Kenali Tanda Anak jadi Korban Bullying, Berikut Bahaya serta Dampak Jangka Panjangnya

Perundungan atau yang lebih sering dikenal sebagai bullying adalah segala tindakan agresif baik bentuknya verbal, fisikal, sosial atau psikologis, dari seseorang yang memiliki kekuatan lebih kepada orang atau individu yang memiliki kekuatan lebih lemah dan biasanya terjadi pengulangan.

Bullying memiliki dampak jangka panjang yang sangat berbahaya terhadap korbannya. Dengan memahami bullying, berupa ciri-cirinya, tanda-tandanya, dan bagaimana cara mengatasinya, diharapkan masyarakat lebih peduli dan dapat mencegah terjadinya bullying

Hal tersebut mengemuka dalam acara Webinar Rise Against Bullying (RISING) 2021 yang diselenggarakan Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) melalui Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) pada (19/11/2021). Acara yang bertajuk “Say No To Bullying” tersebut mengundang Trisa Genia C. Zega, M.Psi., selaku praktisioner psikolog.

Trisa berkata, bullying berkaitan dengan sebuah pertemanan, terutama untuk orang-orang yang dalam proses pendidikan. Dalam pertemanan, terdapat kompleksitas yang berpeluang memunculkan adanya bullying. 

Namun bullying juga dapat terjadi pada siapa saja, lanjutnya, seperti saudara kandung, guru ke siswa, siswa ke guru, orang tua ke guru, orang tua ke anak, atasan ke bawahan, bahkan dari orang yang tidak dikenal sekalipun.

“Bukan hanya terjadi di sekolah, namun bullying dapat terjadi dalam dunia kerja. Selama di dalam suatu lingkungan terdapat relasi, dan pergaulan, maka terdapat peluang munculnya masalah bullying,” katanya.

Dia mengatakan sebanyak 40% anak-anak di Indonesia meninggal bunuh diri akibat tidak kuat terhadap bullying. Dimana 38.41% mengaku pernah menjadi pelaku tindakan perundungan siber, sedangkan 45.35% mengaku pernah menjadi korban. Maka yang terpenting untuk dilakukan adalah bagaimana lebih waspada terhadap kasu-kasus bullying.

Terdapat bentuk perundungan yang paling sering dilakukan kata Trisa, diantaranya adalah exclusion seperti pengucilan kawan, denigration seperti pencemaran nama baik atau fitnah, dan harassment yang bisa berupa meninggalkan komentar kasar atau meneror melalui pesan beruntun. 

“Dan biasanya memiliki kekhasan di setiap usia maupun pada jenis kelamin tertentu,” tutur Trisa.

Dia mengatakan ciri-ciri orang yang suka melakukan bullying adalah tidak suka apabila melihat orang yang bahagia. Pelaku bullying akan berusaha bagaimana caranya supaya korban menderita.

“Sebetulnya ada sesuatu hal yang terjadi kepada pelaku bullying ini sehingga mereka tidak ingin orang lain hidupnya bahagia,” katanya.

Trisa berharap supaya masyarakat lebih banyak yang menyadari bahwa bullying memiliki dampak yang serius terhadap korban maupun terhadap pelaku. Karena korban akan mengalami permasalahan dalam kesehatan mental. Bullying yang dialami oleh anak dapat terjadi secara terus menerus dalam jangka waktu yang panjang kata Trisa.

“Karena korban merasa tidak berdaya, dianggap bercanda, terjadi secara terselubung yang sulit dibuktikan, dan tidak ada yang menyadari bahwa ini bahaya,” tuturnya.

Terdapat tanda-tanda yang dapat dikenali pada korban bullying yaitu:

  1. Murung atau mengurung diri di kamar
  2. Malas ke sekolah/kampus dan berinteraksi dengan orang-orang terkait
  3. Luka, memar, baju sobek, tanpa sebab jelas
  4. Mengeluh sakit sebelum ke sekolah/kampus
  5. Sering kehilangan uang atau bekal makanan 
  6. Cemas dans, dan sulit tidur

Selain itu, hadir pula Natya Shina Nandana selaku Digital Content Creator untuk berbagi pengalaman seputar bullying pada ranah siber. Acara ditutup oleh pengumuman pemenang untuk lomba Foto, Video, dan Cerita Pendek RISING 2021. (Ira Veratika SN/RAM-Humkoler UNPAR)