Home / Berita Terkini / International Stastistical Analysis Conference 2018

International Stastistical Analysis Conference 2018

Program Studi Teknik Industri Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menyelenggarakan International Statistical Analysis Conference (ISAC), pada Kamis (8/11). Konferensi akademik yang diselenggarakan di Aula Gedung Pascasarjana Unpar tersebut mengumpulkan akademisi, praktisi, dan mahasiswa untuk berbagi ilmu mengenai kajian statistik.

Dengan mengusung tema “The Role of Statistics in Digital Marketing”, ISAC ingin memaparkan sekaligus memperdalam pengetahuan tentang kegunaan metoda statistik dalam industri digital yang semakin banyak memproses data-data untuk membuat keputusan bisnis dan manajemen. Pembahasan materi diawali dengan presentasi dari keynote speakers, yang dilanjutkan dengan sesi diskusi panel dengan fokus topik yang lebih spesifik.

Pembicara pertama yang mempresentasikan materi adalah Sani Susanto, PhD. Beliau yang merupakan dosen Unpar memaparkan dasar-dasar pengetahuan tentang hubungan ilmu statistika dengan bidang marketing di media digital. Beliau menggaris-bawahi fakta bahwa dengan analisis data menggunakan ilmu statistik, perusahaan-perusahaan modern dapat menentukan kebijakan dengan lebih tepat karena data sejatinya adalah input dari konsumen dan pihak lain yang terlibat. Dengan mengetahui hal tersebut, melalui pemisahan data mana yang signifikan dan interpretasinya, maka perusahaan bisa langsung menyediakan atau menampilkan kebutuhan dari konsumen.

Sani kemudian menuturkan bagaimana pentingnya memanfaatkan atau menjadi spesialis dalam marketing di bidang digital yang merupakan komposisi tak terpisahkan dari revolusi industri 4.0.

T.S Lim sebagai pembicara kunci kedua menceritakan hal-hal yang lebih bersifat teknis. Ia yang bekerja sebagai direktur senior di bidang penelitian kuantitatif untuk LEAP Research menceritakan bagaimana ia menggunakan data dalam sesi konsultasi bagi para klien yang ingin membangun strategi pemasaran.  Menurutnya, semua telah terintegrasi dengan hal-hal digital namun konsumen tidak menyukai iklan yang relevan dengan apa yang mereka minati sehingga strategi marketing tidak bisa asal menampilkan barang saja namun melalui beberapa aplikasi dan perhitungan. Para konsultan berupaya mencari pola tertentu dari para konsumen sebagai individu dan bukan kelompok.

Ia juga membahas bagaimana sejumlah aplikasi seperti Netflix dan JOOX selaku penyedia layanan hiburan film dan musik bagi anak muda juga berupaya untuk terus melacak kebiasaan dari para konsumennya menggunakan data statistik dalam melihat genre apa yang mereka sukai atau artis mana yang mereka ikuti.

Ia memberikan beberapa saran mengenai cara untuk mengelola bisnis kecil ataupun besar serta mengelola digital marketing terutama dengan sering memuat produk mereka di laman pribadi atau blog agar bisa dilacak oleh konsumen di sosial media.

Digital is not just technical, it’s a way of life,” katanya.

Sesi pembicara kunci ditutup oleh Bayu Seto. Alumnus TI Unpar ini mendiskusikan tentang bagaimana dalam dunia kerja, penilaian kualitatif yang didapat dari konsumen seperti ulasan dan komentar di laman-laman tentang produk tertentu akan diolah menjadi hasill kuantitatif. Hal ini menurutnya ditujukan untuk menyederhanakan tafsir dari data dan juga untuk mengomunikasikan informasi dengan bahasa yang lebih universal.

Bayu memberi contoh tentang penilaian produk buah yaitu nanas, yang mana ia harus melihat tentang usia buah, ukuran dan saturasi warna. Tidak hanya melihat dari subyektivitasnya semata. Inilah alasan kenapa banyak situs-situs pengolah data seperti Rotten Tomatoes dalam melakukan penilaian sebuah film menggunakan data kualitatif, memprosesnya menjadi angka numerik (kualitatif). Pada akhirnya, hasil tersebut memberikan pemaparan yang lebih sederhana kepada konsumen untuk menentukan pilihan dalam menonton film. Hal yang sama juga digunakan oleh Grab, Uber, dan juga Go-Jek dalam menilai para mitra (pengendara) mereka.