MBKM Bela Negara Khas UNPAR, Pakar Dorong Peran Generasi Muda di Era Digital

UNPAR.AC.ID, Bandung – Kata wisdom atau yang lebih dikenal dengan kearifan memiliki sifat yang universal. Ketika kita berbicara tentang nilai atau keadilan di suatu tempat, tempat lain juga memiliki pemikiran yang sama terkait nilai tersebut. Di sisi lain, kearifan lokal merupakan praktik baik yang merupakan turunan dari yang universal. Maka dari itu, setiap daerah di Indonesia memiliki kearifan lokal. 

Selain itu, digital citizenship berbicara tentang kualitas individu untuk merespons sebuah hubungan sosial. Hal ini juga menjadi penting mengingat kita berada di dalam kehidupan ‘Global Village’ di mana manusia menjadi sangat dekat tanpa jarak satu dengan yang lain. 

Hal tersebut mengemuka dalam Seminar MBKM Bela Negara yang termasuk ke dalam rangkaian dari program MBKM Khas Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Bela Negara. Seminar bertajuk “Belajar Dari Masyarakat, Berperan Membangun Negara” berlangsung secara onsite di Mgr. Geise Lecture Theater  FISIP UNPAR pada Jumat (16/12/2022) lalu. Seminar tersebut menghadirkan 3 narasumber yaitu Sophan Ajie, S.S., M.Hum. selaku dosen UNPAR, Hasan Azhary, S.Psi., dan Zakiyah Samal, S.H. dari Wadah Titian Harapan.

Lebih lanjut, Zakiyah mengungkap bahwa gagasan digital citizenship dikembangkan oleh Microsoft dengan tiga konsep dasar yakni respect, educate, dan protect. Maka dari itu, Zakiyah berpesan bahwa sosial media mewadahi kebebasan berekspresi namun memiliki hukumnya sendiri. Untuk mengembangkan kehidupan yang bisa diterima, kita harus saling respect/menghargai dan belajar bersama. 

“Kembali lagi di sini, karena itu bukan sekedar medsos tetapi sebuah desa global di mana semua yang ada di situ saling kait mengait,” ujarnya. 

Melalui MBKM Bela Negara khas UNPAR, Zakiyah berharap generasi muda mampu menyadari peran dan tanggung jawabnya di era digital. Meskipun demikian, etika dan norma haru tetap harus menjadi landasan utama dalam bertindak pada interaksi global. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan terciptanya kehidupan digital yang harmonis. 

“Sehebat-hebatnya kita kalau tidak ada etika dan norma itu menjadi kacau,” tuturnya. 

Sementara itu, Sophan menyatakan bahwa kini banyak kaum muda yang memilih untuk menghindar, mundur, atau bahkan melimpahkan persoalan kepada orang lain. Melalui MBKM Bela Negara, mahasiswa diwajibkan mengambil peran untuk pemecahan masalah dan juga berkolaborasi bersama masyarakat untuk menganalisis permasalahan. Kemudian, mahasiswa mengambil peran untuk mengambil strategi yang berdampak dalam pemecahan masalah di lapangan. 

“Ini adalah upaya kita untuk proses belajar yang mendorong inovasi baru berdasarkan potensi pemecahan masalah,” ucapnya. 

Berfokus pada literasi, Sophan menyatakan bahwa kini literasi terbagi menjadi dua yakni literasi dasar dan literasi kontemporer. Kecakapan literasi ini menurutnya membutuhkan dukungan dari elemen terkecil yaitu keluarga yang berisi dari kumpulan individu.

“Setiap individu yang memiliki kecakapan simbolik atau kecakapan literasi bisa jadi di rumahnya dibiasakan bagaimana berinteraksi berdiskusi berpendapat,” ujarnya. 

Sejalan dengan hal tersebut, Hasan mengungkap bahwa kita harus merangkai/merajut peran kita dari sesuatu yang kecil terlebih dahulu yakni memahami diri sendiri. Ia juga mengungkap bahwa pada dasarnya manusia terdiri dari dua unsur yakni unsur jasmani dan unsur rohani yang harus tumbuh seimbang.  Menurut dirinya, stunting secara rohani/spiritual harus dihindari karena dampaknya bukan saja pada diri pribadinya tapi pada masyarakat banyak dan bahkan bangsa ini. Maka dari itu, dibutuhkan peran seorang individu.

“Setiap individu yang ada di bangsa ini punya kemampuan/potensi untuk mengambil peran untuk memperbaiki/menghindari stunting rohani.” ucapnya. 

Selain itu, Hasan menyatakan bahwa korupsi bukanlah sebuah budaya. Korupsi menurut dirinya merupakan suatu penyakit yang muncul dari stunting rohani. Penderita tentu tahu bahwa korupsi bukanlah hal yang benar namun mereka tetap melakukannya.

“Karena tidak cukup gizi rohaninya, sehingga terjadi korupsi,” katanya.

Maka dari itu, Hasan berpesan bahwa sudah seharusnya kita semua mengambil peran sekecil apapun dalam membela negara kita. 

“Menjadi tugas kita semua untuk kita ambil peran sekecil apapun dengan potensi yang Tuhan kasih kepada kita untuk menjaga ketahanan ideologi bangsa kita, dan untuk menghilangkan penyakit korupsi di masyarakat,” tuturnya. 

Sekedar informasi, MBKM Bela Negara khas UNPAR merupakan proses belajar yang mendorong inovasi baru berdasarkan potensi pemecahan masalah berbasis masyarakat demi pertumbuhan ketahanan ideologi, pengembangan kearifan lokal, ketahanan pangan, kesadaran anti korupsi interkulturalisme dan partisipasi kreatif digital citizenship. MBKM yang berlangsung di Kampung Braga dan Cicalengka Wetan Ini telah diikuti oleh 11 mahasiswa UNPAR dari berbagai program studi. (KTH-Humkoler UNPAR)

Berita Terkini

Prodi Sarjana Teknik Kimia UNPAR Raih Akreditasi Internasional IABEE

Prodi Sarjana Teknik Kimia UNPAR Raih Akreditasi Internasional IABEE

UNPAR.AC.ID, Bandung – Program Studi (Prodi) Sarjana Teknik Kimia Universitas Katolik Parahyangan berhasil meraih status bertaraf internasional. Status akreditasi internasional (General Accreditation) dari Indonesian Accreditation Board for Engineering Education...

Kontak Media

Divisi Humas & Protokoler

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Dec 20, 2022

X