Integrated Arts UNPAR bersama Wot Batu Bandung mengadakan "Reka Rasa”: Lokakarya dan Diskusi Komposisi Rupa yang digelar pada 20,23, dan 24 Maret 2021. (Dok. Wot Batu Bandung)

Integrated Arts UNPAR: Aktualisasi Diri hingga Daya Tawar Pelaku Seni

Ketika banyak pekerjaan direbut oleh mesin cerdas, maka yang mesti terus dikembangkan adalah kreativitas. Itulah yang mendasari program Integrated Arts pada Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) dinilai relevan menjawab kebutuhan industri kreatif terkini.

Lima bidang seni yang disiapkan, bakal jadi padu padan yang pas sebagai skill set menjawab kebutuhan era kini. Mulai dari seni rupa & desain; seni pertunjukan; seni musik; manajemen seni & kuratorial; serta penulisan kreatif. Mempertajam lima bidang menjadi cara Integrated Arts UNPAR untuk menyiapkan generasi serba bisa menguasai berbagai bidang seni untuk mengimbangi perkembangan teknologi.

Mahasiswa Integrated Arts UNPAR pun berbagi cerita sebagai angkatan pertama dari program yang baru lahir 2020 lalu itu. Berada di bawah naungan Fakultas Filsafat yang terakreditasi “A”, mereka optimistis, Integrated Arts UNPAR membawa aktualisasi diri hingga daya tawar bagi mereka yang fokus sebagai pelaku seni.

Aktualisasi Diri

Bagi Rita Nauli Victoria Hildemina, dirinya sadar akan risiko memilih program baru dan pertama di Indonesia ini. Namun begitu, merampungkan impian sebagai pelaku seni jadi alasan utama menepis keraguan. Menurut dia, padu padan bidang ilmu seni yang ditawarkan Integrated Arts UNPAR jadi nilai lebih hingga dirinya memutuskan untuk memilih.

Rita yang telah menyelesaikan pendidikan Major Animal Nutrition, Faculty of Animal Husbandry pada 1999 di Universitas Padjajaran, memilih kembali ke kampus untuk menyelesaikan mimpinya 21 tahun lalu. Di antara lima bidang ilmu yang ditawarkan Integrated Arts UNPAR, mendalami seni musik jadi fokus utamanya sembari menekuni bidang seni lain sebagai asupan yang juga dibutuhkan.

“Saya sempat kuliah di bidang lain, tapi sepanjang perjalanan saya tetap merasa ada yang kurang. Saya merasa ini adalah bidang ilmu yang sebenarnya dibutuhkan para pelaku atau penggiat seni. Kalau masalah takut pasti ada, karena dijejali lagi dengan bidang seni lain. Tapi berangkat dari kenyataan di lapangan, sepanjang kita mengarahkan diri kita dan membuat interest tinggi, saya ingin kembangkan bidang lain bersamaan dengan musik itu sendiri,” kata Rita.

Era kini yang serba otomasi, tidak membuatnya khawatir dan kalah saing. Era revolusi industri, lanjut dia, perlu dipahami secara utuh sebagai peningkatan kapasitas manusia itu sendiri. Saat kecerdasan buatan jadi acuan, manusia sudah sepatutnya mempersenjatai diri dengan keahlian.

“Sebenarnya kalau ditanya khawatir, semua bidang itu mengkhawatirkan. Sekarang ada robot, mesin, apa manusia hanya duduk dan makan saja? Saya rasa tidak. Kecerdasan buatan saya rasa tidak akan bisa menggantikan manusia,” ucapnya.

Menurut dia, kebutuhan manusia itu tak terbatas, salah satunya adalah seni itu sendiri. Bidang apapun, lanjut dia, semua bergerak dari cara berpikir kreatif dan perkembangan teknologi tak harus dilihat sebagai sebuah hambatan tapi peluang mengembangkan diri.

Dia mengungkapkan, eksistensi manusia takkan habis dimakan zaman apalagi oleh kecerdasan buatan. Perkembangan teknologi tak perlu dikhawatirkan karena semua bidang pasti akan beradaptasi dengan hal itu. Walaupun semua disediakan oleh teknologi, tetapi sentuhan manusia tetap diperlukan. 

Menjadi Creativepreneur

Revolusi industri 4.0-yang kini-beranjak memasuki era Society 5.0 pun tak jadi soal bagi mahasiswa Integrated Arts UNPAR lainnya, Kasih Karunia Indah. Menurut dia, perkembangan teknologi harus sejalan dengan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten di bidangnya. Era revolusi, lanjut dia, juga bakal masuk ke bidang seni, sehingga membekali diri dengan kemampuan jadi solusi menjawab kebutuhan terkini.

“Saya memilih ini karena rasanya cocok dengan apa yang saya inginkan dan enggak khawatir bakal kalah saing dengan lulusan lain. Namun yang penting menikmati dan belajar hal baru. Mungkin awalnya takut, karena ini kan memang program baru, tapi setelah melihat tenaga para dosennya, saya jadi lebih yakin,” ujar Kasih.

Lapangan pekerjaan yang peluangnya terbuka di industri kreatif pun tak menyurutkan niat Kasih untuk menjadi seorang creativepreneur. Menjadi pelaku industri kreatif, tak bisa hanya dilihat dalam konteks kebutuhan ekonomi. Menuangkan kreativitas dalam sebuah karya pun menentukan arah perkembangan dunia seni nantinya.

“Saya ingin jadi creativepreneur, saya ingin melakukan apa yang saya suka tanpa terlalu terikat. Saya pun tidak takut dengan (kemampuan) lulusan dari jurusan atau program lain, toh pelaku kreatif terus dibutuhkan,” tuturnya. (Ira Veratika SN-Humkoler UNPAR)