Home / Berita Terkini / Lanjutkan Perjuangan Menapaki Denali

Lanjutkan Perjuangan Menapaki Denali

Women’s of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (WISSEMU) akan melanjutkan perjalanan menuju puncak tertinggi di Amerika Utara, yaitu Gunung Denali di Alaska. Upacara pelepasan dilaksanakan pada Jumat (9/6) di Pusat Pembelajaran Arntz-Geisse (PPAG) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), kemudian dilanjutkan dengan konferensi pers di Lobby Rektorat Unpar pada hari yang sama.

Srikandi WISSEMU yang terdiri dari Fransiska Dimitri Inkirawang atau Deedee dan Mathilda Dwi Lestari atau Mathil, berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pada Senin (12/6) menuju San Fransisco, California, Amerika Serikat. “Pendakian (akan dimulai) tanggal 18 Juni. (Kami terbang) ke San Fransisco dulu, kemudian Anchorage, langsung ke kawasan Gunung Denali. Summit push tanggal 30 Juni,” kata Deedee pada konferensi pers yang dihadiri oleh perwakilan Mahitala, dua srikandi WISSEMU, perwakilan sponsor dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan Rektor Unpar Mangadar Situmorang.

Disebutkan, berbagai persiapan fisik, mental, operasional, dan logistik telah dijalani sejak Maret lalu. Latihan kali itu tidak hanya lari jauh, lari trek, yoga, dan renang saja, namun juga bouldering, climbing, dan latihan beban. Selain itu, Tim WISSEMU memiliki persiapan khusus, yakni latihan sled.

Latihan ini dilakukan karena Denali National Park Service tidak memiliki jasa porter sehingga setiap pendaki harus membawa beban logistik masing-masing yang didistribusikan kepada ransel di pundak dan sled. Beban tas pada latihan sled seberat 25 kilogram, sedangkan sled itu sendiri sebesar 16 kilogram.

Medan Gunung Denali didominasi oleh gletser sehingga muncul risiko jatuh ke dalam crevasse. Maka, Tim WISSEMU mempelajari crevasse rescue untuk pertolongan pada pendaki yang jatuh ke dalam crevasse. Crevasse adalah patahan atau retakan pada lapisan es atau gletser, namun berbeda dengan celah yang terbentuk pada patu. Crevasse bisa ‘tak berujung’ atau cukup dangkal, juga bisa lebar atau sempit.

“(Kami merencanakan) spare days kalau ada cuaca buruk dan lain-lain sampai tanggal 7 Juli. Paling cepat kembali (dari pendakian) tanggal 3 Juli, paling lama 9 Juli. Dari sana pulang (ke Indonesia) tanggal 19 Juli, nyampe Indonesia tanggal 21 Juli karena di sana itu perbedaan waktunya hampir satu hari,” jelas Deedee.

Tim WISSEMU menentukan waktu pendakian berdasarkan musim pendakian. Deedee menjelaskan, musim pendakian Gunung Denali dimulai sejak bulan Mei hingga Juli. Tim memilih untuk berangkat pada bulan Juni, sebab bila mendaki terlalu awal masih cukup dingin. Sedangkan bila mendekati akhir musim menjadi terlalu panas karena crevasse akan terbuka sehingga risiko jatuh ke dalamnya lebih tinggi. Suhu di Gunung Denali terhitung ekstrem, yakni berada pada titik -60 derajat Celsius dan mencapai -83 derajat Celsius ditambah hembusan angin.

Mangadar berpesan kepada kedua srikandi WISSEMU untuk memperbanyak doa dan memegang teguh komitmen yang sudah dipilih untuk diri sendiri, institusi, bangsa, dan negara.  Adapun, ia meminta keduanya untuk tetap konsisten kepada tekad  untuk meraih yang terbaik karena Unpar, BRI, dan teman-teman Mahitala hanya bisa mendukung dari jauh. “You are the ones who do it. Kalian yang ada di sana. Kesuksesan kalian yang akan menunjukan kalau dukungan itu meaningful. Saya kira, insyaallah, dapat terlaksana dengan baik,” ujarnya bangga kepada Deedee dan Mathil.

Ketika ditanya mengenai proses terberat selama menjalani ekspedisi menapaki tujuh puncak dunia, Mathil menanggapi dengan proses latihan yang harus dijalani setiap hari dan menguras tenaga, terutama membagi waktu apabila sambil menjalani kuliah.

Menutup konferensi pers yang hangat siang itu, Deedee menambahkan, “Lebih baik berkeringat di medan latihan, daripada berdarah di medan perang. Itu salah satu quote yang selalu melekat.”

Sejak 2014 lalu, Srikandi WISSEMU telah berhasil menapaki lima puncak tertinggi di dunia, di antaranya Gunung Carstenz Pyramid (4.884 mdpl) pada 13 Agustus 2014 di Papua, Indonesia mewakili lempengan Australasia, Gunung Elbrus (5.624 mdpl) di Rusia pada 15 Mei 2015 mewakili lempengan Eropa, Gunung Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Tanzania pada 24 Mei 2015 yang mewakili lempengan Afrika, Gunung Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina pada 30 Januari 2016 mewakili benua Amerika Selatan, dan Gunung Vinson Massif (4.892 mdpl) pada 5 Januari 2017 yang mewakili lempengan Antartika.