Home / Opini / Kualitas Perguruan Tinggi

Kualitas Perguruan Tinggi

Aknolt Kristian Pakpahan – Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Katolik Parahyangan

Dewasa ini, banyak perguruan tinggi (PT) yang mulai memandang penting posisi alumni sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan perguruan tinggi.

Posisi alumni sangatlah unik karena walaupun mereka tidak lagi menjadi bagian aktif dalam proses pendidikan dan kehidupan PT, kiprah mereka di luar PT atau dalam dunia kerja mampu mencerminkan kualitas PT sekaligus mengharumkan nama PT tersebut.

Alumni tidak saja diharapkan memberikan kontribusi dalam kehidupan di masyarakat dengan ilmu yang mereka dapatkan selama menjalani proses pendidikan di PT, tetapi alumni juga diharapkan mampu membangun opini publik untuk menjaring calon mahasiswa baru untuk kepentingan perekrutan calon mahasiswa baru. Tidak hanya itu, ada peran strategis lain yang dapat dimainkan oleh para alumni yakni dengan memberikan berbagai masukan kepada PT untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan PT (kurikulum) sekaligus kualitas lulusan PT untuk masuk ke dalam situasi persaingan lapangan kerja yang semakin ketat. Tulisan pendek ini akan mencoba mengelaborasi peran dan kontribusi alumni dalam pengembangan serta peningkatan kualitas PT melalui media tracer study terutama berkaitan dengan era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

“Tracer Study”

Menurut Harald Schomburg dalam bukunya berjudul Handbook for Graduate Tracer Studies (2003), tracer study didefinisikan secara sederhana sebagai survey alumni atau survey lanjutan mengenai lulusan PT. menurut Bambang Setiabudi, Direktur ITB Career Center, tujuan diadakannya tracer study adalah untuk menyediakan informasi yang dapat digunakan untuk kepentingan evaluasi hasil pendidikan tinggi sebagai bagian dari upaya penyempurnaan dan penjaminan kualitas lembaga pendidikan tinggi. Melihat definisi dan tujuan diadakannya tracer study, terlihat nyata peran dan kontribusi alumni sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari PT. lebih lanjut, Bambang Setia Budi menyebutkan bahwa kegiatan tracer study sangat bermanfaat untuk: pertama, database alumni berdasarkan program studi/fakultas atau tahun masuk alumni tersebut. Kedua, sebagai alat evaluasi untuk melihat relevansi antara PT dan dunia kerja. Ketiga, sebagai masukan bagi perbaikan kinerja para staf dosen dan administrasi. Keempat, sebagai masukan perbaikan kurikulum. Kelima, sebagai bahan evaluasi untuk kepentingan akreditasi institusi baik nasional maupun internasional. Keenam, sebagai bahan pengembangan jejaring alumni.

Melihat banyak manfaat dilakukannya tracer study, sudah sewajarnya jika kegiatan tracer study dilakukan secara berkala dan berkesinambungan oleh lembaga permanen. Kegiatan tracer study dapat dilakukan dalam kurun waktu 1-2 tahun dari waktu kelulusan alumni dan kemudian dilakukan kembali pada rentang 4-5 tahun berikutnya. Jangka waktu ini dilakukan untuk bisa memberikan data akurat mengenai jenjang karier alumni tersebut.

Pengembangan kualitas

Dewasa ini alumni dipandang secara sederhana sebagai cerminan kualitas suatu PT. Ada anggapan sederhana, semakin bagun jenjang karier pekerjaan alumni, kian baik kualitas (dan kurikulum) PT tersebut. Anggapan ini sudah seharusnya ditinggalkan. Peran alumni sangat strategis dalam memberikan masukan secara berkala bagi pengembangan kurikulum dalam menyiapkan kualitas lulusan PT yang mampu beradaptasi sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Tidak dapat dimungkiri, banyak lulusan PT yang sebenarnya tidak siap bekerja dan tidak memenuhi kualifikasi standar yang diterapkan dunia kerja/dunia industry. Dimulainya era MEA 2015 baru-baru ini seharusnya menjadi langkah awal yang baik untuk mulai melibatkan para alumni dalam menyiapkan profil lulusan yang memiliki daya saing serta mampu bekerja sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. PT tidak boleh hanya terpaku pada kurikulum yang itu-itu saja, perlu ada inovasi pengembangan kurikulum secara berkala guna menyiapkan dan menghasilkan lulusan (alumni) yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Era Baru

Era MEA 2015 menuntut lulusan (alumni) PT untuk memiliki kompetensi khusus untuk dapa bersaing dengan profil lulusan PT lain dari negara-negara peserta kesepakatan MEA 2015. Meminjam istilah Presiden Joko Widodo (Jokowi), masyarakat Indonesia harus menjadi pemain dan bukannya penonton dalam era MEA 2015. Menilik kesepakatan mutual recognition arrangements (MRAs) yang terpusat pada delapan profesi: jasa teknik (insinyur), jasa arsitektur, jasa akuntansi, tenaga kerja keperawatan, tenaga medis, surveyor, dan tenaga kerja kerja di sector pariwisata, PT dapat memulai pengembangan dan peningkatan kualitas lulusan (alumni) untuk dapat bersaing dalam delapan sektor tersebut. PT mau tidak mau harus mengembangkan kurikulum yang mengadopsi kriteria-kriteria yang diatur dalam kesepakatan MRAs tersebut. Kemampuan berbahasa Inggris setidaknya sudah menjadi keharusan bagi para lulusan PT untuk bersaing dalam era MEA 2015. Kompetensi lain, baik hard skills maupun soft skills dapat diberikan mengacu pada masukan dunia kerja (industry) ataupun melalui para alumni.

Kegiatan tracer study sudah seharusnya menjadi kegiatan prioritas PT yang dilakukan secara berkala dan berkesinambungan. Era MEA 2015 menuntut lulusan PT dan PT untuk mampu memberikan jaminan kualitas sumber daya manusia yang mumpuni dan siap bekerja dalam situasi persaingan lapangan kerja yang semakin ketat. Semoga dengan kontribusi alumni melalui kegiatan tracer study lulusan PT Indonesia akan semakin siap berpartisipasi dalam era MEA 2015.

Sumber: Pikiran Rakyat – Opini (Selasa, 16 Februari 2016)