Home / Berita Terkini / Mahasiswa Unpar Raih Prestasi di Ajang MUN Internasional

Mahasiswa Unpar Raih Prestasi di Ajang MUN Internasional

Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (HI Unpar) dalam dua ajang Model United Nations (MUN) bertaraf internasional di Thailand dan Filipina pada awal Juni lalu. MUN merupakan wadah minat, khususnya bagi anak muda dan mahasiswa, untuk mengembangkan kemampuan diplomasi dan negosiasi serta menambah wawasan lain seperti kemampuan berpendapat di muka umum (public speaking), bahasa Inggris, dan berpikir kritis.

Raihan Zahirah Mauludy Ridwan, Alya Regita Pramesti, dan Kireyna Samantha, mahasiswi HI Unpar angkatan 2016, masing-masing terpilih sebagai Chair United Nations Environment Programme (UNEP) serta penerima penghargaan Best Delegate dan Honorable Mention dalam rangkaian International Model United Nations (IMUN) 2018 di Bangkok, Thailand pada 1-4 Juni 2018. Selain itu, pada kesempatan yang berbeda Raihan juga terpilih sebagai Chair United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dalam Philippine International Model United Nations (PHIMUN) 2018 yang diselenggaraan di University of Philippine BGC, Philippine pada 8-10 Juni 2018. Kedua ajang tersebut diikuti oleh peserta dari berbagai negara di Asia Tenggara, hingga negara-negara yang jauh seperti India, Norwegia dan Inggris.

Ditemui Tim Publikasi pada Selasa (26/6), Raihan berbagi pengalamannya mengikuti kedua ajang internasional tersebut. Setiap MUN membawa berbagai tema global yang sedang hangat-hangatnya. Dalam IMUN Thailand, misalnya, permasalahan yang diangkat adalah menciptakan indikator yang paling tepat dalam pelaksanaan Paris Agreement dan Basel Convention. Di sisi lain, dalam PHIMUN, tema besar yang diangkat adalah pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khusus dalam panel UNESCO yang ia pimpin, ia menjelaskan, “Saya ditantang untuk memecahkan masalah, bagaimana cara melindungi situs bersejarah di dunia pada saat terjadi konflik di negara-negara tersebut.”

Berbagai persiapan dilakukan oleh Raihan maupun Alya dan Kireyna dalam menghadapi ajang MUN tersebut. “Yang pertama itu adalah research dulu,” jelasnya. Ia dan rekan-rekan satu tim harus paham materi, baik substansi dan prosedural dalam sidang. Apalagi dalam dua MUN terakhir, ia didaulat menjadi presiden sidang setelah melalui proses seleksi yang ketat. “Benar-benar diuji secara materi, secara substansi, secara kontribusi,” ujarnya.

Raihan mengajak mahasiswa-mahasiswi untuk berani mencoba berbagai hal baru, seperti berpartisipasi dalam MUN. Apalagi, dalam dunia global seperti yang kini terjadi, setiap orang harus mampu menunjukkan kelebihan yang ia miliki. Ia sendiri menegaskan, “Kita harus punya kelebihan, punya nilai plus, yang bisa jadi benefit bagi kita.” Untuk itu, sedari dini mahasiswa harus mengembangkan diri sesuai minatnya masing-masing. “Ga sesusah yang kita bayangkan, semua berproses bersama,” katanya.