliti yang melakukan pengabdian kepada masyarakat, baik di tingkat universitas maupun tingkat fakultas, presenter terbaik, poster terbaik, fakultas penyerah nilai tepat waktu, dan pegawai dengan masa bakti tertentu.

Beragam acara diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan. Selama perayaan Dies Natalis Unpar inirencananya digelar festival keragaman budaya Indonesia bertajuk “Bhinekaraya” selama sepekan pada 22 s.d. 26 Januari 2018. Festival tersebut akan dimeriahkan dengan seni budaya, fashion, dan sajian kuliner dari berbagai budaya di Indonesia.

Kali ini, Unpar merayakan hari jadinya dengan mengungkapkan rasa syukur dan keperduliannya terhadap masyarakat sekeliling, terhadap budaya tanah Parahyangan, maupun terhadap bangsa dan negara.

Sumber: Pikiran Rakyat (Senin, 22 Januari 2018)