Home / Berita Terkini / Keterlibatan Unpar dalam Upaya Wujudkan Citarum Harum
Sumber: lldikti4.or.id

Keterlibatan Unpar dalam Upaya Wujudkan Citarum Harum

Citarum Harum merupakan program pemerintah untuk percepatan pengendalian pencemaran dan kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 15/Tahun 2018. Program Citarum Harum dibuat atas kekhawatiran akan keadaan lingkungan di wilayah sungai Citarum yang dinobatkan sebagai salah satu sungai terkotor di dunia yang viralnya film dokumenter yang mengisahkan tentang Citarum sebagai “the most polluted river in the world” yang dibuat oleh pemerhati lingkungan Gary Bencheghib, mendorong pemerintah RI untuk menggulirkan program tersebut.

Muncul kesadaran di kalangan pembuat kebijakan bahwa peranan akademisi dan perguruan tinggi dibutuhkan untuk mendukung keberlangsungan program Citarum Harum. Sebagai civitas akademik yang memiliki sesanti “Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti” yang berarti: berdasarkan Ketuhanan menuntut ilmu untuk dibaktikan kepada sesama, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) terpanggil untuk terlibat dalam program ini. Sejak menandatangani kesepakatan kerjasama di tahun 2018 dengan Sektor IX Citarum, Unpar telah menjalankan beberapa program dan kegiatan. 

Berawal dari KKL

Pada pertengahan tahun 2019, Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpar melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Tematik ke Citarum. KKL Tematik ini terintegrasi dengan dua mata kuliah Community Development dan Pembangunan Desa. KKL Tematik berlangsung selama satu bulan di mana mahasiswa berkesempatan untuk melihat langsung kondisi sungai Citarum yang tercemar dan berkomunikasi dengan masyarakat setempat. Mahasiswa ditugaskan untuk melakukan observasi dan menganalisis temuan menarik yang kemudian disusun menjadi laporan mata kuliah. 

Kemudian Unpar, diwakili oleh Sukawarsini Djelantik (dosen HI Unpar) dan Elvy Maria Manurung (dosen Manajemen Unpar) menghadiri acara “Citarum Expo” di Soreang (19/2/2019). Unpar diundang untuk mengambil komitmen dan turut berperan dalam restorasi sungai Citarum yang diprediksi akan segera rampung dalam kurun waktu 5 tahun program. Dalam acara ini, berbagai perguruan tinggi turut memamerkan hasil karyanya untuk program Citarum Harum, semisal teknologi pengolahan air, pemanfaatan sampah plastik, dan sebagainya.

Selain itu, Unpar bersama dengan Pusat Studi CHUDS (Center for Human Development and Social Justice) dan Program Magister Ilmu Sosial Unpar turut menggelar lokakarya bertajuk “Penyusunan Program Kerja Terpadu dari Unpar untuk Citarum” untuk dosen dan mahasiswa magister, serta menggelar acara “Unpar Movie Award” (7/5/2019), untuk film dokumenter bertemakan sungai Citarum yang ditujukan untuk berbagai perguruan tinggi dan masyarakat umum di Bandung dan sekitarnya.

Mendampingi Masyarakat

Peran akademisi dan perguruan tinggi dianggap cukup penting dalam mendiseminasi pengetahuan dan mendampingi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah sungai Citarum.  Pendampingan yang dilakukan membantu masyarakat untuk mengubah kebiasaan dan pola hidup yang kurang memperhatikan kebersihan dan kesehatan, seperti membuang sampah sembarangan atau mengkonsumsi air dan ikan-ikan yang tercemar di sungai Citarum, agar beralih mengembangkan perilaku hidup baru yang lebih baik. “Kaum akademisi dapat melakukan peran tersebut karena memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup, serta memiliki niat yang baik dan luhur untuk mengabdikan ilmunya bagi masyarakat sekitar,” jelas Elvy, selaku dosen yang terlibat dalam tim Citarum Harum Unpar. 

Hal ini dipertegas oleh  Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristekdikti) dalam seminar nasional mengenai Reduce-Reuse-Recycle di Soreang (11/2018) yang meminta peran serta seluruh perguruan tinggi di Jawa Barat dan DKI Jakarta untuk mengirimkan mahasiswanya melakukan kuliah-kerja-nyata (KKN) di desa-desa wilayah sungai Citarum. “Mahasiswa pun dinilai sesuai untuk mengamalkan ilmu dan keterampilannya pada masyarakat di wilayah Citarum yang membutuhkan bantuan mereka,” tutur Elvy. Hingga saat ini, terdapat 700 perguruan tinggi di Jawa Barat dan DKI Jakarta yang mendeklarasikan akan melaksanakan KKN Tematik untuk Citarum Harum. Dari 700 perguruan tinggi, terdapat di antaranya yang berlokasi di Bandung, yaitu ITB, UPI, Unpas, dan Unpar.

“Secara parsial, sebenarnya tidak ada hambatan atau kesulitan yang berarti dan ditemui. Dimana ada kemauan, di situ pasti ada jalan,” ungkap Elvy saat ditanyakan apa saja kendala yang dihadapi selama menjalankan program Citarum Harum. Elvy melihat bahwa Unpar memiliki potensi untuk berkontribusi lebih apabila tercipta sinergi antar program studi dalam merencanakan, mengkoordinasi, dan mengeksekusi program dengan keahliannya masing-masing.  “Namun dirasakan belum ada informasi yang lengkap dan transparan tentang hal-hal spesifik yang ingin dicapai sebagai goal utama atau bersama (Unpar) serta bagaimana pembiayaannya,” tambahnya. 

Rencana

Dalam kerangka waktu program Citarum Harum, Unpar masih memiliki agenda kegiatan yang belum rampung dan akan dilaksanakan. Unpar berencana untuk melakukan sosialisasi dan pemutaran film-film pemenang Unpar Movie Award ke masyarakat Sektor IX serta melakukan diskusi bersama masyarakat. Selain itu, inovasi yang ingin dilakukan untuk kelanjutan Unpar Movie Award adalah bekerjasama dengan stasiun televisi untuk menyiarkan film-film pemenang Unpar for Citarum Harum Award dan menjajaki kemungkinan dibuatnya serial TV yang menarik dan edukatif tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. 

Berdasarkan hasil evaluasi, KKL Tematik akan dikembangkan dan dibuka untuk seluruh mahasiswa Unpar dengan perencanaan kegiatan dan tujuan yang lebih baik dan tepat sasaran. Unpar juga berencana untuk turut mengembangkan potensi desa-desa di wilayah sungai Citarum menjadi desa wisata yang unik nan menarik. “Semoga kedepannya Unpar masih tetap berkontribusi dalam Program Citarum Harum, dan menindaklanjuti perjanjian kerjasama dengan sektor lain, khususnya Sektor IX di DAS Citarum sampai tahun 2023, dengan aksi-aksi yang lebih nyata dan tepat sasaran yang disertai informasi program atau agenda kerja dan pembiayaan yang lebih transparan,” harap Elvy. (MGI/DAN – Divisi Publikasi)