Home / Berita Terkini / Kenal Lebih Dekat: Prof. Bambang Sugiharto, Berpikir Kritis, dan Filsafat Budaya

Kenal Lebih Dekat: Prof. Bambang Sugiharto, Berpikir Kritis, dan Filsafat Budaya

Berbicara tentang filsafat di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) juga di Indonesia, tentu tidak bisa lepas dari nama Profesor Bambang Sugiharto. Guru Besar Fakultas Filsafat (FF) Unpar ini dikenal sebagai ahli di bidang filsafat kebudayaan serta paradigma postmodernisme. Selama lebih dari 35 tahun, lulusan Doktor dari Pontifical University of Saint Thomas Aquinas, Italia ini berbagi ilmunya kepada mahasiswa juga kalangan umum.

Kali ini, Tim Publikasi Unpar berkesempatan mewawancarai beliau berkaitan dengan filsafat secara umum, serta pandangannya akan program filsafat kebudayaan yang akan segera dibuka di FF Unpar.

Mendalami Filsafat

Apa itu filsafat?. “Sekurang-kurangnya ada dua,” jelas Prof. Bambang. Filsafat bisa jadi khazanah pemikiran besar para filsuf, bisa juga sebagai cara berpikir yang mendasar. Keduanya memiliki korelasi, lanjutnya, karena, “Dengan mempelajari pemikiran-pemikiran besar para filsuf, kita berpikir mendalam dan mendasar secara rasional.”

Bagi beliau, filsafat jelas berbeda dengan teologi (ilmu agama) juga sains. “Filsafat itu pemikiran kritis secara nalar umum saja,” ujarnya. Ia mengandaikan para filsuf seumpama anak-anak, yang tidak pernah berhenti bertanya hingga melampaui batas kemampuan sains terukur. “Filsafat mencoba merenungkan pertanyaan-pertanyaan di luar kapasitas sains.” Karena itulah, tidak salah bila filsafat disebut sebagai ‘ibu semua ilmu’, sekaligus ujung semua ilmu. “Semua ilmu kalau dipikirkan lebih dalam akan jadi filosofis,” katanya.

Prof. Bambang mengakui, “Saya tipe orang yang suka merenung.” Selain itu, sejak di SMP pun bakatnya sebagai seniman telah terlihat. Misalnya, ketika ia belajar ilmu geometri yang telah jelas rutenya, guraunya, “Saya selalu cari rute lain.” Selepas sekolah, sempat terpikir di benaknya hendak menjadi Rama (Pastor) atau menjadi seniman, sebelum akhirnya memutuskan untuk menyelami filsafat.

Dalam kesehariannya, Prof. Bambang mengajar berbagai mata kuliah filsafat, khususnya yang berkaitan dengan filsafat kebudayaan. Misalnya saja postmodernisme sebagai filsafat budaya, cognitive science yang sentral dalam pergerakan kebudayaan, serta tentu pengantar filsafat, yang menurut beliau, “(Itu) basic ya, (yang) basic harus saya pegang.” Ia juga mengampu mata kuliah filsafat ilmu juga estetika.

Di luar perkuliahan, ia senang merawat dan ‘bercakap-cakap’ dengan tanaman, serta menonton film dan membaca novel.  “Novel, film, itu juga refleksi mendalam dari kehidupan manusia dalam bentuk cerita, images,” ungkapnya, sehingga ia tidak segan menyisipkan film dan bacaan fiksi dalam proses pembelajaran.

Filsafat makin penting

“Cara berpikir kritis, dalam arti mandiri, kalau di negara maju sudah menjadi seperti bagian mendasar dari kemodernannya,” jelas Prof. Bambang soal pemikiran kritis dalam keseharian. Memang, perkembangan pesat dalam masyarakat global menuntut pola pikir kritis yang, sayangnya, belum terlihat dalam masyarakat Indonesia.

Salah satu sebabnya, menurut beliau, adalah tidak berkembangnya budaya tulisan sebagai akar pemikiran kritis di Indonesia. “Begitu bangun kita menjadi modern, kita terjepit dengan paradigma budaya lisan,” tegasnya. Saat masyarakat diserbu budaya visual yang berkembang dengan teknologi informasi, masyarakat merasa ‘bebas’ berkomentar tanpa adanya pola pikir kritis hingga sampai ke titik yang chaotic. “Jadinya noise, noisy, keributan yang ngawur.”

Ini menjadi perhatian penting bagi FF Unpar, sehingga muncul langkah-langkah untuk memberikan wawasan singkat soal filsafat. Salah satunya dengan Extension Course Filsafat (ECF) yang telah diselenggarakan lebih dari 20 tahun. Peserta per angkatan ECF, kata Prof. Bambang, mencapai seratusan orang. “Kalau sudah sekian tahun, dari seratus itu kan berkembang juga,” tutur beliau. “Ada ripple effect.” Khusus mengenai agama dan kebudayaan, FF Unpar juga mengadakan Extension Course on Culture and Religion (ECCR).

Rintis filsafat budaya

Menjawab tantangan zaman, FF Unpar akan membuka konsentrasi kurikulum filsafat kebudayaan. Hal ini tidak lepas dari pergumulan manusia dengan kebudayaan yang sangat dinamis, dimulai dari konsep identitas, interaksi sosial, spasial-temporal, dan masih banyak lagi. “Di era modern dan postmodern ini,” tutur Prof. Bambang, “kebudayaan berubah total.”

“Praktis dengan itu semua, konsep manusia berubah,” jelasnya. Identitas kemanusiaan kini butuh perenungan mendalam serta mendasar. “Filsafat kebudayaan persis membicarakan hal-hal seperti itu.” Didukung oleh dosen-dosen yang telah terbukti memiliki basis kuat di bidang filsafat serta kebudayaan, diharapkan mahasiswa yang qualified dapat berkembang baik secara keilmuan juga aspek humanitasnya. “Ini potensi yang luar biasa.”

Lalu, apa saja potensi karier bagi lulusan filsafat kebudayaan? “Macam-macam kemungkinannya,” kata Prof. Bambang.  Ia mencontohkan, lulusan FF Unpar dapat mengembangkan diri sebagai kaum intelektual, seperti jurnalis, pengajar, novelis, kritikus budaya (culture critics), pegiat dan kritikus seni serta wirausahawan budaya (culturepreneur); juga bekerja di bidang komunikasi sosial sebagai copywriter, strategist, dan advertising. “Luas  sekali, (Anda) bisa merintis apapun di situ,” tambahnya.

Dengan konsentrasi baru ini, Prof. Bambang mengharapkan FF Unpar agar menjadi lebih fleksibel. “Bagaimana filsafat bisa berdampak lebih jelas bagi masyarakat,” ungkapnya, sehingga kita dapat mengejar ketertinggalan intelektualitas di Indonesia dengan cepat. “Barang sedikit (FF Unpar) bisa menyumbangkan secara signifikan ke arah perubahan keadaban,” pungkasnya.

***