Home / Alumni / MAHITALA: Mahasiswa Parahyangan Pencinta Alam

MAHITALA: Mahasiswa Parahyangan Pencinta Alam

8 April 1974 adalah awal pendirian Mahasiswa Parahyangan Pencinta Alam Universitas Katolik Parahyangan (Mahitala Unpar). Berdirinya Mahitala diprakarsai oleh sejumlah mahasiswa dari Fakultas Ekonomi (FE) Unpar. Hal tersebutlah yang juga menandakan warna bendera Mahitala mengikuti warna bendera FE Unpar, yakni warna kuning. Pada empat tahun pertama, Mahitala belum memiliki dewan pengurus, hanya ada tim pengurus dan pelopor. Oleh karena itu, penunjukkan Ketua Mahitala baru dimulai di tahun keempat.

Adalah Putri Atan Ketua Mahitala ke-40 yang membagikan cerita tentang Mahitala Unpar. “Waktu saya masuk Mahitala. Saya udah antusias banget. Mahitala keren karena ada ISSEMU. Waktu angkatan saya yang daftar ada 67 orang,” katanya ketika ditemui Tim Publikasi.

Ia mengungkapkan bahwa Mahitala tidak mengadakan seleksi khusus bagi calon anggota baru. “Di Mahitala ga ada seleksi khusus. Asal (calon anggota) mau lanjut terus (proses penerimaan). Ngikutin sampe akhir,” jelas Atan demikian ia akrab disapa.

Sejak awal bergabung dengan Mahitala, Atan memilih bidang rafting karena ketertarikannya bermain di medium air walaupun sebelumnya ia tidak pernah mencoba olahraga rafting. Menurutnya, olahraga yang satu ini membutuhkan kekompakan tim. “(Rafting) butuh kekompakan juga kan. Satu orang ngedayung bisa ngebelokin perahu,” imbuhnya antusias.

Bagi anggota biasa (in charge dalam kepengurusan Mahitala) lainnya yang tidak memilih rafting, sewaktu-waktu mereka ingin belajar, tim rafting akan memberikan pelatihan. Begitupun sebaliknya ketika tim rafting ingin mempelajari jenis olahraga lainnya. Adapun, kegiatan-kegiatan yang ditawarkan Mahitala Unpar meliputi mountaneering, rafting, climbing, caving, dan pengamatan masyarakat tradisional yang diselipkan di empat kegiatan lainnya.  

Diklatsar anggota muda

Anggota muda Mahitala yakni calon anggota baru Mahitala akan mengikuti kegiatan ekspedisi penerimaan melalui Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar). Diklatsar juga dikenal dengan bulan pengenalan kegiatan Mahitala. Setiap anggota baru dapat memilih secara bebas kegiatan yang ingin diikuti (mountaneering, rafting, dan lainnya). Selain itu, ada Wandering Season (musim pengembaraan) yang merupakan proses lebih lanjut dari Diklatsar.

“Diklatsar itu pendidikan awal buat mereka (anggota muda). Dasar-dasarnya kita kasih (seperti) pemberian materi terus pelatihan ke lapangan,” terang Atan.

Dalam kegiatan Wandering Season, anggota muda diberikan kebebasan untuk membuat perjalanannya secara mandiri yang akan berlangsung selama empat bulan. Atan mengatakan mereka memulai tahapan Wandering Season dari mulai mencari informasi, survey lokasi, latihan rutin setiap minggu, hingga mencari dana. Hal tersebut dilakukan agar dapat meningkatkan dan memperkuat mental para anggota muda. Pada akhir kegiatan, mereka akan mengetahui minat dan memilih divisi mana yang akan mereka ikuti nantinya.

Adapun keanggotaan Mahitala dibagi menjadi tiga, yaitu anggota muda (calon anggota Mahitala), anggota biasa (minimal 3 bulan mengikuti kegiatan Mahitala; memiliki nomor keanggotaan), dan anggota lama (alumni Mahitala; tetapi tidak mempunyai hak suara untuk mengatur kepengurusan Mahitala).

Abdimas

Selain melakukan kegiatan rutin, tim Mahitala Unpar juga secara rutin mengadakan kegiatan outdoor seperti kegiatan penanaman pohon di tebing Citatah 48, Bandung serta membantu korban bencana, seperti bencana banjir atau pencarian orang hilang.

“Kadang-kadang juga kalo misalnya ada bencana banjir, orang hilang, kita biasanya turunin tim buat bantu. Kayak kemaren ada orang hilang di Cikole, kita turut bantu juga,” ujar Atan.

“Taun lalu di Aceh yang banjir, kita bantu ngirimin tank air,” ungkapnya.

Atan berharap di masa mendatang Mahitala senantiasa mengadakan kegiatan abdimas yang beragam.

Dukungan untuk Wissemu

Sebagai Ketua Mahitala, Atan memegang peranan untuk melakukan koordinasi dengan pihak Rektorat Unpar serta Tim Support terkait dukungan untuk tim Wissemu. Ia mengungkapkan bahwa Tim Support yang terdiri dari anggota muda, biasa, dan lama memberikan dukungan penuh bagi dua srikandi Wissemu Fransiska Dimitri Inkiriwang (Dee Dee) dan Mathilda Dwi Lestari (Hilda).

“Waktu mereka sampai Everest, pengen nangis. Pas mereka nyampe terharu. Perjalanan mereka selama 4 taun akhirnya berhasil juga. Dan bangga juga sama Tim Support yang setia menemani,” kenangnya.

“Juga anggota Mahitala yang udah lulus, tetep mau bantuin. Kekeluargaannya kuat banget,” tambahnya.

Kolaborasi

Tim Mahitala Unpar tergabung dalam Forum Komunitas Pecinta Alam Bandung Raya. Komunitas ini secara rutin mengadakan sejumlah kegiatan bersama.

“Biasanya Mahitala juga ikut. Bahkan kita pernah camping bareng sama pencinta alam lain. Itu menjalin relasi sama mereka,” terang Atan. Ia mengaku bahwa antarkomunitas pencinta alam di beberapa universitas saling membantu satu dengan lainnya.

“Kalo kita butuh mereka, mereka siap bantu kita. Juga sebaliknya,” katanya.

Atas inisiatif sejumlah anggota Mahitala, sering pula digelar latian bersama dengan komunitas pencinta alam lain. Paling sering, ujar Atan, Tim Mahitala mengadakan latihan climbing bersama tim dari ITB. Selain itu, Mahitala juga pernah menerima kunjungan dari komunitas pencinta alam UPH.

Di masa mendatang, Atan berharap, tim Mahitala Unpar bisa terus mengembangkan kemampuan diri. Juga, akan semakin banyak inisiatif untuk ekspedisi-ekspedisi lainnya.

“Lebih berkembang lagi. Dalam hal pendidikan soft skill dan hard skillnya. Kalo aku lebih concern ke diri anggota Mahitala. Setelah ikut Mahitala apa sih yang didapet untuk kehidupan sehari-hari,” katanya.